8

Pembelajaran Moral Lewat Pertunjukkan (0)

AfanZulkarnain January 6, 2021

Tulisan ke-7 Tahun 2021

Penulis: Moch Afan Zulkarnain

Selain sebagai sarana hiburan dan media ekspresi, teater memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan. Setiap naskah yang dipentaskan, selalu ada pesan, entah tersirat maupun tersurat, yang membuat penonton dapat memetik pelajaran tentang kebaikan. Itu yang selalu aku sampaikan kepada anak-anak yang mengikuti ekstra teater di sekolah tempatku mengajar dulu. Maka sebelum kami membuat naskah, aku menanyakan hal ini kepada mereka, “kalian ingin memberikan pesan apa?”

Pernah suatu ketika, kami diminta menampilkan suatu pertunjukan pada pentas seni sekolah. Aku mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai konsep cerita lewat grup WA. Aku memulai dengan kelimat, “Pesan apa yang ingin kalian sampaikan?”

Ada banyak masukan. Pentingnya kejujuran, indahnya persahabatan, tidak boleh mencontek, dan lain-lain. Kami terlibat perdebatan dalam daring. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memakai semua ide mereka. Kami menampilkan pertunjukkan yang terdiri atas berbagai cerita yang berbeda dengan karakter utama yang sama.

Aku menyampaikan konsep ceritaku. Mereka setuju, bahkan ada beberapa siswa yang mengusulkan ide tambahan.

Alhamdulillah, dalam beberapa hari saja, naskah terselesaikan. Kami akan mengangkat cerita mengenai konflik malaikat dan setan. Keduanya menjadi tokoh sentral. Malaikat senantiasa mengajak manusia ke arah kebaikan, sebaliknya setan mengajak ke arah keburukan.

Cerita pertama, mengenai persahabatan beberapa anak. Setan menghasut salah satu di antara mereka hingga mereka terlibat perkelahian. Setan sangat tertawa melihat mereka saling bermusuhan. Namun, malaikat baik berhasil meyakinkan bahwa mereka harus menjaga persahabatan yang telah mereka jalin selama ini.

Cerita kedua, mengenai siswa yang kebingungan mengerjakan soal ulangan. Setan membisikinya untuk mencontek. Terlebih dia bersebalahan dengan anak pintar. Namun, malaikat baik berhasil menuntun siswa tersebut untuk bersikap jujur saat ulangan.

Cerita ketiga, megenai seorang siswa yang menemukan suatu dompet berisi banyak uang. Setan menghasutnya untuk mengambil isi dompet tersebut. Si anak sempat tergiur, namun akhirnya malaikat baik berhasil meyakinkannya untuk mengembalikan dompet tersebut ke pemiliknya.

Kami meramu cerita-cerita tersebut dalam suatu operet. Ini adalah kali pertama kami menampilkan genre itu.

Seperti biasa, kami akan Lyp Sinc, sehingga kami harus rekaman. Namun kami terkendala waktu. Saat itu liburan semester akhir pertama, banyak anak yang keluar kota untuk merayakan natal bersama keluarga. Maka, aku memutuskan untuk rekaman secara online hehehe. Aku meminta mereka mengirimkan voice note dialog masing-masing peran sesuai naskah. Untuk memudahkan mereka, aku mencontohkan terlebih dahulu intonasinya agar sesuai dengan “nyawa” cerita. Alhamdulillah, mereka sangat antusias, seluruh dialog terkumpul tak kurang dari satu jam.

Kemudian giliranku untuk melakukan edit dan mixing seluruh voice anak-anak. Aku juga menambahkan musik yang saat itu populer agar lebih menarik.

Seminggu sebelum hari pertunjukkan, aku meminta mereka berlatih di sekolah. Mereka sangat berlatih keras. Dari berlatih menampilkan mimik wajah hingga koreografi. Ada keinginan dari mereka untuk menampilkan yang terbaik.

Hari pertunjukan tiba. Pentas seni berlangsung meriah. Anak-anak menampilkan performa terbaik mereka.

adegan setan sedang menghasut seorang siswa untuk mengambil uang dalam dompet yang ia temukan
adegan setan membisiki seorang anak untuk mencontek, namun malaikat baik mampu menuntunnya untuk bersikap jujur saat ulangan

Setelah pertunjukkan terakhir, kami memberikan doorprize kepada penonton. Ada hadiah yang kami sediakan dari peralatan tulis hingga snack. Door prize itu diberikan untuk penonton yang bisa menyampaikan amanat dalam cerita.

“Tidak boleh mencontek,Pak.”

Ada juga yang menjawab, “Kita harus jujur.”

Ada pula yang memberikan jawaban kocak,”waspadalah…banyak setan berkeliaran dis ekitar kita.” Kontan jawaban itu memancing gelak tawa penonton.

Setelah pertunjukkan , aku kumpulkan anak-anak. Satu kebiasaan yang tak boleh ditinggalkan: evaluasi. Aku memberikan pujian kepada mereka yang telah menampilkan performa luar biasa. Aku juga memberikan sedikit saran untuk mereka yang ekpresi wajah maupun aktingnya yang kurang maksimal.

“Apa yang membuat penampilan kalian luar biasa tadi?” tanyaku.

Seorang siswa menjawab tegas, “Saya senang bisa menyampaikan pesan untuk penonton agar terus melakukan kebaikan, Pak.”

Kalimat itu sungguh sangat membuat aku bahagia. Ada rasa bangga pada diri anak-anak ketika mereka mengajak orang-orang untuk melakukan suatu kebaikan. Saat itu aku merasa bahwa fungsi teater sebagai sarana pendidikan telah tercapai. Baik pemeran maupun penonton dapat memetik pelajaran moral dari naskah yang dipentaskan.

Sekarang, ekstra teater sudah tidak ada. Setelah aku pindah karena lolos seleksi CPNS dan ditempatkan di luar kota, ekstra ini dibubarkan. Anak-anakpun pun sudah lulus semua. Mereka sudah di bangku SMA. Namun, alhamdulillah, komunikasi kami masih terjalin. Sampai saat ini. Selamanya.

Comments (8)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar