1

Para Pengembara Muda Bersedekah ke Utara (+3)

Muhammad Iskandar May 16, 2015

Pada awalnya kami ingin mengajarkan pentingnya pelajaran tentang konservasi lingkiungan kepada anak-anak didik kami. Oleh karna itu kami mengajak anak-anak  berperan serta dalam kegiatan penanaman mangrove di Muara Gembong dalam rangka menyambut Hari Bumi. Namun seiringnya perjalanan waktu kami pun mendapat “pelajaran” yang luar biasa. Dari pada penasaran, mari silakan dibaca catatan saya berikut ini.

Kisah ini dimulai dari sebuah briefing. Hari itu Senin, 13 April 2013 dikumpulkan 7 orang siswa-siswi SM Jingga oleh pak Sahid (salah seorang pihak management Jingga). Ya 7 orang siswa-siswi itu adalah Naufal, Pandu,  Sandi, Rifka, Nada (siswa-siswi kelas 7), Silmi, dan Agus (siswa-siswi kelas 8). Dan mulai sekarang mereka saya sebut “para pengembara muda”. Mereka dikumpulkan untuk diberi tahu kalau mereka akan diajak kegiatan menanam mangrove di Muara Gembong dalam Rangka menyambut Hari Bumi. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2015. Dalam briefing tersebut disebutkan kalau semua siswa diwajibkan untuk mabit (menginap) di sekolah sedangkan untuk para siswi mabit di rumah Silmi. Hal itu dilakukan karna mereka diharuskan sudah tiba di kantor kecamatan Muara Gembong paling lambat jam 08.00. Karna itulah anak-anak harus “diinapkan” agar mereka dapat tiba di Muara Gembong ontime alias tepat waktu.

Namun pada h-2 (Jum’at, 17 April 2015) pak Sahid mengalami musibah. Beliau terdorong pintu angkot yg tiba-tiba terbuka saat sedang mengendarai sepeda motor. Karna hal itu kaki beliau mengalami patah tulang. Selain itu pak Isnan yg menjadi guru pendamping di perjalanan pun tak bisa ikut sampai acara selesai. Akhirnya plan B dibuat, saya dan pak Riqza (fasilitator baru di Jingga) ditunjuk untuk menggantikan peran pak Isnan dan pak Sahid untuk acara ke Muara Gembong. Awalnya pada saat diajak ke Muara Gembong oleh bu Herlin (kepala SM Jingga) saya langsung mengiyakannya. Tapi saat sampai di rumah saya jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu salah seorang dosen mengajak saya ke Muara Gembong, tapi saya menolaknya karna senior saya bilang Muara Gembong itu jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh banget dari Bekasi kota. Terlebih kalau pergi ke sana naik motor (rencananya dosen saya dan saya ke sana naik motor), pasti gempor. Oh tidak sekarang saya akan pergi ke Muara Gempor, eh salah Gembong bersama para bocah. Baiklah, sekali terucap tak dapat ditarik lagi. Saya akan coba “memulai perjalanan ke utara untuk mencari kitab suci” bersama anak murid saya (Tom San Chong wanna be, di film Sun Go Kong  ).

Dan pada hari Sabtu pagi (18 April 2015) saya sudah menyiapkan semua perlengkapan ke Muara Gembong (termasuk untuk mabitnya). Semua siap, saya pun berangkat ke Jingga jam 08.00 pagi karna harus melatih panah di club JAC (,Jingga Archery Club). Ganteng-ganteng begini saja juga coach archery loch . Ok balik ke masalah mabit, sedangkan para siswa dan pak Riqza akan hadir di Jingga setelah shalat Isya. Dan menjelang adzan Isya “para pengembara ke utara” pun hadir di Jingga. Tepat jam 20.00 “para pengembara ke utara” sudah hadir semua yg diakhiri kehadiran pak Riqza di Jingga. Sebagaimana yg sudah dikatakan bu Herlin di hari sebelumnya saat briefing terakhir, anak-anak diperbolehkan membawa gadget untuk dokumentasi masing-masing (tapi risiko ditanggung sendiri). Sesaat telah tiba, bocah- bocah ini langsung memainkan gadget mereka. Maklum ini adalah momen “langka”, karna mereka “diharamkan” membawa gadget ke sekolah. Ada yg memainkan game, ada yg mendengarkan mp3, ada yg ngobrol, dll. Dan pada saat jam 23.00 saya sudah menyuruh mereka untuk segera tidur karna besok harus bangun pagi. Dasar bocah, mereka tak ada satu pun yg menurut. Akhirnya saya tinggal tidur saja. Tepat jam 02.00 saya terbangun dan melihat mereka sudah tepar dengan pose yg unik. Mungkin mereka lelah setelah ngobrol ngalor-ngidul dan sibuk bermain dengan gadget. 

Keesokan harinya, Minggu 19 April 2015 pada pukul 04.20 semua “pengembara muda ke utara” sudah terbangun. Lalu setelah itu dilanjutkan dengan shalat Subuh yg diimami pak Isnan. Shalat Subuh sudah, lalu mandi biar bersih dan wangi. Dan untuk pak Riqza setelah mandi, beliau mengambil mobil yg menjadi transport kami ke Muara Gembong di rumah bu Febi. Tepat pukul 05.40 kami pun berangkat menuju rumah Silmi untuk menjemput tim akhwat (siswi). Akhwat sudah dijemput, lanjut menjemput bu Herlin. Bu Herlin sudah, saatnya menjemput bang Qomar (seorang budayawan kota Bekasi sekaligus salah seorang panitia acara ini). Selama perjalanan ke Muara Gembong kami konvoi dengan keluarganya Nizar (salah seorang siswa kelas 3 SDA Jingga) juga pak Isnan yg mengawal kami sampai kantor kecamatan Muara Gembong (tempat berkumpulnya peserta acara ini) dengan sepeda motornya.

Dan benar saja pemirsah, apa yg dikatakan oleh senior saya saat kuliah dulu. Kalau jalan ke Muara Gembong Jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh banget dan subhanallah sesuatu. Di tambah ocehan “para pengembara muda ke utara” yg luar biasa, terutama Naufal. Perjalanan ke ujung utara Bekasi kali ini menjadi sesuatu banget. Dari sekian banyak ocehan si Naufal ada 1 yg “sesuatu banget”. Yaitu “kenapa sich pak kita nanam mangrove, gak guna banget”. Setelah dia berkata begitu saya jadi teringat status bbm bu Putri (salah seorang fasilitator SM Jingga), “menanam adalah sedekah”. Dan saya pun mengatakan hal tersebut, “menanam adalah sedekah, kita sedekah kepada banyak makhluk seperti yuyu; lutung; ikan kecil; juga masyarakat sekitar. Karna bakau banyak manfaatnya seperti menjadi habitat hewan-hewan tersebut, penahan abrasi, pencegah arus tsunami ke darat, penghasil oksigen dll”. Setelah mendengar jawaban saya dia mulai diam, tapi cuma sebentar setelah itu ngoceh lagi doi .

Setelah berjuang melewati jalanan yg luar biasa “ratanya” selama kurang lebih 1jam 30menit,  kami pun tiba di kantor kecamatan yg dimaksud. Kami adalah peserta pertama yg sampai tepat jam 07.45. Dan sudah pasti kami harus menunggu peserta lain yg belum sampai. Karna hal itu kami harus “mencharge” kesabaran kami. Sudah menjadi rahasia umum menunggu kehadiran orang di Indonesia pasti lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bingitdzs. Setelah 30 menit menunggu, para “pengembara muda” mulai tak sabar dan terus menerus menanyakan hal yg sama “kapan kita berangkat nanam mangrovenya pak?”. “Bapak gak tahu” jawab saya. Melihat gelagat mereka seperti itu sudah dapat dipastikan kalo KEPO MODE mereka sudah ON, sama seperti saya. . Sambil menunggu kami pun ngobrol sambil jajan di warung depan kantor kecamatan. Setelah itu pak Isnan pun pamit pulang karna ada acara. Dan beliau bilang kalau rombongan peserta yg lain akan tiba jam 09.00.

Hari sudah menunjukkan jam 09.00 dan tanda-tanda kehadiran “sosok-sosok” yg kami tunggu pun belum tampak. Untuk menghilangkan rasa bete yg sudah numpuk di ubun-ubun kami pun jalan-jalan sekeliling kantor kecamatan. Dan akhirnya kami menemukan perahu yg kami duga akan kami tumpangi ke tempat menanam mangrove. Hehehe…melihat objek bagus (menurut kami), kami pun berselphie ria diatas perahu tersebut. Setelah puas berselfie ria sekaligus “melampiaskan” bete karna menunggu lama, kami pun kembali ke kantor kecamatan. Pada saat tiba kembali ke kantor kecamatan akhirnya peserta lain sudah tiba, tapi sudah lewat dari jam 09.00 .

Sudah hampir 3,5 abad kami menunggu (terlebaykan karna terlalu lama menunggu) akhirnya semua peserta telah sampai di kantor kecamatan. Dan “para pengembara muda” pun dibriefing oleh bu Herlin untuk menjaga sikap selama acara. Juga diingatkan perihal membuang sampah, jika mereka membuang 1 sampah sembarangan mereka dapat konsekuensi mengumpulkan 10 sampah. Tepat jam 09.30 (kurang lebih) kami pun berangkat ke tempat penanaman mangrove. Tapi sebelum itu ada beberapa kata sambutan dari bang Qomar selaku perwakilan panitia dan juga pembacaan doa agar acara berjalan lancar. Naufal mulai menunjukan sikap “uniknya”, dia berdoa supaya bisa dapat yuyu . O iya apa anda tahu pemirsah, ternyata perahu yg kami jadikan tempat selfie adalah perahu yg kami tumpangi menuju lokasi (dugaan kami tepat  ). Selama perjalanan semua peserta terlihat senang dan antusias (termasuk “pengembara muda ke utara”), kecuali Naufal. Hanya dia yg terlihat bete dan tidak antusias. Padahal saat di warung tadi dia salah satu yg paling kepo soal kapan acara menanam mangrovenya dimulai. Hehehe mungkin dia agak jaim untuk mengekspresikan rasa amazingnya. Karna mustahil orang yg paling kepo dan tak sabar dengan acaranya bermuka bete saat kapalnya jalan. Ditambah doanya yg amat sangat khusuk agar bisa mendapatkan yuyu.

Sepanjang perjalanan saya melihat pemandangan yg luar biasa. Mulai dari keindahan sungai Citarum dan kesederhanaan masyarakatnya. Sesaat sebelum tiba, Naufal melakukan “kesalahan” yaitu membuang sampah ke sungai secara tidak sengaja. Dan sesuai dengan konsekuensi, dia harus memungut 10 sampah saat tiba nanti. Setelah perjalanan menyusuri sungai Citarum selama kurang lebih 1jam 45menit, kami pun sampai di tempat penanaman mangrove. Kami disambut ramah oleh masyarakat setempat.

Karna sudah sampai, Naufal pun menjalani konsekuensinya dulu. Lalu setelah itu kami pergi ke lahan penanamannya. Setelah sampai di lokasi, Naufal mulai “beraksi” mencari yuyu di pinggiran rawa dan memasukannya ke dalam botol bekas air mineral (sesuai dengan impiannya  ). Apa anda tahu pemirsah apa reaksi “para pengembara muda” melihat lokasinya di rawa-rawa yg sedalam dada orang dewasa? Mereka membuat banyak alasan agar tidak masuk ke rawa. Mulai beralasan baju dan kerudungnya berwarna putih, takut kotor dll (termasuk Naufal). Dasar bocah kota, disuruh nyebur ke rawa aja jaim . Melihat gelagat mereka yg ogah untuk nyebur, saya pun mulai nyebur duluan. Lalu diikuti peserta yg lainnya. Mungkin karna merasa “tertantang” oleh peserta lain yg sudah nyebur terlebih dahulu “para pengembara muda” akhirnya nyebur juga. Hanya pak Riqza yg tidak nyebur karna beliau menjaga barang bawaan kami.

Sebelum menanam kami semua diajari cara menanamnya yg benar oleh masyarakat sekitar. Para “pengembara muda” terlihat sangat antusias. Setelah itu kami pun naik ke daratan. Tapi entah kenapa mereka menolak naik, malah nyebur lagi. Dan ternyata saudara-saudara mereka malah asyik bermain lumpur. Termasuk Naufal yg dari awal perahu berangkat sampai tiba di tempat penanaman mangrove memasang muka bete untuk menutupi jaimnya. Mereka terlihat “norak” dan “kampungannya”, bukan seperti anak kota yg  sibuk dengan gadget. Karna melihat keasyikan mereka bermain perang lumpur, saya pun tak dapat menahan diri lalu ikut nyebur dan “perang” bersama mereka .

Puas bermain perang lumpur kami pun menumpang ke rumah warga setempat untuk membilas. Setelah itu kami menyantap snack yg disediakan oleh panitia. Setelah puas dan kenyang kami semua diajak ke Muara Bendera (hutan lindung tempat penangkaran lutung jawa yg saat ini terancam punah). Dari tempat kami menanam mangrove ke Muara Bendera cukup jauh. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 1jam.

Dan perjalanan kami ke sana (Muara Bendera) membuat jantung ini cenat-cenut. Karna selama perjalan perahu kami sering mogok. Karna kondisi sungai saat itu sedang surut ditambah banyaknya sampah di dasar sungai. Kalau mogok aja sich gak seberapa, yg bikin kami ketar-ketir adalah patahnya baling-baling motor perahu yg kami tumpangi. Alhamdulillah ternyata di tengah perjalan kami bertemu teman awak perahu yg memiliki baling-baling cadangan.

O ya selama perjalan ke Muara Bendera kami melihat kehidupan yg sederhana di perkampungan nelayan sepanjang sisi sungai Citarum. Kami melihat kebenaran teori sejarah yg mengatakan “dimana ada sungai, di situ terdapat peradaban”. Ya peradaban sungai Citarum di masa kejayaannya sangat maju. Namun kini, peradaban kehidupan masyarakatnya yg maju itu berubah menjadi sederhana. Karna tergerus perkembangan zaman yg tidak memperhatikan kelestarian alam. Semoga “para pengembara muda” dapat membuat beradaban yg lebih baik dan dapat menjaga kelestarian alam. Juga peradaban yg takut terhadap Allah, amin.

Akhirnya kami pun sampai di Muara Bendera. Sebelum perahu kami merapat, kami melihat sekawanan burung bangau laut yg tengah terbang diatas kawasan hutan lindung untuk mencari makan. Setelah merapat kami pun mulai memasuki kawanan hitan lindung. Dan kami dipandu oleh seorang panjaga hutan lindung tsb (maaf saya lupa nama beliau). Menurut cerita beliau banyak sekali hewan yg tinggal di hutan lindung ini. Diantaranya adalsh lutung jawa yg langka, monyet, dan burung bangau laut. Yang membuat miris adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap hutan lindung ini. Menurut keterangan “sang kuncen”, setiap hari ada saja orang yg mau berburu lutung jawa. Ada 1001 alasan yg diberikan oleh para pemburu, mulai dari yg meminta izin secara “formal” sampai yg berpura-pura. Semoga akan ada semakin banyak orang yg perduli terhadap kelestarian hutan mangrove. Hutan yg menjadi habitat beberapa hewan endemik. Terutama keberadaan lutung jawa yg sangat langka. Selain itu konon mitos Lutung Kasarung yg terkenal itu berasal dari hutan lindung ini.

Setelah berjalan mengitari kawasan hutan lindung ini selama kurang lebih 15 menit, kami tak melihat 1 pun lutung jawa yg langka itu. Yang kami temukan hanya sekawanan monyet. Karna masih kepo, kami pun bertanya ke warga sekitar “pak kira-kira lutungnya sekitar jam berapa keluar”. “Biasanya jam segini mah banyak yg keliatan” jawab salah seorang warga. Namun setelah lelah mengelilingi hutan lindung tersebut, kami benar-benar tak menemukan lutung jawanya. Akhirnya kami sepakat untuk kembali ke perahu. Namun di ujung perjalanan kami menuju pintu keluar hutan lindung ada sekawanan monyet yg sedang berkumpul. Mereka seolah ingin melepas kepulangan kami. Karna kami telah bertandang ke kawasan mereka dan membantu memperbaiki habitat mereka (hutan mangrove). Mungkin mereka ingin mengatakan rasa terima kasih mereka kepada kami dengan cara berkumpul di dekat pintu keluar saat kami hendak pulang. So sweet 

Dengan berat hati dan sedikit kecewa (karna tak dapat melihat seekor lutung pun), kami pun pulang.Dan kurang lebih sekitar 10 menit kami belayar meninggalkan hutan lindung. Ada seseuatu yg mengejutkan sekaligus membuat kami senang. Yaitu munculnya sekawanan lutung jawa di atas pohon mangrove tepat di seberang posisi hutan lindung.  Ya mereka sedang bercengkrama satu dengan lain di atas pohon tersebut. Seolah mereka tidak takut akan keberadaan pemburu yg tengah mengintai mereka. Mungkin “ketiadaan” mereka di hutan lindung tadi dikarnakan mereka tengah mempersiapkan “kejutan manis”. Kejutan yg indah di tengah perjalanan pulang kami. Dan seolah mereka ingin mengatakan “maaf kami membuat kalian sedikit kecewa tadi. Terima kasih atas sedekah kalian kepada kami. Semoga saja untuk kesempatan berikutnya kalian dapat membawa lebih banyak orang yg peduli terhadap kelestarian mangrove dan keberadaan kami yg sudah langka ini. Jangan jadikan kami sejarah, hanya tercatat dalam buku namun tiada di dunia nyata. Terimalah rasa terima kasih kami yg sederhana ini.”

Sepanjang perjalanan pulang, kami benar-benar senang. Karna kami dapat melihat lutung jawa yg langka secara langsung. Kami tahu tidak semua wisatawan dapat “kehormatan” melihat hewan yg hampir punah keberadaannya ini. Dan kami juga melihat kehidupan warga lokal yg tinggal di sisi sungai Citarum yg mulai menggeliat. Ada beberapa nelayan yg tengah mempersiapkan peralatan untuk melaut. Bahkan selama perjalanan kami banyak berpapasan dengan kapal nelayan yg ingin melaut. Kami juga melihat anak-anak yg senang hanya karna dapat berenang di sungai, bermain perahu, dan aktivitas sederhana lainnya. Yang mungkin di mata “pengembara muda” hal tersebut amatlah sederhana, namun kebahagian dan kesenangan anak-anak nelayan ini luar biasa. Ditambah dengan keberadaan sunset yg indah di hilir sungai Citarum ini. Lengkap sudah keindahan alam yg melukiskan kesederhanaan dalam kearifan lokal masyarakat Citarum yg menjaga keberadaan ekosistem makhluk hidup di sekitar mereka.

Dan ilmu yg saya dapat dari perjalanan kali ini adalah:

-Indahnya kehidupan yg sederhana namun dapat bersinergi dengan alam. Daripada hidup dengan modernitas yg mengabaikan kelestarian lingkungan.

-Kebahagian anak-anak dari kehidupan yg sederhana lebih natural dan indah dibanding dengan kebahagian dari kehidupan yg di penuhi dengan gadget. Seperti apa yg saya lihat di mata Naufal. Saya melihat kebahagian yg luar biasa saat dia sibuk “berburu” yuyu dan bermain perang lumpur dengan saya dan teman-temannya. Tapi kebahagian itu tidak saya lihat saat dia memainkan game favoritnya di gadget.

-Dan yg penting adalah Allah selalu menetapi janjiNya. Termasuk janji atas balasan dari sedekah. Dia memberikan kami hadiah yg kami inginkan dengan cara yg indah, melihat lutung jawa secara langsung. Mungkin ini balasan yg Ia berikan langsung di dunia ini kepada kami yg telah bersedekah. Semoga apa yg telah kami lakukan dapat menjadi ibadah yg ikhlas karna Mu.

Terima kasih Allah atas pelajaran yg Kau berikan kepada hamba. Dan terima kasih Naufal atas celoteh mu di mobil perihal “apa gunanya menanam mangrove”. Karna dengan begitu kamu telah memberikan ilmu baru ke teman-teman mu dan mengingatkan saya akan pentingnya menanam tumbuhan. Karna menanam adalah hakikatnya bersedekah kepada alam.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10jigga28 jingga 16 jingga3 jingga4 jingga5 jingga6 jingga7 jingga8 jingga9 jingga10 jingga11 jingga12 jingga13 jingga14 jingga15 jingga17 jingga19 jingga20 jingga21 jingga22 jingga23 jingga24 jingga25 jingga26 jingga29 jingga31 jingga33 jingga34 jingga37 jingga38 jingga39 jinnga18 jinnga27 jinnga30 jinnga35 jinnga36

1,408 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar