0

Pendidikan Masa Kini Memanusiakan Akun Dunia Maya (0)

Hira Karmachela October 30, 2021

Bismillah. Praktik pembelajaran daring yang dikondisikan karena pandemi membuat saya semakin sadar akan makna pendidikan masa kini. Tulisan singkat ini merupakan refleksi dari kegiatan belajar mengajar yang saya lakukan selama masa pandemi dan masa adaptasi menuju pembelajaran tatap muka kembali.

Keunggulan Pembelajaran Daring

Di samping profesi guru, saya aktif berkarya sebagai seorang seniman digital. Oleh karena itu, praktik pembelajaran daring merupakan mimpi yang menjadi nyata bagiku.

Sejak lama saya memimpikan keunggulan yang hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran daring, yakni keleluasaan ruang dan waktu untuk kegiatan belajar mengajar. Semua proses yang bersifat administratif dapat dengan mudah dilakukan secara digital melalui sistem pengelolaan pembelajaran (LMS). Sistem digital sangat mengurangi prosedur cetak yang memakan banyak biaya dan waktu.

Kelemahan Pembelajaran Daring

Namun kenyataannya, teknologi hanya media dan bukan tempat tinggal sesungguhnya. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka di kelas, saya dapat mengerti karakter peserta didik dari cara mereka bertanya, menyatakan pendapat, dan menjawab pertanyaan yang tercermin secara utuh melalui nada bicara, raut wajah, tatapan mata, dan sikap tubuh. Semua indikator itu sulit untuk didapatkan jika hanya melalui pesan teks atau panggilan video saja. Secara psikologis, saya seperti sedang mengajar akun-akun dunia maya dan berusaha untuk menumbuhkan sisi kemanusiaan dari akun-akun tersebut.

Saya menemukan perbedaan karakter dari peserta didik saat berkomunikasi di dunia maya dan saat bertatap muka secara langsung. Hal ini dijelaskan oleh dr. Fatmawati melalui situs alodokter.com sebagai fenomena disinhibition effect.

Orientasi Peserta Didik Masa Kini

Alhamdulillah. Secara terbatas dan berangsur, pembelajaran mulai dikembalikan secara tatap muka di sekolah. Praktiknya di lapangan, saya dikondisikan untuk melaksanakan pembelajaran secara blended yang mana sebagian besar peserta didik telah kembali ke sekolah sedangkan sisanya masih memilih belajar dari rumah.

Hal ini tentu tidak mudah, peserta didik masa kini telah memahami kemudahan belajar yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Wajar jika timbul asumsi negatif pada peserta didik tentang mengapa mereka harus kembali ke sekolah.

Oleh karena itu sebagai guru, saya memaknai pendidikan masa kini sebagai masa orientasi untuk memanusiakan peserta didik dalam menghadapi era baru di dunia maya. Peserta didik dapat belajar dan mengakses jutaan informasi di dunia maya akan tetapi tentang kemanusiaan mereka harus kembali ke sekolah dan belajar secara langsung dari manusia (guru).

Humanisme dalam Kegiatan Pembelajaran

Saya belajar bahwa emoticon di media sosial tidak cukup merepresentasikan ekspresi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, senyum, sapa, doa, dan apersepsi di awal pembelajaran menjadi kegiatan kemanusiaan yang penting untuk selalu dilakukan.

Pada kegiatan inti pembelajaran, saya belajar menahan diri untuk tidak menjadi sumber informasi dan berusaha memandu peserta didik untuk menggali potensi dirinya. Teknologi hanya sebuah media, pendidikan masa kini berorientasi pada peserta didik.

Akhir pembelajaran di setiap pertemuan merupakan jembatan untuk pembelajaran selanjutnya. Oleh karena itu, saya berusaha untuk melakukan refleksi pembelajaran bersama peserta didik tentang kesulitan yang mereka alami selama proses pembelajaran.

Bagiku, profesi guru adalah proses belajar yang berkelanjutan untuk terus menggali dan meningkatkan kualitas diri. Terpujilah wahai engkau ibu dan bapak guru.

Barakallah fiik.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar