9

Pagi Pilu (+5)

Botaksakti June 13, 2014

Sebenarnya, saya berharap pagi ini begitu terbangun akan bertemu dengan pagi yang indah. Kenapa? Malamnya saya sampai rumah pukul 23.00 WIB itupun pakai dihajar hujan besar dan geledek menyambar. Badanย  lelah,kedinginan, lapar, dan sebagainya campur aduk. Jadi, wajar kan kalau saya berharap pagi indah ketika bangun tidur nanti?

Akan tetapi, ternyata harapan memang tidak selalu sama dengan kenyataan. Sambil mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, saya ngobrol dengan si sulung.

“Gimana kemrin, Mbak? Bisa nggak?”

“Bisa. Kebetulan, aku udah baca soalnya lebih dulu!”

“Maksudnya?”, saya sedikit tercengang.

“Seperti biasanya, pas UAS kan sering ada razia contekan. Nah, sebelum UAS, aku nemu soal dibak sampah. Spontan aku baca, kan? Eh, ternyata itu persis dengan yang dipakai untuk UAS”

“Bocor maksudnya?”

“Begitulah, katanya semua teman yang les dapet itu soal!”

“Emangnya les di mana mereka?”

“Kan ada tuh, guru yang buka les-lesan. Nah, mereka yang ikut les katanya dapat tuh bocoran soal UAS. Pantesan mereka betah banget les di situ!”

“Lah, yang bocor itu memang berapa pelajaran? Kan guru itu cuma ngajar satu mata pelajaran?”

“Itu dia, faktanya ada lebih dari satu mata pelajaran yang bocor!”

Benak saya berputar. Mungkinkah ada guru lain yang titip soal buatannya kepada guru yang membuka les-lesan tersebut? Lantas, mereka nanti bagi hasil dari keuntungan les-lesan tersebut? Ah, otak konspirasi saya menyala kembali. Mungkin memang itu yang terjadi. Artinya, mafia telah merasuk ke ranah pendidikan kita.

Pilu begitu saja menyergap. Mau jadi apa generasi kita ini kalau dunia pendidikan saja sudah seperti itu? Herannya, oknum guru seperti itu kok ya lolosย  menjadi pengajar di sebuah sekolah.

“Ada nggak guru lain yang tahu dan bersikap berbeda, Mbak?”

“Ada sih, namanya Bu X dan Pak Y, mereka sangat anti dengan yang seperti itu. Tapi ya kayaknya belum ada tindakan itu!”

Itu dia, kadang kita juga tahu apa yang dilakukan oleh teman-teman sejawat, tapi sungkan untuk menegurnya. Perasaan tidak enak kadang lebih berkuasa. Maka, ‘mafia nilai’ kian meraja. Dan kesedihan semakin menekan. Bagaimana dengan teman-teman guraruer? Selamat pagi!

 

Comments (9)

  1. memprihatinka memang, kita harus berubah dari diri sendiri, kemudian mervolusi masyarkat melalui cara berfikir dan bertindaknya secara bersama-sama drngan penguasa, masyarakat, terutama guru sebagai agen perubahan

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar