2

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 3 TIDORE KEPULAUAN (+3)

Abdurrahman June 1, 2017

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 3 TIDORE KEPULAUAN

Abdurrahman Kader, S.Pd

 

  1. PENGANTAR

Perkembagan ilmu pengetahuan dewasa ini mengharuskan dunia pendidikan untuk selalu meningkatkan peningkatan mutunya. Oleh karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan sudah merupakan kesepakatan Nasional seperti yang tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 dan Undang – Undang Rebublik Indonesia No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan beraklak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradap berdasarkan pancasila dan Undang-undang Dasar tahun 1945.

Oleh karena itu BSNP (2010: 46-47) dalam rumusannya bahwa pendidikan di Abad-21 harus memperhatikan hal-hal berikut: (1) Pemanfaatan Teknologi Pendidikan, (2) Peran Strategis Guru/Dosen dan Peserta Didik, (3) Metode Belajar Mengajar Kreatif, (4) Materi Ajar yang Kontekstual, dan(5) Struktur Kurikulum Mandiri berbasis Individu.

Pemanfaatan teknologi dan informasi dalam dunia pendidikan sangatlah penting, karena apabila kita tidak menguasai arus teknologi dan informasi maka akan tertinggal. Apalagi peran guru bukan hanya sebagai pengajar namun juga sebagai fasilitator, manajerial dan sebagainya, maka selayaknya guru menjadi sumber pengetahuan dan teladan bagi peserta didik.

SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan mendapatkan bantuan Internet Gratis dari PUSTEKOM Depdiknas merupakan sebuah fasilitas penunjang yang sangat bermanfaat bagi warga sekolah, karena pada era sekarang ini segala sesuatu yang berkaiatan dengan kondisi sekolah, guru maupun peserta didik berbasis aplikasi sehingga mau tidak mau seorang guru maupun siswa harus belajar memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan.Dengan adanya bantuan ini membawa dampak positif maupun negatif bagi guru dan siswa, namun prinsipnya bahwa perubahan pasti ada dampaknya tinggal bagaimana kita mengelolah dan memanfaatkannya secara bijak.

 

 

  1. PERMASALAHAN

 

Peran guru dalam memanusiakan manusia merupakan pekerjaan mulia yang seharusnya dilaksanakan secara baik dan penuh dedikasi. Namun kenyataanya bahwa guru dijadikan pekerjaan yang menguntungkan secara finansial akibatnya peran guru hanya sebatas pembelajar, maka orientasi pembelajarannya mengejar ketuntasan materi.

Apalagi pada era perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat, pola pikir guru tidak berubah maka bagaimana dengan pola pikir peserta didiknya. Karena apabila guru professional maka melahirkan peserta didik yang sukses, mandiri dan terampil.

Guru-guru yang berada di Kota Tidore Kepulauan pada umumnya masih tertinggal dalam hal pemanfaatan teknologi dan informasi, hal ini bisa dibuktikan dengan hasil UKG tahun 2015 yang rata-rata nilainya tidak memenuhi standar, ini terjadi bukan persoalan kemampuan dalam konteks keilmuan dan penguasaan materi melainkan kurangnya terampil memainkan computer sehingga ketika memasuki ruangan banyak yang gugup, maka otomatis berpengaruh pada nilai yang didapat. Hal ini juga terjadi pada guru-guru di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan yang masih banyak gagap teknologi, jangankan secara daring memainkan computer saja ada yang tidak menguasai sama sekali.

 

Berdasarkan pada asumsi dasar, di atas maka pada penulisan ini penulis mengemukakan permasalahan yaitu “Bagaimanakah peran guru dalam pembelajaran dengan pendekatan teknologi dan Informasi serta solusi dalam mengantisipasi dampak yang muncul !

Fokus penulisan ini pada bagaimanakah peranan seorang guru dengan memanfaatkan teknologi dan Informasi dalam pembelajaran sehingga menghasilkan peserta didik yang bermutu, dan bermanfaat bagi dirinya, bangsa dan Negara.

Dengan asumsi dasar bahwa apabila seorang guru menguasai teknologi dan informasi maka peserta didikpun tidak akan tertinggal dalam arus Teknologi dan Informasi. Untuk itu belajar dimulai dari guru kemudian ditulakan pada peserta didiknya, karena terdapat guru yang unggul maka melahirkan peserta didik yang terampil dan unggul pula.

 

  1. PEMBAHASAN DAN SOLUSI
  2. Perubahan Pola Pikir Guru dalam Proses Pembelajaran

Perubahan pola pikir guru dari penerapan pembelajaran secara konvensional ke penggunaan TIK dalam pembelajaran merupakan suatu keharusan, karena pada era teknologi digital, guru bukanlah pemberi informasi yang utama (satu-satunya), melainkan peranan guru  lebih luas dan menyeluruh. Menurut Mulyasa (2009: 35-64) secara rinci peranan guru pada masa globalisasi ini adalah:

  1. Sebagai menejer belajar, artinya dapat merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan siswa belajar.
  2. Sebagai fasilitator belajar. Artinya memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya.
  3. Sebagai moderator, artinya sebagai pengatur arus kegiatan belajar siswa. Sebagai moderator, guru menampung persoalan yang diajukan oleh siswa dan mengembalikan lagi persoalan tersebut pada siswa lain untuk dijawab dan dipecahkan.
  4. Sebagai motivator belajar, artinya sebagai pendorong agar siswa mau melakukan kegiatan pendorong agar siswa mau melakukan kegitan belajar.
  5. Sebagai evaluator,artinya sebagai penilai yang objektif. Sebagai evaluator guru berkewajiban mengawasi.
  6. Sebagai tutor, artinya yang sewaktu waktuwaktu dapat memberikan bantuan bagi siswa apakah memberi petunjuk atau informasi tentang pelaksanaan proses belajar.
  7. Sebagai seorang organisator, artinya kegiatan belajar yang dibantu oleh kurikulum, tim instruksional, peneliti, teknisi dan lain-lain yang tidak langsung berintegrasi dengan siswa.
  8. Sebagai Pembaharu (innovator), artinya Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.
  9. Sebagai Pembangkit Pandangan, artinya dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan mememelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta didiknya.
  10. Sebagai pekerja rutin, artinya guru bekerja dengan keterampilan, dan kebiasan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan sering kali meberatkan.

 

Perubahan peranan guru dalam pembelajaran sebagaimana telah diuraikan di atas, apabila dikaitkan dengan peran guru di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan masih jauh dari harapan. Permasalahan yang terjadi di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan adalah sebagai berikut :

  1. Masih banyak guru-guru Tua yang Gagap Teknologi dan masih memegang prinsip pembelajaran konvensional.
  2. Peran guru sebagai pembelajar di kelas dan Mengejar ketuntasan Materi
  3. Belum adanya Inovasi dalam pembelajaran
  4. Penerapan teknologi masih dianggap lebih banyak dampak negatifnya dibanding positif

Reorientasi peran guru dalam pembelajaran perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran, apalagi guru yang oreintasinya sebagai pundi uang, bukan pekerjaan mulia, yang seharusnya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan menjadikan amal ibadah bagi dirinya.

Pola pikir tersebut seharusnya dirubah apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat sekarang, seorang guru seharusnya memanfaatkan teknologi informasi sebagai sumber belajar serta pemanfaatan dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru dan juga memotivasi peserta didik untuk memanfaatkan teknologi dan informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian sehingga muncullah kreativitas guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini sebagaiama Isniatun Munawaroh mengatakan bahwa kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain:

Pertama,     kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya;

Kedua,         kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah;

Ketiga,         kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup; dan

Keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Menjadi guru yang penuh kreativitas maka pola pikir guru harus dirubah dengan system pembelajaran konstruktif digantikan dengan memanfaatkan teknologi informasi, hal ini sebagaimana data guru pada SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan dari total guru sebanyak 26 orang yang menggunakan tekologi dalam pembelajaran hanya 9 orang. Maka masih terdapat 17 orang yang masih menggunakan system pembelajaran klasikal.

Untuk itu telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan program sebagai berikut :

  • Setiap guru wajib memiliki laptop

Program sekolah yang mewajibkan guru harus memiliki laptop dicanangkan seiring dengan program dinas pendidikan bahwa setiap guru yang sudah sertifikasi, wajib hukumnya memiliki laptop. Namun orientasi program di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan memiliki tujuan agar guru tidak terlindas arus perkembangan Teknologi dan Informasi.

 

  • Setiap aplikasi yang berkaitan dengan individu guru wajib diisi sendiri dengan bantuan operator .

Perkembangan Teknologi Informasi yang menyebabkan lahirnya berbagai aplikasi di dunia pendidikan, yang mewajibkan guru-gurunya menginput datanya sendiri baik yang dilakukan oleh operator sekolah maupun oleh guru itu sendiri. Untuk itu kebijakan di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan yaitu apabila ada aplikasi yang input datanya berkaitan dengan individu guru, maka guru wajib mengisi datanya sendiri atas petunjuk operator sekolah, misalnya : Pengisian Pajak, PMP dll.

 

  • Memasukan daftar nilai dengan menggunakan softcopy sesuai format yang telah diberikan.

Wajib bagi semua guru agar memasukan nilai akhir dengan menggunakan file (soft copy) namun format berasal dari kurikulum, dengan adanya program ini sehingga guru-guru bisa belajar untuk belajar tentang Teknologi Informasi maupun computer.

 

  • Wajib menggunakan media pembelajaran khususnya Infocus sehingga guru terbiasa membuat materi maupun didownload.

Untuk merubah pola mengajar guru secara konvensional ke pendekatan Teknologi dan Informasi maka wajib bagi guru-guru untuk menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini sebagaimana yang terjadi di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan guru dalam proses pembelajar harus menggunakan pendekatan Teknologi dan Informasi, misalnya : pembelajaran dengan menggunakan infocus sehingga mempermudah guru-guru dalam pembelajaran secara efektif, efisien dan sistematis.

Dengan adanya program tersebut sehingga guru dalam  melaksanakan proses pembelajaran harus menerapkan pendekatan Teknologi dan Informasi. Hal ini membawa perubahan yang sangat siginifikan dalam proses pembelajaran di SMK Negeri 3 Tidore Kepulauan, namun setiap perubahan pada awalnya merupakan hal yang sulit namun dengan berbagai upaya dan kemauan untuk merubah diri.

Program yang dijalankan telah merubah pola pikir guru dari pembelajaran klasikal ke pembelajaran dengan pendekatan TIK, ini sebagaimana telah terjadi penurunan data guru yang pada awalnya masih terdapat 17 Orang yang tidak menerapak Teknologi Informasi dalam pembelajaran menjadi 4 Orang. Itupun karena guru tersebut sudah mendekati usia pensiun.

Terjadinya perubahan pola pikir guru tersebut membawa perubahan juga pada pola pembelajaran peserta didik, peserta didik yang pada awalnya masih banyak terpusat di kelas, mencatat, dan menghabiskna waktunya untuk menulis catatan, namun dengan penerapan pembelajaran dengan pendekatan Teknologi Informasi peserta didik mulai mencari materinya dan tugas yang diberikan oleh guru melalui internet  dan peserta didik dalam hal membuat tugas sudah menggunakan komputer/laptop.

  1. Dampak Penerapan Teknologi dan Informasi dalam Pembelajaran.

 

Setiap perubahan yang terjadi pasti ada sisi baik dan buruknya, hal ini kita tidak bisa pungkiri bahwa seiring dengan perkembangan pikiran manusia maka zamanpun akan mengalami perubahan mengikuti irama  alam maupun pemikiran itu sendiri. Oleh karena itu selaku manusia suka atau tidak suka harus menerima setiap perubahan yang terjadi baik sisi positif maupun negatifnya.

Perubahan paradigma pendidikan yang membawa dampak terhadap peranan guru, sebagai pemberi informasi utama menjadi bukan satu-satunya pemberi informasi melainkan berbagai faktor seperti media internet, dan sebagainya juga sebagai pemberi informasi.

Namun perubahan dalam hal penerapan Teknologi dan Informasi dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran mempunyai dampak sebagai berikut :

 

  1. Dampak Positif

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Teknologi Informasi membawa dampak positif bagi guru maupun peserta didik, diantaranya :

  1. Guru dalam menyampaikan materi secara sistematis,
  2. Materi yang berhubungan dengan gambar-gambar dapat ditampilkan sehingga mempermudah siswa dalam menyerap materi yang disampaikan.
  3. Memudahkan guru dalam mengolah hasil evaluasi peserta didik
  4. Transparansi hasil penilaian peserta didik
  5. Pembelajaran lebih menarik dan efisien

 

  1. Dampak Negatif

Pendekatan Teknologi Informasi dalam pembelajaran juga membawa dampak negatif bagi guru dan peserta didik, yaitu :

  1. Peserta didik malas karena bisa mencari sumber lainnya di Internet
  2. Guru malas mencari sumber lain yang mendukung sumber utamanya/ focus pada satu sumber
  3. Munculnya sikap plagiasi/ mengutip karya orang lain tanpa menyebutkan sumber yang jelas, baik yang dilakukan oleh guru maupun peserta didik.
  4. Guru tidak membuat materi pembelajar namun lebih banyak download file yang sudah ada tinggal merubah penulisnya saja.

 

  1. Solusi untuk Mengurangi Dampak Penerapan Teknologi.

 

Penerapan teknologi yang membawa dampak bagi kelangsungan kehidupan sekolah baik oleh peserta didik maupun guru, demikian sehingga dalam penulisan ini penulis dapat mengemukakan solusi untuk mengatasi dampak tersebut dengan cara :

  1. Perlu adanya pelatihan komputer bagi guru dan peserta didik.

Sekolah seharusnya melaksanakan pelatihan computer bagi guru maupun peserta didik baik yang diselenggaran sekolah, dinas pendidikan maupun mengutus para guru maupun peserta didik mengikuti pelatihan computer agar terjadi peningkatan kompetensi keilmuan maupun keterampilan.

 

  1. Adanya pelatihan karya tulis ilmiah bagi guru dan peserta didik.

Pemerintah atau sekolah perlu melakukan pelatihan bagi guru maupun peserta didik khsusnya dalam bidang penulisan karya tulis ilmiah sehingga guru dan peserta didik mengetahui cara menulis karya ilmiah yang baik dan benar, agar persoalan plagiat tidak terjadi di lingkungan sekolah.

 

  1. Penyediaan fasilitas perpustakaan yang memadai utamanya buku-buku, majalah, Koran sehingga menambah referensi peserta didik maupun guru dalam memperkaya khasanah pengetahuan.

Fasilitas yang ada di perpustakaan pada umumnya di Kota Tidore Keulauan Provinsi Maluku Utara belum dikelolah secara baik, terlebih lagi koleksi buku yang kurang dan tidak mengikuti perkembangan serta tidak adanya perpustakaan digital.

Hal ini yang menyebabkan kurangnya pengetahuan guru dan peserta didik dalam mengecap pengetahuan dan bisa mamanfaatkan sebagai sumber belajar.

 

  1. Adanya pemantauan/pendampingan dari guru apabila peserta didik mencari bahan di internet, agar tidak menyalahgunakan fasilitas yang tersedia.

Peserta didik dalam menggunakan fasilitas internet perlu didamping atau dipantau agar terhindar dari penyalahgunaan internet khususnya situs-situs porno atau berbau kejahatan.

 

  1. Penyediaan sarana prasarana pembelajaran yang memadai.

Pemerintah sebagai pengambil kebijakan selayaknya menyediaakan fasilitas pembelajaran dan fasilitas pendukung pembelajaran sehingga guru dan peserta didik mudah mengakses sumber pengetahuan untuk meningkatkan profesionalisme guru serta menambah koleksi pengetahuan guru.

  1. KESIMPULAN DAN HARAPAN
  2. Kesimpulan

Pembelajaran dengan pendekatan Teknologi dan Informasi dapat mengubah peran guru dan peserta didik dalam belajar. Karena guru bukan sebagai sumber utama dalam proses belajar mengajar melainkan berbagai sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik.

Pola pikir guru yang proses pembelajarannya masih konvensional seharusnya diganti dengan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dan informasi sehingga melahirkan kreatifitas guru dan peserta didik dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.

Pemanfaatan teknologi dan informasi membawa dampak positif maupun negatif bagi kehidupan manusia, namun apabila digunakan dengan bijak maka akan sangat berguna bagi manusia. Disinilah peranan guru sangat dominan dalam menyampaikan dan memotivasi peserta didik dalam pemanfaatan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan pengetahuan serta kreatifitasnya dalam menghadapi tuntutan zaman. Karena peserta didik yang kreatif, inovatif serta terampil, itu semua berawal dari gurunya.

Namun semuanya itu tidak akan terjadi apabila tidak didukung oleh fasiltas yang memadai serta adanya program pemerintah yang meningkatkan kreatifitas guru dalam pemanfaatan TIK, pelatihan penulisan karya tulis, dan pelatihan lainnya yang dapat meningkatkat pengetahuan dan keterampilan guru.

 

 

 

  1. Harapan

Berdasarkan pada kesimpulan di atas maka penulisan ini penulis berharap :

  1. Guru menjalankan peranan dengan baik sehingga bisa menghasilkan peserta didik yang berkualitas, kreatif, inovatif serta berdaya saing namun memiliki budi pekerti yang baik.
  2. Pola pikir guru harus berubah dari pola pembelajaran klasik yang menganggap bahwa guru merupakan satu-satunya sumber informasi bagi peserta didik, ke pembelajaran dengan pendekatan Teknologi dan Informasi sehingga peserta didik dapat memanfaatkan sumber pengetahuan lainnya sebagai sumber belajar.
  3. Jadilah pekerjaan guru sebagai pekerja mulia bukan mengejar materi, sehingga bisa melahirkan pribadi-pribadi yang unggul penuh dedikasi dan berahlak mulia menjunjung tinggi nilai-nilai pengetahun, agama dan bangsa.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Standar Nasional Pendidikan (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Di Abad-21. Jakarta: BSNP.

Isniatun Munawaroh, Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Untuk Menumbuhkan Kreativitas Dan Kemandirian Belajar: (dalam http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pemanfaatan%20 teknologi%20informasi%20dan%20komunikasi%20untuk%20menumbuhkan%20kreativitas%20dan%20kemandirian%20belajar%20di%20sekolah.pdf). (download 10 November 2016)

Mulyasa. 2009. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Undang-undang Guru dan Dosen No 14 tahun 2005. 2008. Jakarta: Sinar Grafika

 Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003. 2008. Jakarta: Sinar Grafika.

 

 

 

Comments (2)

  1. sy setuju dengan pendapat bpk abdurahman

    Apalagi pada era perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat, pola pikir guru tidak berubah maka bagaimana dengan pola pikir peserta didiknya. Karena apabila guru professional maka melahirkan peserta didik yang sukses, mandiri dan terampil.

    semoga kita bisa terus meningkatkan kemampuan kita

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like facebook
    semoga sukses
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    artikel 1
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond
    artikel 2
    http://guraru.org/guru-berbagi/kearifan-lokal-dunia-digital-belajar-menakjubkan-2/

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar