5

Pagi yang Menyisakan Pertanyaan Besar (+1)

Okky Fajar Tri Maryana February 12, 2014

Pagi yang menarik dan pagi yang menyisakan pertanyaan besar.

Sumber: Kazuya-akimoto.com

Bagi saya, selalu menyenangkan membaca dan berkirim kabar di Social chatting seperti What’s App. Hari itu, di mana semalam sebelumnya saya tidak menyempatkan untuk memegang HP. Betumpuklah notifikasi chatting baik dari grup maupun dari seorang kenalan di seberang sana.

Semua terasa begitu menarik pagi itu. Ada seorang, mungkin bisa dibilang beberapa temen guru yang pada dini hari mengeluhkan kondisi kerja dan kehidupannya melalui sebuah grup. Miris.

Ada pula pula kawan yang asik bergurau untuk sekedar melepas kepenatan kuliah.

Cukup banyak.

Namun, ada satu yang begitu menarik bagi saya. Begitu menariknya sehingga membuat saya mengungkapkan pertanyaan besar dalam diri.

Bermula dari kabar singkat dari murid.

Seperti inilah kira-kira percakapan kami.

“Pak Okky, mau cerita dong…

Pak, Selasa besok minggu depan saya sidang awal,

Tapi…

Saya sidang sama dosen yang anti islam. Dia benci banget dan sombongnya minta ampun Pak,

Parahnya dia hobi engga neglulusin orang”

Setelah saya sapa, kemudian ia melanjutkan,

“Ada saran engga Pak? Kan gini Pak,

Dosen saya ini termasuk pencetus informatika di Indonesia, tapi omongannya sering ngawur

Nah Pak,

Bagi dia, dia itu selalu benar (dia nyebut dirinya Tuhan loh Pak, parah kan.

‘Semua dosen salah kecuali saya’, dia pernah bilang kayak gitu

Dia selalu nyari kesalahan yang gak rasional.”

 

 

Di dalam kendaraan yang masih melaju saya menghembuskan nafas cukup dalam.

 

Melamun sejenak dan tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benak,

“Masih adakah orang seperti itu di jaman sekarang?”

 

Sungguh sebuah pagi yang menyisakan pertanyaan besar bagi saya pribadi.

 

 

*Bapak Ibu sahabat guraru, bantu saya untuk memberikan jawaban dan masukan yang terbaik untuk murid saya itu. Minimal bisa menjadi pemikiran kita bersama. Semoga bermanfaat dan bernilai kebaikan.

Salam Hormat

Okky Fajar Trimaryana

Tagged with: , , ,

Comments (5)

  1. Bagaimanapun bapak itu Insya Allah memiliki sisi yang bisa kita tembus. Dengan mempelajari sifatnya, ada sesutu yang disukainya diantara yang tak disukainya. Kita harus mengalah, mengikuti kesukaannya. Kalau bisa murid bapak harus segera cari tahu, mungkin ke keluarganya, atau diprediksi dari kebiasaannya. Ya baki ta umat Islam, mohon petunjukNya. Insya Allah bisa pak. Saya turut prihatin dan mendoakan dia. Amin. Thx sharingnya. Salam perjuangan.

  2. @Bu Etna, terimakasih banyak Bu Etna, semoga kami tidak termasuk menggunjing. Sebabnya saya memberi masukan apa yang harus murid saya tersebut persiapkan…terimakasih Bunda Etna, masukan yang berarti untuk kami. Tapi Beliau bukan Bapak Bu Etna, tapi seorang Ibu-Ibu 🙂

    @Pak Isna. Hehe..maaf ya pak kalo tulisan saya menisakan kebingungan..hihi..sukses pak isna 🙂

  3. Kejadian serupa ketika saya diklat PLPG untuk sertifikasi, dosen adalah segalanya, segalanya benar, segalanya harus dituruti.. gak boleh dilawan walau tidak sesuai dengan prinsip.. satu orang dalam pemberontak ilmiah pada saat itu, yg lain mengiyakan… dengan alasan yg penting lulus sertifikasi… bahkan lebih gawat lagi da yg mengiyakan dgn anggapan asal bapak senang.. bahasa di SUMUT Angkat TELOR.. hehehe.. 🙂
    ketika break rekan guru yg lain bilang…. betul tuh pak..masa asal ngomong dia… nah lho, dari tadi ngapain aja kok beraninya dibelakang.. lagi2.. nilai mengalahkan kebenaran…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar