1

Paradigma Pendidikan Masa Kini (0)

Tantri October 24, 2021

Ada paradigma  yang masih keliru dalam memandang fungsi pendidikan kita. Bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Dari pekerjaan itu kemudian mendapat gaji yang membuat kehidupan lebih terjamin.

Agaknya paradigma ini selalu ada sejak dulu hingga sekarang. Apakah benar pendidikan menjamin kesuksesan?

Karena pandangan yang demikian, orangtua pun berlomba-lomba membuat anaknya lebih pintar secara akademisnya. Maka orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit (baca: mahal). Tidak cukup mengandalkan belajar dari sekolah, orang tua juga memberikan les privat kepada anaknya. Bahkan tidak hanya satu mata pelajaran saja, tetapi beberapa mata pelajaran.

Kasihan siswa karena hampir seluruh waktunya dipakai untuk berkutat dengan buku. Setelah belajar di sekolah, belajar lagi di tempat les.

Hal ini membebani anak dengan banyak les membuatnya kurang mendapatkan porsi berkarya di bidang lain. Padahal, punya skill di bidang lain sangat baik bagi kehidupannya datang.

Allah membekali anak dengan skill yang berguna bagi kehidupan mereka. Di antaranya adalah public speaking  dan problem solving.

Hampir setiap pekerjaan membutuhkan public speaking yang bagus. Masih muda saat ini merupakan bibit bibit pemimpin bangsa di masa mendatang. Kemampuan seorang pemimpin adalah kemampuan berbicara di depan umum. Membekali siswa dengan public speaking merupakan langkah yang tepat dalam dunia pendidikan.

Siswa juga harusnya dibekali dengan kemampuan melakukan i. Dalam kehidupan manusia tidak lepas adanya masalah. Masalah bisa saja datang. Namun, yang penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah itu. Seseorang yang bisa menyelesaikan masalah akan membuat pekerjaannya menjadi lebih ringan dan sukses.

Sebaliknya kalau tidak bisa menyelesaikannya, maka masalah itu menjadi semakin besar dan memakan korban yang lebih banyak.

Yang kita diperlukan adalah sosok yang bisa menjadi solusi atas permasalahan yang ada.  Generasi muda yang bisa menemukan penyelesaian atau masalah sangat berpotensi membawa bangsa kita menjadi semakin maju.

Pendidikan jangan dimaknai sebagai akademik saja. Pendidikan itu bermakna luas. Setiap siswa memiliki potensi yang unik. Ada 3 cara pandang pendidikan  terhadap peserta didik.

Pertama, peserta didik itu ibarat tunas pohon, dan kita petaninya. Petani  bermitra dengan orang tua menumbuhkan, merawat, dan menjaga tunas itu agar tumbuh sesuai hakikat atau keaslian tunas.

Petani menumbuhkan dan merawat tunas sesuai jenis tanamannya. Tidak mungkin petani mengharapkan tunas pisang menjadi tunas kelapa atau berbuah kelapa.

Kedua, peserta didik ibarat mutiara, dan guru sebagai pengrajinnya. Tugas pengrajin adalah membentuk mutiara itu sehingga menjadi dan menemukan bentuk terindahnya.

Ketiga, peserta didik sebagai pewaris ilmu. Guru merupakan sumber ilmu. Peserta didiklah yang akan mewarisi ilmu tersebut. Guru juga memandang bahwa peserta didik merupakan pewaris peradaban.

Tidak cukup dengan menyerahkannya yang kepada sekolah saja tetapi orang tua harus tetap memiliki peranan penting dalam mendidik anaknya. Jadi, kolaborasi antara orang tua dan sekolah itu sangat penting.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan akan berhasil jika ada peran dari Tri sentra pendidikan yaitu keluarga sekolah dan masyarakat.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar