8

Papua dan Dunia Pendidikan (Dalam Sebuah Opiniku) (+5)

Olivia Herlina Hanggi May 26, 2015

Sekilas tentangPapua

Pada akhir tahun 1300, Majapahit menyebut Papua menggunakan dua nama, yakni WANIN dan SRAM. Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah Fak-Fak dan SRAM, ialah pulau Seram di Maluku. Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai PAPA-UA yang sudah berubah dalam sebutan menjadi PAPUA. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama NUEVA GUINEE dan ada pelaut lain yang member nama ISLA DEL ORO yang artinya Pulau Emas.Nama Nueva Guinee kemudian di-Belanda-kan menjadi NIEUW GUINEA. Pada tahun 1956, Belanda merubah nama Niew Guinea menjadi NEDERLANDS NIEUW GUINEA.Pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara, Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama WEST PAPUA. Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama IRIAN BARAT menjadi “IRIAN JAYA”.Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua hingga kini. Nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah disini sebagai seorang bapak. Papa-Ua artinya anak piatu.
Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA., karena rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat ( WestPapua ).Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja disini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almarhum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata: “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).
Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.

Papua adalah mutiara hitam dari timur, sebuah tanah yang kaya raya, dengan kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Kandungan emas di bukit Freeport yang melimpah membuat para Kapitalis penjajah serakah ingin merebutnya. Penduduk Papua hanya sekitar 3 juta jiwa (Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Papua 2014) dan dana APBD pertahunnya bernilai trilyunan rupiah !! Melebihi kebanyakan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Salah satu asset yang sungguh luar biasa buat Bangsa Indonesia. Bahkan Presiden Jokowi, memilih daerah kampanyenya yang pertama di Papua. Bukan untuk menjaring suara kata beliau, tapi ini masalah perhatian (Ini menurut wawancara Liputan 6 di .SCTV tgl 5 Juni 2014) ehem mungkin maksudnya biar fokus pada penandatanganan mou freeport, biar sampai habis – tuntas (maaf suudzon saya semata) . Ibu Connie ( seseorang pengamat militer) menambahi kalau sasaran AS selanjutnya adalah Papua!! Pernyataan ibu Connie pada siaran tvOne Sabtu 26/3 2011 bukannya tanpa dasar. Kabar Papua menjadi target AS berikutnya sudah beredar di kalangan intelejen.
Sebuah sumber di lingkungan Departemen Luar Negeri mengungkap adanya usaha intensif dari beberapa anggota kongres dari Partai Demokrat Amerika kepada Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk membantu proses ke arah kemerdekaan Papua secara bertahap.
Beberapa fakta lapangan mendukung informasi ini adalah dalam dua bulan terakhir ini, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan Foreign Relation Authorization Act (FRAA) yang secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua. Kalau RUU ini lolos, berarti ada beberapa elemen strategis di Washington yang memang berencana mendukung sebuah opsi untuk memerdekakan Papua.
Dan ini berarti, sarana dan perangkat yang akan dimainkan Amerika dalam menggolkan opsi ini adalah, melalui operasi intelijen yang bersifat tertutup dan memanfaatkan jaringan bawah tanah yang sudah dibina CIA maupun intelijen Departemen Luar Negeri Amerika
Alasan utama yang menjadi isu pemisahan Papua dari NKRI adalah kemiskinan,pemerintah Indonesia yang belum sepenuhnya mampu mengentaskan kemiskinan di Papua menyebabkan isu-isu sparatis berkembang.
Kemiskinan Papua adalah salah satu akibat dari sistem Kapitalisme yang diterapkan di Indonesia, emas Papua yang seharusnya mampu memakmurkan rakyat Papua justru dirampok oleh Freeport dan perusahaan asing milik Kapitalis Penjajah.Terbukti dari minimnya sarana dan prasarana yang nyata untuk rakyat Papua disana, seperti puskesmas, stok sembako, dan sejenisnya yang tetap langka.Juga minimnya jembatan penghubung, pengaspalan jalan dan masih banyak lainnya. Isu-isu HAM dan Demokrasilah yang sedang dikembangkan oleh Amerika Serikat agar Papua bisa lepas dari NKRI, dengan isu ini diharapkan akan terjadi referendum bagi tanah Papua. Yang selanjutnya, akan mengantarkan Papua ke arah pemisahan diri dari NKRI dan akan diperas habis-habisan oleh para negara dan kaum elite dunia, raja-raja eropa, pengusa multibillon dunia, para kartel minyak, kartel kayu, kartel mineral dan semua yang haus darah, haus minyak dan haus harta.

Pendidikan sebagai bentuk Pembaharuan
Sumbangan Paulo Freier sangat besar dalam kemajuan daerah Papua. Karena buah pikirannya dilatarbelakangi oleh kemiskinan rakyat Brazilia dibagian timur laut dimana beliau hidup dan menetap. Pendidikan disana dipakai bukan untuk memanusiakan manusianya. Cenderung pendidikan yang selalu memenangkan penindasan status quo. Oleh karena itu beliau mencoba mengembalikan tujuan pendidikan pada tempatnya yaitu memanusiakan manusia sebagai sebuah potensi untuk mengubah realitas yang ada secara aktif.
Melihat deskripsi yang global tentang Papua, bahwa sangat disayangkan daerah yang kaya akan hasil sumber daya alam belum terkelola dengan baik melalui potensi SDM penduduk setempat karena mereka berhak mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Dan ini akan berhasil apabila ditunjang dengan usaha Pemerintah untuk mengurus daerah Papua sebagai kesatuan wilayahnya. Salah satu cara yang efektif adalah dengan memperbaiki pendidikan di setiap lini, baik sarana prasarana, guru, sistem nilai, tunjangan, prestasi dan lain-lain.
Pendidikan yang berkarakter harusnya mampu melindungi Papua dari incaran para penjahat (terutama) ekonomi. Karena dengan pendidikan akan melahirkan generasi yang nantinya mampu mengaktualisasikan dirinya, Ditambah dengan karakter, maka diharapkan aktualisasi diri muncul secara bijaksana dan bertanggungjawab. Denganbegitu akan terjawab bagaimana suatu daerah dapat dikelola putera-puteri daerahnya sendiri.Yang pastinya tahu persis potensi daerahnya dan tahu cara mempertahankan asset daerahnya.
Pemerintah harus memperhatikan krisis pendidikan di daerah Papua contohnya di daerah Dogiyai. Bukti otentik yang didapat dari narasumber yaitu Musa Mudestus Boma, Mahasiswa FISIP UNCEN, Jayapura. Terdapat daerah-daerah yang haus akan pendidikan seperti daerah Idedua, Yegeiyepa, Saikonai, Motakotu, Kegata, Apgomakida, Ibukota Distrik, Egipa, Pagouda, Maikotuu, Toubaikebo, Yeroukotu, Modio Ibu kota Distrik Mapia Tengah, Putapa, dan lain-lain.
Krisis tenaga pengajar juga dominan dalam hal ini. Sejumlah gedung sekolah tidak memiliki guru yang berprofesional. Guru yang bersertifikat S1 dari KPG, SPG, dan PGSD hanya bisa dihitung jari. Guru Profesionalnya tidak lebih 2 orang disetiap sekolah. Bahkan banyak yang sudah pensiun dan meninggal dunia.
Krisis Nilai juga merupakan masalah yang tidak lepas dari pendidikan. Sosialisasi pendidikan hampir tidak dihayati bagi setiap orang. Pejabat lebih suka bicara tentang pemekaran, urusan bisnis, proyek, dan berburu investor daripada pendidikan. Sejak tahun 2000, Pemerintah mengambil alih pendidikan (untuk keseragaman kemajuan pendidikan) di Papua yang sebelumnya banyak dikelola yayasan-yayasan Kristiani. Tetapi usaha itu masih belum memenuhi kesungguhan menanamkan nilai dan mendidik jiwa-jiwa kebersamaan untuk membangun hidup dan pembangunan sumber daya manusianya. Pemda setempat harus merangsang daerahnya melalui visi dan misinya agar setiap daerah terlibat sebagai pelaku pendidikan.
Himbauan untuk Yayasan-yayasan Sumber Daya Manusia, sebaiknya ikut meramaikan dunia pendidikan di Papua. Penulis mungkin agak memaksakan pendapat untuk mengetuk pintu hati Yayasan-Yayasan Pendidikan Islam untuk menerapkan pendidikan yang Rasululloh contohkan maaf . Penulis sadar harusnya ikut  menjaga integritas keberagamaan  tetap dalam koridor pendidikan nasional. Dan Penulis sadar sepenuhnya penulis sendiri belum  berbuat apa-apa dalam pendidikan di Papua. Hanya kepedulian penulis terhadap pendidikan. Semoga tulisan ini menginspirasi yayasan Pendidikan Islam ikut aktif mengembangkan sayap disana. Memang kita tidak dapat mengambil untung secara financial dalam usaha mencerdaskan bangsa. Tapi kalau kita tidak mulai maka asset financial, sumber daya alam anak bangsa di masa depan akan hilang sama sekali. Dan kita tetap menjadi bangsa yang bonsai dalam berkembang. Wala’haula wala quwata illa billah….http://edukasi.kompasiana.com/2015/02/23/papua-dan-dunia-pendidikan-dalam-sebuah-opiniku-703377.html

Comments (8)

  1. Bu Rosiana, hehehe pasti ketawa, karena saya blm pernah kesana, saya terinspirasi melihat tentang Papua dan mulai mengumpulkan berita tentang Papua, jujur karena tertarik pada pelawak stand comedy pada awalnya. Mereka sosok yang menurut saya cerdas sehingga mampu membawa pikiran penonton tentang gambaran Papua dan kebiasaannya dengan lawakan yang segar dan mendidik. Ajakan mereka terkesan ayo dong tengok daerah kami yang masih jauh dari dengan peradaban sebuah kota yang layak, membuat saya ingin lihat juga pendidikan disana. Dan saya sungguh salut terhadap dua standupcomedy asal Papua ini, mereka mempunyai latarbelakang seorang Muslim. Jadi menurut saya, beginilah seharusnya. Orang Papua hrs mampu melindungi tanah kelahirannya yang skrng menjadi target para penguasa ekonomi untuk memperkaya diri penguasa itu sendiri tanpa melihat kesejahteraan rakyat Papua-nya. Dan untuk menyadarkan orang Papua nya hrs Pendidikan menjadi garda terdepan. Dan Saya melihat hehehe sepertinya dengan status kemusliman para standupcomedy itu membuat saya yakin benar kalau pendidikan yang Rasululloh ajarkan berhasil. buktinya mereka (standupcomedy) terkenal dan berhasil membawa daerah mereka di tiap lawakan mereka agar orang mennegok sebentar ke Papua. Lama kalau perlu. Padahal Papua ini wilayah dengan jumlah muslim yang sedikit. tapi yang sedikit ini mampu menggetarkan media sosial tentang keadaan sosial di Papua. Saya terkesan, Dan saya ingin panjang lebar menceritakan pengaruh penguasaan ekonomi di Papua terhadap segi-segi kehidupan seperti agama, pendidikan dan lain-lain. Namun keterbatasan perbendaharaan kata-kata yang formal dan tidak menyangkut sara, membuat saya tidak bisa leluasa untuk bercerita. Hemm yang penting saya ingin sampaikan adalah pendidikan merupakan alat penggerak kemajuan warga suatu wilayah utk memakmurkan sendiri wilayahnya (kebetulan Papua, yang disorot). Dan sentuhan akhirnya apabila pendidikan diberikan roh spiritual, dalam Islam namanya Jihad (artinya sungguh-sungguh) wuuiiih akan banyak keberhasilan yang diraih, baik duniawi maupun akherat…maaf kalau kepanjangan dan aneh…salam kenal bu Ros…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar