3

Pendidikan Menyambut Era Kolaborasi (0)

Daniel Leonard Sinaga March 21, 2021

Oleh : Rachmad Hidayat

Ketika saya membaca surat edaran menteri tentang peniadaan UN dan ditetapkannya ujian sekolah, saya senang sekali. Satu hal yang saya acungi jempol adalah ujian sekolah yang fleksibel. Tidak banyak hal yang harus diatur. Mulai dari bentuk ujian dan penilaiannya diserahkan ke sekolah. Bahkan boleh portofolio semata.

Saya pikir edaran ini akan sangat memberi kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan bentuk ujian yang lebih kreatif. Komitmen mas menteri dalam kemerdekaan belajar menurut saya tercermin sekali dari surat edaran ini.Sayangnya, beda pusat dengan daerah.

Saya menjumpai beberapa daerah malah kebingungan dengan ditiadakannya UN. Sebagian menjadikan ujian sekolah sebagai pengganti UN. Sebagian yang lainnya membuat ujian pengganti lainnya. Ujian itu harus sakral, ketat dan penuh peraturan yang mengikat. Beberapa sekolah malah membuat sendiri evaluasi berbasis test yang membosankan. Dalih mereka biasanya adalah agar anak-anak tetap belajar meski tidak ada UN.Memang tidak mudah mengubah paradigma banyak orang tentang konsep merdeka belajar.

Banyak yang masih menganggap bahwa sekolah harus menuntut siswa mempelajari semua mata pelajaran. Mereka harus mencapai semua kompetensi yang diwajibkan. Kemudian membuktikannya dalam serangkaian ujian berbasis tes. Tak puas sampai situ, siswa masih harus dibandingkan antara yang satu dengan yang lain lewat sistem peringkat. Seolah mereka adalah kuda-kuda yang tak boleh berhenti berkompetisi. Agaknya mas menteri harus menghadapi banyak tantangan dalam menghadapi orang-orang yang gagal move on dalam memahami pendidikan. Tak akan mudah menyadarkan orang banyak bahwa daripada berkompetisi, dunia lebih butuh orang-orang dengan kemampuan berkolaborasi.

Saya akan berikan beberapa contohnya agar anda ikut menyadarinya. Dulu untuk memulai sebuah perusahaan taxi dibutuhkan banyak modal. Seseorang harus cukup punya uang untuk membuat lahan parkir, membeli puluhan taxi dan mengurus segala macam perijinan yang menelan banyak biaya. Perusahaan baru itu harus bersiap berkompetisi dengan perusahaan taxi yang baru ada. Bayangkan betapa susahnya mencapai satu tujuan tertentu.

Di era kolaborasi semuanya nyaris lebih mudah. Perusahaan seperti gojek atau grab tak perlu memiliki bagasi atau kendaraan. Mereka berkolaborasi dengan siapa saja yang siap menjadi drivernya. Motor atau mobil yang digunakan tak perlu ditempatkan dalam satu tempat. Cukup diamankan di garasi masing-masing drivernya. Dengan kolaborasi antara driver dan perusahaan seperti itu, perkembangan gojek dan grab menjadi luar biasa cepatnya.Dengan cara kolaborasi yang demikian tak ada penguasa tunggal otoriter dalam gojek atau grab. Di taxi konvensional, si bos pemilik perusahaan bisa seenaknya menentukan tarif dan menggaji karyawannya. Mereka seolah peraturan itu sendiri. Tapi dalam perusahaan yang dibangun dengan kolaborasi tak bisa demikian. Jika gojek atau grab semena-mena menentukan tarif maka bukan tidak mungkin mereka akan ditinggalkan olen pelanggan bahkan para drivernya. Sistem semacam itu hanya bergantung pada kebutuhan atau permintaan pasar.

Ada banyak contoh lain yang bisa kita temukan. Seperti toko online yang berhasil mengajak banyak orang untuk berjualan bersama dalam platform mereka. Dengan kolaborasi, perkembangan platform semacam itu luar biasa pesat. Bayangkan saja matahari mall yang harus menyediakan tanah dan bangunan gedung yang besar harus mengaku kalah dengan toko online seperti shopee baik dari harga maupun kelengkapan barang.

Satu hal yang menjadi suksesnya sebuah kolaborasi adalah kehadiran orang-orang ahli dengan kemampuan yang berbeda-beda yang mampu bekerja sama. Tidak akan ada gunanya jika toko online seperti shopee hanya diisi oleh orang-orang yang berjualan buku. Atau pada kasus grab dan gojek, butuh orang dari berbagai daerah untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Perbedaan kemampuan tiap individu itu menghasilkan kolaborasi yang semakin baik untuk menumbuhkan perusahaan. Seharusnya di sekolah juga demikian.

Kita mesti memperhatikan perbedaan kemampuan setiap individu. Ali-alih menyamakan kemampuan mereka, kita harusnya mengkolaborasikan kemampuan mereka dalam satu proses belajar. Agar anak dapat tumbuh sesuai potensinya masing-masing. Karena dunia mereka kelak membutuhkan banyak kemampuan yang berbeda untuk dikolaborasikan. Dan kolaborasi tidak bisa didapatkan pada pembelajaran yang bermuara pada serangkaian ujian-ujian berbasis tes sebagaimana UN dan sejenisnya.

Ujian-ujian semacam itu selayaknya sudah mulai dikurangi karena semakin lama hanya menjadi arena pertempuran kompetisi antar siswa. Kita bisa membuat sebuah ujian sekolah berbasis produk yang dapat dihasilkan dari kolaborasi siswa-siswa kita.

Lalu bagaimana menilainya? Bagaimana kita tahu, misalnya anak-anak memiliki kemampuan matematika yang cukup? Seorang guru matematika yang tidak bisa melihat matematika dalam proses pembuatan karya semacam ini sebaiknya segera berwudhu saja. Hehehe…

Ada banyak proses matematis yg dapat dinilai guru matematika. Misalnya bagaimana mereka memproses kayu yang panjang dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Bagaimana mereka menyusun kayu-kayu itu agar membentuk frame persegi panjang dan meletakkan papan di atasnya. Begitu juga proses-proses lain yang dapat dinilai oleh guru mapel lain.

Tentu, penilaian produk semacam ini tidak sedetail penilaian berbasis tes yang lengkap dengan hasil pekerjaan siswa. Tapi, jaman sekarang siapa sih yang butuh bukti dari selembar kertas yang mungkin sekali dikarang? Dunia saat ini butuh manusia yang mampu membuktikan kompetensinya dengan karya-karya yang dihasilkan. Itu sebabnya muatan keterampilan mulai mendapat porsi dalam K13 yang sebelumnya absen dari kurikulum pendahulunya.

Mau sampai kapan kita menjadi bangsa yang terus mengkonsumsi karya-karya negara lain? Apa nggak malu, di saat negara lain menciptakan produk untuk dijual dipasar bebas kita masih berfokus memproduksi jutaan lembar ijazah tiap tahunnya?

Comments (3)

  1. Iya benar sekali. Bahkan saat ini saja sekolah saya sedang melaksanakan tryout dalam rangka menghadapi ujian sekolah. Tentunya semuanya diselenggarakan oleh tingkat kecamatan. Hal itu seolah tidak adanya perubahan pola-pola pendidikan dari sebelumnya. Anak-anak masih saja dibayang-bayangi dengan rasa takut dengan nilai-nilai yang mereka peroleh dari menyelesaikan soal pengetahuan semata. Ortu masih saja bingung dengan mengikutkan bimbel kesana kemari demi anaknya dapat meraih nilai tinggi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar