5

Pemilik Keberanian (+1)

Botaksakti May 7, 2012

Entah berita ini mengejutkan, menggembirakan, atau malah menyedihkan.Adalah seorang Maria Yohana Abi salah seorang guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMAN I Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, akhirnya mengundurkan diri sebagai guru komite sekolah. Pengunduran diri itu terjadi karena ia tak tahan ditekan oleh rekan-rekannya di sekolah tempat ia mengajar agar memberikan nilai fiktif(http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/01/08445143/Dipaksa.Beri.Nilai.Fiktif.Guru.Resign).


Yang menarik adalah bahwa Maria ‘hanyalah’ seorang guru Komite Sekolah atau bisa juga disebut sebagai guru honor. Sebagai guru Komite Sekolah, Maria hanya digaji dari iuran para orang tua siswa. Dalam banyak kasus, guru model ini tidak mendapatkan tunjangan apapun dari pemerintah.Sebuah ‘diskriminasi’ yang sepertinya sudah dianggap sebagai sebuah kelaziman.


Guru honor di sekolah negeri memang sering mengalami tindakan tidak mengenakkan. Seorang teman bercerita bahwa ia seakan-akan mendapat tugas tambahan yaitu menjadi ‘pesuruh’ atau ‘pelayan’ bagi guru-guru negeri di sekolah negeri tempatnya mengajar. Menurutnya, posisinya sebagai guru honor seakan menjadi legitimasi bagi rekan-rekan negerinya untuk memerlakukannya dengan suka-suka.


Kasus Maria bisa jadi hanyalah sebuah puncak gunung es. Ia menunjukkan bahwa sebenarnya ada banyak kasus dan kejadian yang sama di dalam dunia pendidikan kita. Bahwa ‘kecurangan’ justru dipelopori oleh pihak-pihak yang telah lebih ‘mapan’ posisinya dan bukan oleh mereka yang posisinya sangat ‘labil’. Ada sebuah anomali di sini, kenapa itu terjadi? Kenapa bukan pihak yang ‘labil’ yang melakukan itu demi mendapatkan sebuah kemapanan dalam kelabilannya?


Barangkali ini patut kita renungkan bersama. Dedikasi ternyata tidak serta merta melekat pada sebuah status seseorang. Untuk itu, ada baiknya semua pihak mereformasi pandangan yang membedakan status ini. Perlakuan yang selama ini berbeda hendaknya ditinjau kembali karena ternyata pilar pendidikan di negeri ini tak bisa diserhkan hanya pada sebuah status. Kemajuan pendidikan di negeri ini seharusnyalah diletakkan pada pundak-pundak mereka yang berani membawa perubahan dan berani menjaga prinsip. Dan bukan pada mereka yang sekedar suka mabuk puja-puji. Selamat dan terus semangat!

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar