0

Pendidikan Masa Kini : Benarkah Guru akan Tergantikan? (0)

AfanZulkarnain October 23, 2021

Siswa itu bernama Febri, bukan nama sebenarnya. Dia murid ketika saya masih aktif mengajar di sebuah sekolah swasta dekat jantung kota Banyuwangi. Anak berkaca mata itu sangat pintar di segala mata pelajaran. Rasa ingin tahunya sangat besar. Dia tak akan berhenti bertanya sebelum benar-benar menemukan jawaban yang ia inginkan.

Suatu ketika, saya dikejutkan dengan cara Febri menjawab soal matematika yang saya jadikan pekerjaan rumah. Dia menggunakan cara yang tak biasa untuk anak SMP. Rumus trigonometri yang harusnya didapatkan anak SMA, ia gunakan untuk menjawab soal luas segitiga.

Penasaran dengan hal itu, saya pun mengajaknya bicara secara personal di lorong sekolah kala jam istirahat tiba. Sambil menikmati bekal, ia menjawab setiap pertanyaanku. Febri mengaku mendapatkan cara itu dari Youtube. Ia menyebutkan beberapa channel dan konten yang ia tonton. “Kalau di Youtube, penjelasannya asyik, Pak. Ada animasinya. Seru,deh. Aku cepet paham,” kata Febri sambil mengunyah makanannya. Pernyataannya sedikit menampar saya. Apa selama ini cara mengajar saya kurang menyenangkan,ya?

Ada satu kalimat yang ia lontarkan dan sampai sekarang masih saya ingat. “Pak, kalau semua ilmu sudah ada di internet, ngapain kita sekolah?”

Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Saya terdiam sejenak memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Belum sempat saya mengatakan sesuatu, petugas Tata Usaha memanggil Febri untuk suatu keperluan. Pembicaraan kami terhenti. Namun kalimat Febri terlanjur terpatri.

 Pendidikan masa kini tak lepas dari teknologi. Siswa dapat mengakses segala bentuk informasi dalam satu ponsel pintar. Lewat mesin pencari mereka mendapatkan sumber-sumber ilmu pengetahuan. Tinggal ketik kata kunci, mereka langsung mendapatkan pilihan situs penyedia informasi yang mereka inginkan. Berbagai situs internet pun menyajikan ragam ilmu yang mereka butuhkan. Tak mau kalah,  sosial media dapat menjadi rujukan. Di sana, siswa dapat menikmati berbagai macam konten pendidikan. Kondisi tersebut menjadikan guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Sekolah bukan lagi satu-satunya tempat untuk belajar. Wajar apabila ada siswa seperti Febri yang mempertanyakan untuk apa mereka sekolah jika ilmu sudah mudah didapatkan.

Kondisi tersebut menyisakan tanda tanya, apakah kedepan peran guru dan sekolah akan tergantikan?

Mengutip dari salah satu artikel yang dimuat Merdeka.Com, Guru menjadi satu diantara 10 profesi yang diprediksi akan hilang. Kemajuan teknologi kecerdasan buatan menjadi salah satu faktornya. Tanda-tanda prediksi itu mulai nyata. Kehadiran google, youtube, dan platform lainnya menjadi indikasi kebenaran artikel tersebut.

Ada beberapa pihak yang menampik anggapan guru akan tergantikan. Berbagai ragam opini bermunculan di dunia maya mengenai hal itu. Menurut mereka, secanggih apapun teknologi tak akan bisa menggantikan peran guru dalam mendidik moral anak bangsa. Teknologi mungkin bisa memberikan pengetahuan yang sangat luas kepada siswa, namun tugas mendidik hanya bisa dilakukan oleh guru.

Saya sangat setuju dengan anggapan bahwa untuk urusan pendidikan karakter, guru tidak akan tergantikan. Dewasa ini, kecerdasan akademik tak lagi menjadi penentu keberhasilan. Saat memasuki dunia kerja, siswa sangat membutuhkan kecerdasan moral dan emosional. Guru memiliki peranan besar dalam mengajarkan attitude yang baik. Seperti halnya kalimat yang dipopulerkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.

“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Di depan, seorang pendidik harus bisa menjadi teladan, di tengah murid, pendidik harus bisa memberikan ide, dan di belakang, seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan. Guru harus menjadi teladan. Guru harus menjadi panutan. Gerak gerik guru adalah contoh yang akan ditiru oleh siswa. Guru juga harus pandai memotivasi siswa untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan dengan kerja keras dan kejujuran. Guru harus humanis.

Namun, di era serba digital, guru tak boleh hanya berpuas diri dengan kenyataan bahwa guru tak akan tergantikan karena memiliki peran mendidik karakter anak bangsa. Bagaimanapun guru harus mengembangkan kemampuan diri. Guru harus memiliki semangat untuk belajar berbagai pengetahuan baru. Guru wajib mengikuti perkembangan teknologi.

Ada satu kalimat yang baru-baru ini populer. Guru memang tak akan tergantikan dengan teknologi. Namun, guru yang tertinggal tekonologi akan terganti.

Guru juga harus pandai-pandai menemukan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar itulah yang akan membuat siswa menjadi senang untuk belajar di sekolah. Mereka akan bersemangat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Kondisi itu akan membuat guru menjadi sosok yang dirindukan. Sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan.

***

Aku tak menjawab secara langsung argumen Febri. Aku menjawabnya dengan tindakan. Aku berusaha mengajar dengan berbagai metode yang menyenangkan, yang tak akan didapat siswa di dunia maya. Membuat komik matematika, video pembelajaran, bahkan membawa matematika ke dalam permainan. Itu adalah bentuk ikhtiar agar siswa seperti Febri memiliki anggapan bahwa teknologi digital memang menyediakan segala macam ilmu pengetahuan, tapi sekolah dan guru akan selalu dirindukan.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar