0

Penerapan Quantum Learning (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 12, 2021

Quantum learning merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakna. Quantum learning mendasarkan pada teori-teori pendidikan (Bobbi de Porter, 2009: 32)  seperti Accelaerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligences (Gardner), Neuro Lingusitic Programming ( Grinder dan Bandler), Experience Learning ( Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johson dan Johnson), dan Element of Efective Instruction (Hunter). Quantum learning dapat mempertajam pemahaman daya ingat karena dalam pembelajarannya merangkai dari semua teori pendidikan di atas menjadi paket yang multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak.

Quantum learning sebagai sebuah  model pembelajaran mempunya ciri-ciri kerangka pembelajaran yang dikenal dengan akronim TANDUR ( Tumbuhkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi dan Rayakan ), penjelasan kerangka TANDUR adalah sebagai berikut : Tumbuhkan, guru menumbuhkan minat siswa, membuat siswa tertarik atau merasa penasaran tentang materi yang akan kita ajarkan. Pernyataan menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka, mencari tanggapan “Yes” dan mendapatkan komitmen untuk menjelajah. Alami, guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Unsur ini member pengalaman kepada siswa, dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pengalaman memberikan kesempatan mengajar untuk memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan mereka. Informasi pengalaman ini membuat yang abstrak menjadi konkret. Namai, guru menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus , strategi dan sebuah masukkan. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan adalah saatnya mengajarkan konsep, ketrampilan berpikir, dan strategi belajar. Demonstrasikan , memberi siswa peluang untuk menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka kedalam pembelajaran yang lain, dan kedalam  kehidupan mereka. Ulangi, pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “ Aku tahu bahwa aku tahu ini”. Jadi pengulangan harus dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan, lebih dalam konteks yang berbeda dengan asalnya ( permainan, pertunjukkan, drama dan sebagainya). Rayakan, perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Sekali lagi, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Implikasi terhadap pembelajaran yaitu diterapkannya model Quantum Learning dalam pembelajaran. Model Quantum Learning mempunyai ciri utama yaitu yang dikenal dengan istilah TANDUR ( Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan). Ciri utama model quantum learning  diintepretasikan dalam suatu tahapan pembelajaran sebagai berikut : Fase 1, pembuatan kesepakatan dan penataan lingkungan belajar yang terbebas dari hambatan pembelajaran. (suasana menyenangkan, komunikasi terbuka, saling memiliki). Fase 2, menghadirkan pengalaman umum yang dapat dialami siswa . Fase 3, memberi nama atau kata kunci (simbol) kepada suatu pengetahuan dari pengalaman umum yang dihadirkan dalam bentuk visual objek rill atau peta konsep. Fase 4, melakukan presentasi hasil catatan atau peta pikiran pada fase 3. Fase 5, mendiskusikan presentasi catatan atau peta konsep. Fase 6, memberi pengakuan atau penghargaan hasil presentasi . Langkah-langkah tersebut di atas digunakan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam pembelajaran.

Referensi

DePorter Bobbi, Reardon Mark, Nourie Sarah Singer, 2010, Quantum Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Diterjemahkan oleh Ary Nilandri. Bandung. Kaifa.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar