6

Pendidikan Anak Usia Pra-Baligh Menurut Hadis (+3)

Mushlihin September 7, 2013

Sebelum melanjutkan celoteh mengenai pendidikan anak usia pra baligh menurut hadis atau yang lebih di kenal dengan sebutan usia sebelum baligh, perlu diketahui bahwa usia pra baligh dalam prespektif ulama, dari standarisasi usia anak untuk menjadi seorang mukallaf atau sebagai tanda kedewasaan anak dalam berfikir. Hal itu tidak akan keluar dari definisi usia baligh dan pra baligh yang dikemukakan oleh ulama hadis.

Dalam hadis Nabi saw, definisi dan makna baligh dapat dilihat dari terjemahan hadis berikut:

“Aku menawarkan diriku kepada Rasulullah saw. Untuk ikut berperang dalam perang uhud, waktu itu aku berumur empat belas tahun, tetapi Rasul saw tidak mempekenankan diriku. Dan aku kembali menawarkan diriku pada waktu perang khandaq sedangkan aku (pada saat itu) berumur lima belas tahun, maka Rasul saw memperkanankan diriku. Nafi menceritakan, “lalu aku datang kepada Umar Ibnu Abdul Aziz yang pada saat itu menjabat sebagai khalifah, dan aku ceritakan kepadanya Hadis ini, maka ia berkata,” sesungghunya hal ini merupakan batas antara usia anak-anak dengan usia dewasa.” Kemudian ia menginstruksikan kepada semua gubernur agar mereka menetapkan kepada orang yang telah mencapai usia lima belas tahun (sebagaimana layaknya orang dewasa), dan orang yang usianya di bawah itu hendaknya mereka di kategorikan sebagai anak-anak.”

Dari keterangan hadis di atas dapat di pahami bahwa usia anak sebelum baligh atau usia pra baligh baik menurut ahli hadis secara esensial mempuyai satu pemahaman yang sama yaitu usia anak yang belum sampai pada umur lima belas tahun, karena dalam hadis di atas memandang bahwa umur lima belas tahun adalah umur pembatas antara anak anak dan remaja (baligh).

Dalam bahasan fikih di sebutkan bahwa anak yang belum pernah bermimpi bersetubuh hingga dia mengeluarkan air mani (sperma) dia termasuk anak yang belum baligh, begitu juga dengan anak yang mulai bermimpi bersetubuh hingga mengeluarkan air mani, dan dia berumur kurang lebih lima belas tahun keatas, maka usia anak tersebut bisa di namakan usia baligh.

Ilustrasi usia baligh

Ilustrasi usia baligh

Dalam mengkaji tentang pola pendidikan anak usia pra baligh yang ada dalam hadis Nabi tentunya harus melalui jalur-jalur alternatif normatif yang mampu mencari dan menelusuri hadis dengan baik, oleh karena itu pakar ilmu Hadis Syuhudi Ismail menjelaskan tentang cara mencari hadis berdasarkan topik masalah. Ada dua kamus besar yang menunjukan cara pencarian Hadis berdasarkan topik masalahnya, yang pertama adalah Miftahu Kunuzi as-Sunnati dan yang ke dua adalah Mu’jam al-Mufahras Li-alfadzi al-Hadisi an-Nabawiyyi.

Dalam Mu’jam, hadis Nabi menerangkan tentang pola pendidikan anak usia pra baligh baik secara eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat). Secara tematik ada beberapa hadis dalam pembahasan pola pendidikan anak usia pra baligh, yang di riwayatkan oleh beberapa perawi terkenal, yaitu Imam Abu Daud, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Turmudzi, ketiga perawi ini menceritakan hadis dalam substansi matan hadis yang sama.

Di antara Hadis yang membahas tentang pola pendidikan anak usia pra baligh adalah Hadis yang mana di dalamnya memuat tentang bagaimana cara orang tua dalam mendidik anak yang sesuai dengan kondisi psikologis anak, di sana terdapat beberapa pola yang termaktub dalam isi kandungan hadis tersebut.

Pertama adalah hadis yang di riwayatkan oleh Imam Turmudzi :

“Dari Abdul Malik bin Rabi’ bin Sabrah dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah saw berkata: Ajarilah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat, sedang ia berumur tujuh tahun, dan pukulah mereka karena meninggalkanya, sedang ia berumur sepuluh tahun.”

Kedua yaitu hadis yang di riwayatkan oleh Imam Abu Daud :

“Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah saw berkata: Suruhlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat, sedang ia berumur tujuh tahun, dan pukulah mereka karena meninggalkanya, sedang ia berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah di antara mereka dari tempat tidurnya.”

Ketiga, yaitu Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Bin Hambal dan diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Sunan al-Kubra

“Dari Rafi’ dia berkata: saya berkata: Hai Rasulullah apakah anak itu mempunyai hak atas kami seperti kami mempunyai hak atas mereka? Nabi berkata: Ya, Hak anak pada orang tua yaitu agar mereka mendapatkan pengajaran baca tulis, berenang, memanah dan mewarisi hal-hal yang baik.”

Kitab Rujukan: Rasyid Rhidha, Fiqh islam, (Jakarta: at-Thahiriyah, 1954), cet. XVII, h. 75. Imam Muslim, Shahih Muslim, juz II, (Beirut, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1996), hlm. 142. Abi Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Al-Jami’ as- Shahih, Sunan at-Ti rmidzi, Juz II, (Bierut, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1996), h, 259-260. Muhammad Abdul Aziz Al-Khalidi, Sunan Abu Daud, Juz I, (Bierut, Libanon: Dar Al-Kutub Al-ilmiah, 1997), h. 173.

Tagged with: , ,

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar