0

PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN MODEL SSCS (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 12, 2021

Mutu pendididikan IPA, berkaitan dengan banyak faktor antara lain kompetensi guru, efektivitas proses pembelajaran, ketersediaan fasilitas pendidikan serta tingkat motivasi belajar siswanya.  Namun pada kenyataannya dalam dunia pendidikan memperlihatkan bahwa pembelajaran pada umumnya bersifat ekspositoris, verbalistik dan cenderung hanya menggunakan papan tulis, kurang upaya untuk melakukan demonstrasi, eksperimen dan bentuk peragaan lainnya dalam pembelajaran (Firman,H., 2000). 

Salah satu penyebab kegagalan siswa dalam proses pembelajaran adalah karena siswa tidak pernah dirangsang untuk mencari, menemukan, dan mengeksplorasi sehingga siswa dapat belajar tidak hanya di sekolah namun juga dapat menggunakan alam semesta, lingkungan dan teknologi yang ada di sekitarnya.

Sumber belajar yang tersedia secara online sangat berlimpah dan bervariasi. Kepiawaian dalam memilih dan memilah sumber belajar menjadi tuntutan mutlak di era teknologi informasi sekarang ini. Guru dan siswa harus jeli dalam memilih sumber belajar yang tersedia secara online. Guru sebagai fasilitator harus mahir dan menguasai betul substansi materi yang di ajarkan agar tidak tergoyahkan oleh beberapa informasi yang terkadang sesat.

Penggunaan teknologi di bidang informasi tidak dapat dibendung lagi. Peralatan teknologi informasi berupa Handphone, Tab, dan PC sangat familiar dengan siswa. Melarang siswa menggunakan peralatan tersebut menjadi sesuatu yang sangat berat. Yang bisa dilakukan adalah dengan mengendalikan dan mengarahkan penggunaan alat komunikasi secara bijaksana. Siswa perlu tahu alamat situs yang bisa dipercaya dan tidak.

Belajar menjadi suatu beban bagi siswa karena materi yang dipelajari tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari (tidak kontekstual). Belajar hanya merupakann sekumpulan informasi yang harus dicerna oleh siswa tanpa ada kebermaknaan, sehingga siswa menjadi terbebani, belajar tanpa ada rasa senang dan motivasi. Pembelajaran menjadi disamakan dengan pemrolehan serpihan-serpihan informasi dan subjek-subjek pelajaran di sekolah tak terkait dan terpisah dari dunia nyata (Rose,  2003 : 91). Ketrampilan guru dalam mengkaitkan materi yang ada dengan kehidupan sehari-hari menjadi ujung tombak dalam keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Pendekatan saintifik sebagai jawaban dalam mengatasi permasalahan di atas yaitu dengan ciri kegiatan mengamati, menanya, mengumpukan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan yang disingkat dengan 5M. Pendekatan saintifik ini ada beberapa model yang direkomendasikan beberapa model pembelajara yaitu Inkuiri, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah. Peneliti mengajukan model pembelajaran SSCS (Search Solve Create Share) yang disampaikan oleh Edward L. Pizzini ( Pizzini, 1991 ; 5) di dalamnya komponen 5 M dari pendekatan saintifik diterapkan.

Pemanfaatan media online ini pada dasarnya merupakan suatu cara pembelajaran yang bertujuan untuk menarik minat belajar siswa dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa melalui pengamatan terhadap materi yang tersedia di dunia maya. Henderleiter, J dan Pringle, DL (1999) mengemukakan bahwa siswa dapat menggali sendiri suatu konsep yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran dan bahkan lebih dari itu, yaitu menimbulkan suatu sikap yang positif terhadap sains (ilmu pengetahuan) disamping tumbuhnya jiwa kooperatif serta  tanggung jawab pada diri siswa, dan dengan demikian hasil belajar siswa-pun akan meningkat.

Sesuai dengan siklus SSCS yaitu : (a) SEARCH , menyatakan fakta dengan cara membuat daftar informasi/ pengetahuan dan menghubungkan dengan situasi dengan menggunakan 5 kalimat pertanyaan yaitu Who (siapa), What (apa), When (Kapan) , How (Bagaimana), Why (Mengapa). Kegiatan ini dilakukan dalam 2 jam pelajaran. Setelah menyatakan fakta masih dalam siklus ini dilanjutkan dengan menganalisa fakta, observasi dan analisa informasi yang sudah diketahui, memformulasikan pertanyaan dan mencari jawaban yang relevan dengan permasalahan. Mengumpulkan data tambahan/ penunjang jika perlukan disertai dengan contoh. Langkah berikutnya dengan menyatakan masalah/merumuskan masalah mendefiniskan masalah dengan kalimat pertanyaan bagaimana atau dengan cara apa. Langkah berikutnya yaitu dengan Brainstorming, yaitu melibatkan siswa untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin, yang kreatif dan berbeda. (b) SOLVE,pada siklus ini yang dilakukan adalah menentukan kriteria, mengidentifikasi dan membuat daftar kriteria yang akan digunakan untuk memilih solusi yang terbaik dari suatu permasalahan. Setelah itu menimbang beberapa alternative dengan kriteria. Selanjutnya  meneliti pemecahan masalah (prosedur). Langkah akhir pada fase ini adalah menyatakan rencana dengan mempertimbangkan informasi baru yang diperoleh. Rencana harus mencakup solusi, bahan yang diperlukan, orang-orang yang akan terlibat dalam prosedur pemcehan masalah dan informasi terkait lainnya, serta pengumpulan data dan organisasinya yang harus diselesaikan pada tahap ini. (c) CREATE , pada fase ini melaksanakan rencana dari desain yang sudah dibuat sehingga siswa disini bertindak sebagai penemu, desainer, eksplorer, dan pengambil keputusan atau komunikator dalam melaksanakan rencana kerjanya. (d) SHARE, pada fase ini siswa mengajukan pemecahan masalah yang sudah dilakukan.  (3)   Pelaksanaan Tindakan, Siklus/fase model SSCS yang pertama yaitu SEARCH dilaksanakan selama 2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit. SOLVE dilaksanakan 2 jam pelajaran. CREATE dilakukan dalam 2 jam pelajaran dan SHARE dalam waktu 2 jam pelajaran.

Referensi

Henderleiter, J. and Pringle, D.L.  January 1999.  Effects of Context-Based Laboratory Experiments on Attitudes of Analytical Chemistry Students.  Journal of Chemical Education.  Volume 76 No. 1.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar