5

Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula (+2)

Ramdhan Hamdani November 16, 2013

Pelaksanaan pemilu yang hanya tinggal beberapa bulan lagi sejatinya kita jadikan sebagai salah satu ikhtiar dalam mencari sosok pemimpin bangsa yang mampu mengemban amanah dalam rangka mensejahterakan rakyat. Dalam konteks ini kita sebagai pendidik memiliki kewajiban moral dalam memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban politik warga negara kepada para peserta didik yang notabene adalah pemilih pemula.

            Berdasarkan data dari KPU, untuk pemilu 2014 mendatang  pemilih pemula yang sebagian besarnya adalah pelajar dan  berusia antara  17 sampai dengan 20 tahun mencapai 14 juta jiwa. Sedangkan jumlah pemilih yang berusia antara 20 sampai dengan 30 tahun adalah 45,6 juta jiwa. Berdasarkan data tersebut terlihat jelas potensi yang dimiliki oleh pemilih pemula dalam memilih calon-calon pemimpin bangsa yang akan  menentukan arah pembangunan selama lima tahun kedepan.

            Jika saja mereka tidak memiliki pemahaman yang baik tentang proses politik serta gambaran tentang jejak rekam parpol, dikhawatirkan akan mudah digiring untuk memilih caleg atau parpol tertentu yang sebenarnya belum tentu mampu untuk mengakomodasi aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, massifnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh kader parpol dikhawatirkan akan membuat remaja bersikap apatis terhadap politik yang pada akhirnya tidak menggunakan hak pilihnya alias golput.

            Untuk memberikan pengetahuan tentang proses politik tersebut diperlukan sebuah proses pendidikan politik kepada peserta didik agar memiliki pemahaman yang utuh. Dan ini bukan hanya tugas dari guru PKN semata namun tanggung jawab kita semua. Adapun bentuk pendidikan politik tersebut bisa berupa seminar sehari yang diselenggarakan oleh pihak sekolah dengan mengundang pihak KPUD setempat dan juga perwakilan dari beberapa partai politik sebagai nara sumber.

            Selain cara diatas, pendidikan politik juga dapat dilakukan melalui sosio drama yang dilakukan dikelas sehingga pembelajaran menjadi menarik. Dalam hal ini masing-masing siswa memiliki tugas sesuai dengan perannya masing-masing. Ada yang yang berperan sebagai penyelenggara Pemilu atau KPU, sebagai Caleg sampai dengan siswa yang berperan sebagai juru kampanye maupun sebagai rakyat biasa. Dengan begitu siswa diajak secara langsung berpartisipasi dalam proses politik. Selain itu tak kalah pentingnya adalah pesan moral tentang pentingnya proses politik yang disisipkan dalam kegiatan tersebut.

            Jika memungkinkan, dokumentasikan kegiatan tersebut kemudian upload ke Youtube. Dengan begitu mereka pun akan bangga karena penampilan mereka dapat disaksikan oleh orang banyak sekaligus dapat dijadikan inspirasi bagi siswa lainnya. Melalui proses pendidikan politik secara utuh kepada para remaja, kita berharap mereka tidak salah dalam menentukan pilihan karena merekalah yang akan menentukan maju atau tidaknya bangsa ini setidaknya untuk waktu lima tahun kedepan.

Ramdhan Hamdani

www.pancingkehidupan.com

About Author

Ramdhan Hamdani

Lahir di Bandung 30 tahun yang lalu, pria yang bernama lengkap Ramdhan Hamdani ini menghabiskan masa kecilnya dikota kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan SMU, pria yang akrab disapa Kang Dadan ini pun melanjutkan studynya pada tahun 2000 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Kesulitan ekonomi yang saat itu dialaminya tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Berbagai profesi sudah pernah dijalaninya. Mulai dari penjual koran, guru privat sampai dengan tukang becak pernah dilakoninya demi keberlangsungan kuliahnya. Ketertarikannya pada dunia komputer mendorongnya untuk mengambil kuliah jurusan Tehnik Informatika ditempat lain disaat kuliah di jurusan Bahasa nya masih berjalan. Kuliah mengambil dua jurusan sekaligus dan ditempat yang berbeda memang tidak mudah, tapi itulah yang dilakukannya. Pada tahun 2003, pria yang dikaruniai seorang istri ini pun berhasil meraih beasiswa pertukaran mahasiswa dari DAAD untuk menikmati perkuliahan di negara Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari sana, dia pun melanjutkan studinya di UPI dan berhasil menjadi wisudawan terbaik tingkat Fakultas pada tahun 2008. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadikan profesi pendidik menjadi jalan hidupnya. Berprofesi sebagai guru TIK di SDIT Alamy Subang dilakoninya sejak 4 tahun yang lalu. Selain aktif sebagai pengajar, pria yang beristri seorang guru Matematika SMA IT Assyifa Boardingschool Subang ini juga sangat produktif dalam membuat software-software untuk keperluan sekolahnya. Mulai dari software keuangan, absensi guru dan siswa, perpustakaan, pengolahan nilai dan software lainnya dibuat dengan tangannya sendiri dan dipersembahkan kepada lembaga sebagai bentuk pengabdiannya. Selain itu pria yang mempunyai hoby memancing ini pun aktif di berbagai media, baik cetak maupun media sosial dalam mengkampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya untuk menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan. Adapun beberapa tulisannya yang pernah dipublikasikan oleh media cetak antara lain : 1. Ironi Pendidikan Agama Islam ( Republika, 07 Januari 2013 ) Baca 2. Hitam Putih SNMPTN 2013 ( Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013 ) Baca 3. Antara Tim Sukses dan "Tim Sukses" ( Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 ) Baca 4. Sertifikasi Tanpa Isi ( Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013 ) 5. Mengubah Paradigma Kegagalan ( Republika, 20 Mei 2013) Baca 6. Ironi Tenaga Kependidikan ( Republika, 29 Mei 2013 ) Baca 7. Pelajar dan Tembakau ( Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 ) Baca 8. Reinkarnasi RSBI ( Pikiran Rakyat, 5 Juni 2013 ) 9. Pentingnya Orientasi untuk Orang Tua ( Republika, 22 Juli 2013 ) Baca 10. Politisi dan Ijazah Palsu ( Pikiran Rakyat, 03 September 2013) Baca

View all posts by Ramdhan Hamdani →

Comments (5)

  1. Penting ini, apa lagi tentang caleg. Saatnya generasi pemilih pemula itu kita dorong untuk lebih aktif mencari rekam jejak mereka. Bagaimanapun masa depan bangsa ini juga terkait dengan pilihan mereka akan pemimpin. Tks, salam!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar