8

PEMBELAJARAN SEJARAH YANG KREATIF (+3)

Rosiana Febriyanti May 12, 2015

Mendengar kata “Pelajaran Sejarah”, peserta didik seakan tidak peduli. Permasalahan pembelajaran sejarah di  sekolah yang katanya membosankan, karena mereka ‘merasa terpaksa’ menghapal nama peristiwa penting, tahun, dan pelaku sejarah. Terlebih lagi, mereka biasa terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan guru yang mungkin dianggap sebagai dongeng pengantar tidur. Belum lagi kesimpangsiuran informasi yang diperolehnya mengenai kebenaran sejarah yang sedang dipelajari, dikarenakan buku, penyusun, dan penerbit buku menyajikan informasi dengan tema yang sama namun dikemas dengan gaya yang berbeda. Jika peserta didik kita jeli dan kritis, mereka akan memandang sebelah mata pelajaran Sejarah, karena kebenaran sejarah yang selalu berubah sekehendak penyusun buku.

Sebagai guru, tentunya kita terbiasa membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Di dalam RPP, di bagian pendahuluan, biasanya kita menuliskan apersepsi, motivasi, dan invitasi. Sekarang pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar melakukannya atau sekadar menjalankan kewajiban sebagai ritual membuat RPP tahunan?

Urgensi mempelajari sejarah harus lebih dulu tertanam di benak para peserta didik. Hal itu bisa diawali dengan memutar cuplikan film bertema sejarah selama sepuluh menit. Misalnya, film yang menggambarkan suasana peperangan, adegan pejuang era 45-an yang tertembak saat berusaha menancapkan bendera merah-putih di atas benteng atau menara Belanda, mungkin bisa mendongkrak semangat para peserta didik untuk lebih menghargai sejarah.

Guru Sejarah bisa saja bekerja sama dengan guru Seni Musik untuk mengaransemen lagu yang bertema sejarah. Lagu itu bisa ditampilkan di kelas sebagai invitasi, mengundang perhatian peserta didik. Setelah peserta didik menyukai lagu tersebut, guru dapat mengajukan pertanyaan seputar lagu dan pertanyaan itu dapat berkembang tergantung pengalaman guru dalam mengajar.

Dalam kegiatan inti, biasanya guru menerapakan model atau metode pembelajaran, tetapi ada berapa model yang kita gunakan selain metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab? Pernahkan kita mencoba model drama atau role playing? Memang cukup menyita waktu, tetapi model ini bisa dilakukan di luar jam pelajaran sekolah atau di rumah. Guru meminta peserta didik membentuk kelompok drama yang terdiri dari 6-7 orang.  Kemudian guru dapat meminta peserta didik untuk berlatih drama di rumah dan mempraktikkannya nanti di kelas, di aula, atau di tempat yang lebih luas. Jika guru tidak sempat menilainya di kelas, guru bisa meminta tugas proyek membuat kaset/video rekaman dramanya saja, sehingga guru dapat menilainya di rumah. Intinya, peserta didik harus mengalami peristiwa belajar, dengan demikian mereka dapat mengingat peristiwa sejarah itu dan dijadikan pelajaran di kehidupannya kelak dan tidak mengulangi kesalahan para pendahulu kita.

Model Make a Match (Memasangkan Pertanyaan dan Jawaban) juga salah satu pilihan menarik untuk diterapkan di pembelajaran Sejarah. Potongan-potongan kertas kecil yang berisi pertanyaan dan jawaban ditebar di lapangan (di luar kelas), kemudian peserta didik berebut mencari pasangannya. Oleh kepala sekolah kami, ini disebut sebagai “Model Tawuran”, karena beliaulah yang biasa menerapkannya di kelas BIologi, kelas yang diampu oleh beliau. Namun tidak ada salahnya jika model ini pun dicoba untuk kelas Sejarah. Model “Talking Stick”, tongkat yang digilir ke semua siswa dengan bantuan lagu/musik, jika tongkat berhenti pada seorang peserta didik, maka dialah yang harus menjawab pertanyaan guru. Tongkat juga bisa diganti dengan balon, spidol, atau stik es krim, tergantung dari pengembangan guru itu sendiri.

Untuk guru yang mahir di bidang teknologi komputer, bisa membuat presentasi power point yang menarik dengan animasi kedap-kedip, link ke halaman slide lainnya, mengelink ke video atau musik. Guru juga bisa bekerja sama dengan guru TIK untuk membuat kuis dalam bentuk swf  yang nantinya bisa dikerjakan langsung di komputer yang ada di laboratorium komputer.

Sesekali guru Sejarah dapat meminta dengan guru Bahasa Indonesia atau salah seorang peserta didik untuk membacakan puisi kemerdekaan untuk menghadirkan suasana heroik ke dalam kelas Sejarah. Sesekali pula peserta didik dibawa ke museum, mendorong mereka mengikuti komunitas pecinta sejarah, mengikuti  kegiatan bazaar makanan tradisional dan pentas seni yang diadakan pihak museum (misalnya Museum Fatahillah), memilih museum sebagai lokasi pemotretan peserta didik untuk buku kenangan akhir tahun, field trip atau napak tilas tradisi penduduk Banten, atau mengikuti lomba penulisan karya ilmiah Sejarah.

Jika letak sekolah tidak jauh dari rumah salah seorang pelaku Sejarah, guru bisa meminta izin pihak sekolah untuk mengundang  tokoh tersebut sebagai narasumber dan peserta didik diminta menuliskan pengalamannya. Tulisan mereka dilombakan, dan tulisan terbaik akan menghiasi mading sekolah dan mendapat hadiah dari sekolah, selain mendapat nilai Sejarah. Itu semua adalah beragam alternatif pembelajaran kreatif yang bisa dicoba oleh guru dan tentu saja disesuaikan dengan kemampuan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan, baik dilakukan secara formal maupun nonformal.

Teman, artikel di atas adalah tulisan saya yang pernah dimuat di ROL REPUBLIKA pada 16 Maret 2013
Silakan mengunjungi tautan http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/03/18/mjqfjl-pembelajaran-sejarah-yang-kreatif.

Pengalaman saya mengukuti lomba menulis yang diadakan Sekolah Alam Cikeas saat itu membuat saya terdorong untuk terus menulis. Kendati saya hanya lolos sebagai juara 3, saya cukup bersyukur dengan hadiah 3 buah novel terbitan Republika, yang salah satunya berjudul Air Mata Tjitandui. Novel itu melemparkan saya ke masa lampau, benar-benar novel berlatar sejarah yang bagus. Luar biasa senang, karena sejak dulu, saya menyukai novel-novel berlatar sejarah, seperti Burung-burung Manyar-Y.B. Mangunwijaya, Bumi Manusia-Pramoedya Ananta Toer, dan yang berlatar budaya, seperti Upacara-Korrie Layun Rampan.

juara 3

 

Sebenarnya, awal saya menulis untuk lomba ini adalah sekadar menuliskan ide-ide yang terlintas dalam benak saya untuk saya terapkan di sekolah, tempat saya mengajar. Saya tawarkan kepada guru-guru IPS, tapi tanda-tanda untuk mengikuti lomba itu sepertinya terlewati karena jadwal padat mereka dalam mengajar. Akhirnya, saya berinisiatif untuk mengikuti lomba tersebut. Berbekal pengamatan saya terhadap guru-guru IPS dan metode mengajar yang dilakukan kepala sekolah, saya pun merangkainya menjadi sebuah artikel.

Ide-ide saya bermunculan seperti hendak keluar dari kepala saya, seperti keinginan saya mengintegrasikan pelajaran Sejarah dan Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, sepertinya keinginan saya sepertinya diaminkan pembuat konsep Kurikulum 2013. Bahasa Indonesia sebagai penghela pelajaran lainnya, termasuk pelajaran Sejarah. Kolaborasi saya dengan guru sejarah seperti gayung bersambut, bila ada role playing atau drama Sejarah, saya diundang guru Sejarah ke kelasnya. Ah, menyenangkan sekali bisa berkolaborasi dengan guru Sejarah. Di samping itu, saya juga pernah diajari guru TIK di sekolah saya untuk membuat kedap-kedip di Power Point, dan kedap-kedipnya saya pakai untuk presentasi pelajaran Bahasa Indonesia.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Guru Ngeblog di www. guraru.org

Baner-Guraru2

Comments (8)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar