0

Pengalaman Mengikuti Tes CPNS 2018 – Part 2 (0)

AfanZulkarnain January 20, 2021

Tulisan ke-35 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

(Jauh-jauh ikut tes SKD Ke Surabaya dan tidak tahu Passing Grade)

Alhamdulillah, aku dan kedua teman satu sekolah berhasil lolos seleksi administrasi. Kami pun mendapatkan jadwal tes tahap selanjutnya , yaitu SKD. Sayangnya, jadwal kami berbeda hari. Padahal awalnya kami berencana untuk berangkat bersama.

Beberapa hari sebelum tes, aku sama sekali tidak fokus belajar. Pekerjaanku di radio sedang banyak-banyaknya. Orderan iklan menumpuk dan harus segera tayang. Jadi aku hanya bisa memanfaatkan jeda iklan saat siaran untuk belajar. Aku hanya fokus belajar soal TIU dan TKP. Usut punya usut dua tipe soal itu yang paling sulit ditaklukan. Apalagi TKP, banyak yang gagal. Sedangkan TWK aku tak belajar banyak. Alasannya adalah aku tak pandai hal-hal yang berkaitan dengan hapalan. Aku hanya hapal beberapa pasal Undang-Undang Dasar.

Adalah Katrin, teman kuliahku yang menawariku untuk bersama berangkat ke Surabaya. Kami tes di hari dan sesi yang sama. Aku menumpang mobil yang ia sewa bersama kedua orang tuanya. Kami berangkat dari Banyuwangi usai sholat subuh. Di tengah perjalanan aku manfaatkan untuk belajar. Fokusku ke materi TWK. Aku sama sekali belum mempersiapkannya.

Alhamdulillah, kami sampai di lokasi satu jam sebelum tes dimulai. Sebuah hotel yang berlokasi di pusat kota Surabaya. Suasana hotel penuh dengan para pelamar CPNS. Sejauh mata memandang hanya terlihat orang-orang memakai seragam putih dan celana atau rok hitam. Necis dengan sepatu warna hitam. Sementara itu di lengan atas bagian kanan terpasang pita warna hijau. Beberapa orang asyik berswafoto, ada juga yang belajar, sementara aku dan Katrin asyik bercanda. Sekedar mengusir rasa gugup yang ada.

Namun beberapa saat kemudian kami terpisah. Aku meninggalkannya untuk ke toilet. Selepas dari toilet, ternyata seluruh peserta sesi itu sudah memasuki ruangan. Saya datang paling belakangan.

Saat memasuki ruangan, kami diminta untuk melecuti ikat pinggang. Kami juga tak boleh membawa alat komunikasi, dan berbagai perhiasan. Kami hanya diperkenankan membawa kartu peserta saja.

Setelah melewati beberapa lorong, aku tiba di ruangan yang cukup besar. Di sana para peserta diminta duduk di lantai secara rapi. Terpisah antara pria dan wanita. Aku berada di deret paling belakang. Beruntung, aku bertemu dengan pelamar yang satu kota denganku, bahkan satu kecamatan. Namanya Pak Ikhsan. Itu adalah awal kami berteman.

Selang beberapa menit kami diminta menuju ruangan tes. Kami harus melewati beberapa tangga dan beberapa lorong. Jujur, waktu itu aku merasa tak nyaman dengan celanaku. Aku memakai celana yang cukup besar. Karena tak boleh pakai ikat pinggang, beberapa kali aku berusaha agar celanaku tidak kedodoran. Hehe…

Kami tiba di ruangan tes. Aku dan Pak Ikhsan duduk di bangku belakang. Setelah mendapatkan aba-aba, akhirnya kami mulai mengerjakan. Aku mengawali dengan soal TKP. Alasanku soal seperti ini lenbih mudah dan cepat untuk diselesaikan. Aku bersyukur selama ini gemar membaca. Kebiasan itu membuatku cepat memahami maksud dari suatu soal yang panjangnya hingga beberapa alinea.

Setelah TKP aku beralih ke TIU. Soal matematika adalah santapanku. Alhamdulillah dapat teratasi.

Rasa percaya diriku goyah setelah melihat soal TWK. Sama sekali aku sulit mencerna. Otakku sudah terkuras oleh soal matematika. Apalagi TWK penuh dengan materi hapalan. Aku kesulitan dengan hal-hal berkaitan dengan hapalan. Alhamdulillah, semua soal terselesaikan.

Aku memandang Pak Ikhsan. Kami saling beradu pandang. Ia berbisik, “Bagaimana? Apa kita akhiri saja?”

Aku mengehla napas panjang. Aku berdo’a untuk diberikan yang terbaik. Aku mengatakan pada diriku, aku harus siap apabila aku gagal. Aku yakin Allah akan memberikan rencana indah untukku.

Kami pun bersama-sama mengakhiri tes. Beberapa saat kemudian muncul nilai. Pak Ikhsan tampak bahagia, nilainya bagus sekali. Ia mengatakan bahwa ia lolos passing grade.

Jujur aku sama sekali tak tahu tentang passing grade. Aku memang mengerti ada batasan nilai seseorang dinyatakan lolos SKD, tapi aku tak tahu berapa nilai batasan itu.

Di layar komputer muncul informasi begini, TIU 120, TKP 146 dan TWK 75. Aku tersenyum kecut. Aku sepertinya gagal di TWK. Satu-satunya yang nilainya di bawah 100.

Namun tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Dia adalah petugas. Dia mengucapkan selamat kepadaku. Dia mengatakan aku lolos. Ternyta nilai TWKku tepat diambang batas. Alhamdulillah, aku tak henti untuk bersyukur.

Aku dan Pak Ikhsan lolos ke tahap selanjutnya, SKB.

Kami pun keluar ruangan. Hari sudah gelap. Setelah saling berbagi nomor telephone, kami pun berpisah.

Aku mendapati Katrin menungguku. Dengan tawa khasnya ia mengatakan bahwa ia gagal. Saat itulah aku merasa tak nyaman. Aku yang menumpang mobilnya malah lolos, sementara Katrin tidak. Tapi Katrin tetap Katrin. Ia sama sepertiku, tenang dan easy going.

Kami pun langsung pulang ke Banyuwangi.

Tiba di kampung halaman pukul tiga pagi. Aku tak tidur setelah itu, karena pukul 5 aku ada bimbingan kelas 9 di sekolah.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar