0

Pengabdian Tanpa Batas di Era Penuh Batasan (0)

Alfina Nurcahyani October 24, 2021

Pandemi Covid19 memaksa kita untuk melakukan pembatasan sosial di segala bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Sejak ditemukannya kasus Covid 19 pertama pada bulan Maret tahun 2020, pemerintah mengambil tindakan dengan diberlakukannya pembelajaran daring / pembelajaran jarak jauh sebagai pengganti pembelajaran tatap muka di sekolah. Seperti namanya, pembelajaran daring tentu saja memanfaatkan teknologi sebagai perantara penyampaian materi pembelajaran oleh guru kepada siswa. Berbagai aplikasi pendukung seperti zoom, google meet, google form dan aplikasi lainnya menjadi aplikasi utama yang harus diakses guru dan siswa dalam pembelajaran setiap harinya. Dan untuk mengakses aplikasi-aplikasi tersebut tentu saja memerlukan gawai sebagai media utamanya. Hal ini pada awalnya menjadi polemik utama saat pembelajaran daring mulai diberlakukan. Para orang tua pun seolah dituntut untuk menyediakan paling tidak ponsel pintar untuk putra putri mereka agar tetap dapat mengikuti pembelajaran. Hal tersebut mungkin hal yang mudah bagi orang tua dengan kondisi finansial yang berkecukupan. Namun bagaimana dengan orang tua yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih kesulitan. Belum lagi jika dalam satu keluarga ada beberapa anak yang masih bersekolah dan harus mengikuti pembelajaran daring di waktu yang bersamaan. Hal tersebut tentu saja sedikit banyak membebani orang tua secara finansial pada awalnya.

Permasalahan yang sama juga menjadi concern utama bagi pembelajaran daring di desa. Terutama di desa dimana sebagian besar masyarakatnya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Sebuah desa di pinggiran Kabupaten Gresik, dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani atau pengrajin keranjang ikan. Di desa ini terdapat satu Sekolah Dasar dan satu Taman Kanak-kanak yang menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak desa tersebut. Sejalan dengan pemberitahuan mengenai pemberlakuan pembelajaran daring oleh pemerintah, membuat para guru di desa tersebut memutar otak agar anak-anak didik mereka tetap mendapat pendidikan yang layak di tengah pembatasan di era pandemi ini. Menilik fakta yang ada di lapangan, para guru sadar bahwa tidak mungkin untuk memberlakukan pembelajaran daring di desa tersebut. Tidak mungkin bagi mereka untuk memberikan beban finansial kepada para orang tua untuk menyediakan ponsel pintar untuk anak-anak mereka mengakses pembelajaran. Kondisi finansial yang sudah berat, akan semakin berat jika memaksakan untuk menyediakan fasilitas tersebut. Selain itu juga, sebagian orang tua yang bahkan tidak bisa baca tulis juga akan kesulitan untuk mengikuti pembelajaran daring di tingkat Taman Kanak-kanak yang mengharuskan peran serta orang tua karena usia peserta didik yang masih dini. Namun semua keterbatasan itu tidak lantas menjadikan para guru di desa ini menyerah pada pengabdian mereka untuk merangkai masa depan anak-anak desa yang juga merupakan generasi penerus bangsa ini. Mereka mewujudkan pengadian tersebut dengan program Guru Keliling, dimana para guru akan mendatangi rumah siswa untuk kegiatan belajar mengajar dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran, yang tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Diperlukan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mendatangi siswa satu per satu ke rumah. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi mereka asalkan para siswa tetap mendapatkan pendidikan yang layak di era penuh keterbatasan ini.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar