0

Pembelajaran Bermakna sebagai Penghubung Sekolah dan Rumah (0)

Rifan Rahman Sutrisno October 24, 2021

Tema : Guru Merangkai Masa Depan Dari Keterbatasan

Belajar Harus Tetap Dilakukan

Belajar merupakah kewajiban semua orang. Orang dewasa, remaja dan anak-anak semuanya wajib belajar. Tentu dengan cara dan tempatnya masing-masing. Khusus untuk anak-anak belajar selalu diidentikan dengan bersekolah di SD, SMP ataupun SMA.

Dikala pandemi kini, beberapa sekolah bisa melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Tentunya dengan pengaturan jadwal dan sesi sedemikian rupa. Sistem pembagian antara belajar di sekolah dan rumah menjadi alternatif bagi sekolah dengan siswa yang melebihi kapasitas kelas yang telah ditentukan.

Mengerjakan Tugas Belajar Di Rumah Itu Sulit

Dalam pelaksanaannya, kegiatan Tatap Muka Terbatas memunculkan beragam cerita baru yang mungkin tidak pernah dialami pada tahun-tahun sebelumnya bagi guru, siswa, maupun orang tua. Pada jenjang SD, hal itu akan sangatlah nampak.

Ketika seorang siswa hari ini mendapatkan jadwal belajar tatap muka di sekolah, kegiatan pembelajaran mungkin akan dilakukan seperti pada umumnya belajar di sekolah, seolah tidak ada pandemi. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada penggunaan prokes yang ketat saja. Kegiatan pembelajaran akan dilakukan bersama guru di kelas. Siswa akan belajar dengan bimbingan gurunya.

Esoknya, siswa tersebut mendapat jadwal belajar di rumah. Kegiatan belajar pun akan berbeda. Biasanya, guru akan memberikan tugas yang harus dikerjakan siswa secara mandiri. Sementara itu guru akan fokus megajar pada kelompok yang telah dijadwalkan belajar di sekolah. Sehingga bagi siswa yang belajar di rumah, apabila ada kesulitan tentu orang yang bisa dimintai bantuan oleh sang anak adalah orang tuanya sendiri, ataupun anggota keluarga lainnya.

Tugas biasanya beragam. Kadang menulis, menjawab soal, memuat lukisan ataupun melakukan kegiatan tertentu. Memang terlihat sederhana, tapi berbeda bagi siswa SD. Tanpa adanya guru, mengerjakan tugas akan menjadi sangat sulit. Walaupun mungkin sudah terdapat panduan dengan lengkap, siswa masih kesulitan. Beberapa orang tua mungkin bisa menemani anaknya saat belajar di rumah. Tapi beberapa yang lain belum bisa seperti itu. Jadwal bekerja orang tua dan perbedaan pemahaman cara membimbing belajar, menjadi contoh kecil dari faktor penghambatnya. Belum lagi faktor anak yang lebih memilih bermain game daripada mengerjakan tugas. Biasanya sebagian besar tugas anak, akan dikerjakan oleh orangtuanya. Jika sudah seperti itu, kadang tugas selesai tanpa adalah kegiatan pembelajaran.

Guru Adalah Fasilitator Pembelajaran

Guru mempunyai tugas penting untuk membimbing siswanya belajar. Dengan diterapkannya pembagian waktu belajar di sekolah dan di rumah, maka guru harus mempersiapkan segala halnya. Kegiatan di sekolah dapat difokuskan pada pemberian materi, konsep atau keterampilan awal serta pembekalan cara belajarnya agar mudah dalam mempelajarinya. Sehingga pada kegiatan belajar di rumah, siswa hanya perlu menerapkan apa yang ia pelajari di sekolah pada kegiatan nyata sehari-hari. Salah satu contohnya adalah di sekolah siswa belajar cara menggambar dekorasi dan di rumah siswa menerapkannya dengan membuat langsung gambar dekorasi untuk menghias kamarnya sendiri.

Belajar Bermakna Adalah Solusi

Beragam materi pelajaran perlu dikemas dengan dalam kegiatan yang sesuai dengan kehidupan siswa. Makna-makna dari setiap pembelajaran harus dimunculkan. Apa yang dilakukan siswa di sekolah harus bisa menjadi bekal dalam melakukan kegiatan di rumah. Sehingga baik sekolah maupun rumah, sama-sama menjadi tempat untuk anak belajar secara bermakna.
#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar