13

Penerapan mLearning sesuai heterogenitas siswa (+7)

Bu Etna @gurutematik May 15, 2014

Selamat Sore Guraru. Insya Allah semua sehat wal afiat. Senyampang bulan pendidikan, kali ini saya ingin membahas tentang bagaimana membuat sumber belajar digital untuk m-Learning yang dapat dipergunakan oleh siswa baik secara mandiri maupun kelompok. Untuk menyusunnya tentu diperlukan banyak pertimbangan, terutama ketika siswa belajar sendiri di mana pun dia berada. Agar sumber belajar ini dapat bermanfaat bagi siswa secara menyeluruh, penulis harus memperhatikan heterogenitas tingkat berpikir mereka. Sumber belajar harus bervariasi dan mulai dari hal yang nyata. Banyak sumber belajar digital yang tidak dapat dipelajari sendiri oleh siswa, sebab terlampau abstrak atau contohnya kurang mengena. Hal ini merupakan tantangan bagi penulis.

Untuk siswa dengan tingkat berpikir konkrit, diperlukan contoh kehidupan sehari-hari yang dikenal dan dialaminya. Bukan berarti bahwa sumber belajar ini harus mudah dan berada pada tingkat berpikir konkrit saja. Sebab tingkat berpikir ini hanya melibatkan keterampilan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills, LOTS) saja. Menurut taksonomi Blooms hanya di tingkat C1 hingga C3, hafalan, pemahaman, dan aplikasi. Pembelajaran harus mampu mengakselerasi tingkat berpikir siswa dari LOTS ke HOTS, Higher Order Thingking Skills (Keterampilan berpikir tingkat tinggi). Ditinjau dari taksonomi Blooms, tingkat berpikir ini tergolong C4 hingga C6, analisis, sintesis, dan evaluasi. Apakah dalam sumber belajar diperlukan gambar, tabel, atau sejenisnya? Gambar, tabel atau lainnya dapat memberikan pesan lebih banyak dan mudah dibanding tulisan. Tentu saja gambar dan tabel tersebut harus jelas dan bermakna. Perlukah urutan pertanyaan yang mungkin dapat membimbing siswa? Bimbingan dalam bentuk urutan pertanyaan amat diperlukan, untuk mengakselerasi tingkat berpikir siswa dari LOTS ke HOTS.

Contoh mLearning berikut merupakan cuplikan pembelajaran dengan sumber belajar digital yang saya gunakan untuk pembelajaran melalui blog pribadi. Sebenarnya sumber belajar digital telah tersedia banyak sekali. Siswa dapat bebas mengakses dan memilihnya sesuai keinginan. Namun jika guru juga menyiapkan bahan ajar sendiri dalam blog, Insya Allah siswa lebih senang memanfaatkan blog guru. Bagaimana pun uluran tangan guru masih tetap diperlukan. Untuk siswa dengan tingkat berpikir konkrit masih sering memerlukan tutor sebaya dan guru.

Berikut beberapa foto yang menggambarkan proses mLearning kimia, dari pembelajaran yang dilakukan siswa secara mandiri/kelompok dalam mencari sumber belajar digital hingga diskusi dan konsultasi bersama saya di salah satu rumah siswa. Alhamdulillah jumlah siswa yang mengikuti mLearning banyak. Bagi siswa yang belajarnya di dunia nyata, kami dapat bertemu untuk mendiskusikan materi sulit. Sedang siswa yang hanya belajar di dunia maya, kami dapat berdiskusi melalui socmed, meliputi sms, BBM, chat di FB, whatshap, Skype, Line, atau twitter, bergantung pada keinginan mereka. Saya telah menyanggupinya. Pendidikan era digital ini sungguh luar biasa, Alhamdulillah.

Gambar 1: Dalam blog pribadi, http://etnarufiati.guru-indonesia.net saya telah menyiapkan bimbingan belajar untuk siswa konkrit dan formal. Selain blog pribadi, siswa dapat mencari sumber belajar yang lain. Salah satu sumber belajar yang juga saya gunakan terdapat dalam Google Play. Ke dua sumber belajar ini telah tersedia video pembelajaran, praktikum dan bimbingannya, termasuk proses industri besar atau home industry yang diharapkan dapat menginspirasi siswa.

Elektrolisis 3

Gambar 2: Praktikum dapat dilakukan secara sederhana di rumah dengan bahan rumah tangga. Praktik ini dapat pula diikuti secara bertahap melalui Google Play. Beberapa bimbingan praktik dan tuntunan pembahasan hingga menyimpulkan dan menerapkan hasil praktik juga saya siapkan di blog.

Bimbel Elektrolisis 1

Gambar pertama di atas adalah kristal prusi, tembaga(II) sulfat yang dijual murah di pertokoan. Gambar ke dua juga prusi yang berupa butiran kecil seperti gula. Bahan ini dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran Sel Elektrolisis. Harganya murah dan reaksinya tampak bagus sekali. Siswa melarutkan bahan ini dengan air yang ada di rumah, kemudian menyiapkan batang karbon untuk elektroda (diambil dari bagian tengah baterai mati). Alat-alat lain seadanya di rumah, siswa dapat memodifikasi. Sumber arus dapat digunakan baterai. Sel elektrolisis ini akan menghasilkan endapan merah bata, logam tembaga (Cu) di katoda. Warna biru larutan makin lama akan makin berkurang dan suatu ketika dapat menjadi biru muda hingga tak berwarna. Praktik ini mengasyikkan dan sering/selalu ditanyakan di ujian.

Gambar 3: Sekelompok siswa berikut yang dapat hadir saat membahas hasil praktik dan pendalaman serta pengembangan wawasan tentang sel elektro kimia. Saya berusaha memberikan pertanyaan secara urut dari data percobaan hingga bersama mereka menganalisis data tersebut. Secara bergantian, mereka diskusi kelompok dengan teman terdekat, kemudian melaporkan hasilnya. Saya menuliskan apa yang mereka katakan. Diantara laporan mereka, saya berikan selingan pertanyaan untuk membantu penalaran mereka.

Bimbel Elektrolisis

Gambar 4: Dari hasil mLearning, siswa menyimpulkan bahwa peristiwa elektrolisis dapat bermanfaat untuk memurnikan logam, seperti memurnikan tembaga dari tembaga kotor.

Elektrolisis Cu

Gambar 5: Selain proses pemurnian, siswa juga menyimpulkan kegunaan lain dari elektrolisis. Proses ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyepuhan benda yang kurang baik atau mudah rusak karena berkarat. Logam-logam ini dapat disepuh atau dilapisi logam lain yang tahan karat, missal besi dilapisi tembaga atau perak; tembaga disepuh dengan emas.

penyepuhan Cu Au

Gambar 6: Untuk menyepuh logam secara sederhana siswa dapat memanfaatkan alat-alat dapur. Mereka juga membuat laporan dalam bentuk tayangan power point dan membuat video. Katanya untuk sosialisasi ke masyarakat. Mereka menyepuh sendok garpu dengan perak dan ingin juga menyepuh benda dengan emas. Namun mereka akan mencoba membuat imitasi, seperti emas namun dengan aluminium berwarna. HOTS (Higher Oeder Thinking Skills), keterampilan berpikir tingkat tinggi telah tercapai dengan cukup lancar. Alhamdulillah.

penyepuhan sendok

Gambar 7: Kurikulum 2013 yang disusun berlandaskan era digital abad ke 21 ini Insya Allah dapat kita laksanakan dengan seoptimal mungkin. mLearning merupakan suatu pembelajaran yang terjadi di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja (where ever, when ever, who ever) dan sejalan dengan pendidikan seumur hidup (Long life education). So in Mobile Learning, Mobile Learner would be much better to use Mobile Device every where and every time.

imagesDSKDV7LV

Demikianlah cuplikan mLearning yang saya lakukan, baik di Dumay mau pun di Duta. Insya Allah bermanfaat.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (13)

  1. Thx so much Guraru atas votenya. Saya yakin bahwa Guraru sepakat dan mungkin sudah membuat sumber belajar digital untuk mLearning yang amat bermanfaat bagi generasi penerus. Marilah bulan pendidikan ini kita isi dg optimalisasi layanan bangsa. Insya Allah seluruh bangsa akan berbuat yg terbaik. Selamat beraktivitas. Salam sukses.

  2. Thx kpd guru dan siswa yg memanfaatkn web ini. mLearning sungguh luar biasa. Anak2 kampung yg tak dpt mengerjakn tugasnya krn tak mampu dpt kita layani dg baik. HP kia dpt menjadi hotspot hingga 8 devices. Berbagi itu amat indah. Mari bangsaku jadikn rumah kita sbg tempat belajar gratis. Salam super.

  3. Iya pak Nur, kita hrs hati-hati dlm menerapkn mLearning. Banyak anak mengeluh sebab sunber belajar amat bervariasi dan kurang arahan. Pembelajaran menjadi tak jelas dan anak banyak les. Taksonomi Bloom amat penting utk dpt melayani heterogenitas anak. mLearning amat bermanfaat utk melayani perbedaan cara atau gaya belajar anak. Thx responnya. Salam mLearning.

  4. Pak Nur saya sdh cek bhw taksonomi Bloom hingga saat ini msh mendunia, terus digunakn. Slow learner, low ability learner/student, ternyata dpt diakselerasi kognitifnya melalui layanan afektif dan psikomotor yg terpadu dg mLearning. Mrk suka ponsel/tab dll. Mrk dpt belajar optimal krn suka. Perbedaan individu dpt terpadu. Shg mLearning memudahkn guru. Variasi dan enjoy, rileks dll smua muncul otomatis. Nilai mrk sll di atas KKM. Subhanallah. Yuk lanjut ber mLearning. Salam super utk smua.

  5. Insyaallah bunda. Penerapan m-learning harus digerakkan dengan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan-pelatihan maupun secara mandiri. Siswa berbeda satu dengan yang lainnya (heterogen) perlu mendapatkan pembelajaran yang susuai, khususnya dalam m-learning ini. Bunda telah memberikan contoh yang sangat bagus. Terimakasih bu.
    Saya berikan “VOTE”.

  6. Amin ya rabbal alamin. Thx respon dan votenya pak Sukani. Iya mLearning hrs diterapkan sebab pembelajaran hrs sesuai jaman. Perbedaan individu siswa Insya Allah dapat terlayani dg baik melalui mLearning sebab mrk menyukainya. Heterogenitas siswa tak perlu dipaksa hrs diberi tugas yg sama dan dijejaskn dg cara yg sama. Open ended tugas amat mudah dg mLearning dan belajar bisa mandiri serta kelompok. Sbg fasilitator guru bisa tut wuri cara scafollding dlm cooperative learning dg melibatkn tutor sebaya. Dahyat lho pak mLearning itu. Allahu Akbar.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar