0

Pelajaran dari Sebuah Lagu (0)

AfanZulkarnain May 19, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Saya sedang mengikuti kursus Bahasa Jepang. Saya memang punya obsesi ingin pergi ke negeri matahari terbit itu. Entah bisa tercapai atau tidak, saya tidak tahu. Hehehe… Saya akhirnya memutuskan untuk perlahan mendekati mimpi itu. “Langkah perlahan” yang saya ambil itu adalah dengan belajar bahasa Jepang.

Saya mengambil kursus di sebuah lembaga pendidikan. Senseinya jauh lebih muda dari umur saya. Kami terpaut usia lima tahun. Tapi yang namanya belajar tidak mengenal usia, saya cuek saja. Tak masalah guru saya lebih muda dari umur saya. Yang penting belajar.

Yoga Sensei namanya. Dia lulusan sastra Jepang sebuah universitas ternama. Kami memiliki suatu kesamaan. Kami sama-sama menyukai budaya pop Jepang. Selalu kami mengawali pembelajaran dengan membahas anime, manga hingga lagu Jepang terbaru.

Bicara soal lagu Jepang, Yoga Sensei selalu meminta saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu Jepang dan mencoba untuk menterjemahkannya. Menurutnya, cara itu akan membuat saya lebih mudah belajar bahasa Jepang. Sampai tulisan ini dibuat, sudah tiga buah lagu yang ia minta untuk saya terjemahkan secara bebas. Meskipun banyak yang salah, namun saya tetap berusaha. Betul kata dia, belajar bahasa Jepang lewat lagu memang sungguh menyenangkan.

Pertemuan dua hari yang lalu, ia mengajak saya berdiskusi mengenai arti dari lagu Hakimono to Kasa no Monogatari yang dinyanyikan idol group populer AKB48. Judul lagu itu kalau diterjemahkan artinya Kisah Sepatu dan Payung. Sensei memutarkan video klip lagu ballad tersebut. Menariknya, video klip lagu ini menampilkan animasi yang begitu indah. Denting piano sebagai musik latar menambah kesyahduan lagu tersebut.

Kalau anda ingin mengetahui video klipnya, anda bisa menyaksikan link ini. Namun untuk versi full belum tersedia di Youtube. Versi full hanya bisa diperoleh jika kita membeli CD single AKB48. Yoga Sensei termasuk orang yang membeli CD fisiknya secara online langsung dari Jepang.

Lirik per lirik ia bahas. Awalnya, ia bertanya, apa yang aku dengar. Aku menyampaikan kata per kata sesuai apa yang aku tulis di buku catatan. Ada yang benar, tak sedikit yang salah. Setiap baris lagu tersebut memiliki perbendaharaan kosa kata baru bagi saya. Di akhir pembelajaran, ia meminta saya untuk menceritakan makna di balik lagu ini.

Hakimono to Kasa no Monogatari bercerita tentang dua orang nenek yang bertetangga. Keduanya sama-sama hidup sendiri di dekat stasiun kereta api. Suami mereka sama-sama telah meninggal dunia. Anak-anaknya pun sudah berkeluarga. Nenek pertama memiliki toko sepatu dan nenek kedua memiliki toko payung. Namun kedua toko tersebut sepi pembeli. Hingga akhirnya, nenek penjual sepatu membeli semua payung dan mengisi tokonya dengan payung-payung tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh nenek penjual payung, ia memenuhi tokonya dengan sepatu yang ia beli dari tetangganya. Keduanya saling menguatkan. Keduanya saling menghibur. Keduanya saling berbagi kebahagiaan.

Saya jadi berpikir jauh kedepan, kalau kita nanti sudah renta, apakah kita akan hidup sendiri seperti mereka? Ah…saya jadi ingat satu-satunya orang tua. Bagaimanapun video klip lagu tersebut menyentuh hati saya untuk lebih ikhlas merawat orang tua.

Yoga Sensei juga bercerita mengenai salah satu tradisi masyarakat Jepang yaitu ubasute. Tradisi membuang orang tua yang renta di hutan ini berasal dari cerita rakyat masyarakat Jepang.

Ubasute kabarnya selalu dilakukan karena keadaan yang sulit dan memaksa. Biasanya dilakukan oleh anak laki-laki dengan cara menggendong ibu mereka di atas punggung. Para pria ini kemudian akan membawa orang tua mereka ke gunung atau hutan lebat dan meninggalkannya sendirian, baik dengan sedikit bekal makanan atau tidak. Sang ibu kemudian akan menemui ajal karena kelaparan, dehidrasi, hipotermia, serangan binatang buas atau kombinasi hal tersebut.

Tak sepenuhnya orang tua yang ditinggalkan mengalami kepikunan, terkadang ada saja yang masih memiliki kemampuan mengingat yang baik dan mungkin masih bisa turun gunung untuk kembali ke rumah. Tapi memilih untuk tidak melakukannya sebagai bentuk pengorbanan bagi anak dan keluarganya.

Ah…saya tak habis pikir apabila ada anak yang melakukan hal tersebut. Membuang orang tua yang telah ikhlas melahirkan dan membesarkan kita sungguh perbuatan yang tak bisa diterima dengan akal sehat. Apapun kondisinya, semiskin apapun kita, orang tua harus kita rawat dengan penuh cinta.

Pertemuan kursus bahasa Jepang itu kami tutup dengan menyanyikan kembali lagu AKB48 tersebut. Kami berdelapan dalam kelas tersebut menyanyikan lagu itu dengan sepenuh jiwa. Sembari memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Aru inaka no eki no chikaku
Futatsu no mise ga narande mashita

Hakimonoya san to kasaya san no
Obaachan wa nakayoshi deshita

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar