1

Outbound: Persiapkan Anak Untuk Meraih Prestasi Terbaik! (+3)

Yani Pieter Pitoy May 15, 2013

Saya mengenal Outbound waktu mengikuti Penataran Guru Matematika SMK Tingkat Nasional di P4TK  Bisnis dan Pariwisata Jakarta di tahun 2003. Kesempatan mengikuti kegiatan ini benar-benar saya manfaatkan. Gelar Peserta Favorit yang saya dapatkan, mungkin adalah salah satu hasil dari ketekunan saya untuk mengikuti kegiatan ini. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari benar-benar menginspirasi saya untuk menerapkannya di sekolah tempat saya mengajar. Yang menjadi persoalan penting, apakah semua materi dapat diterapkan. Jawabannya pasti tidak. Keterbatasan fasilitas dan tempat untuk melaksanakan kegiatan adalah kendala utama. Berikut, guru yang dapat menjadi pembimbing dalam kegiatan Outbound ini. Pertanyaan selanjutnya, kapan dan berapa lama Outbound ini dapat dengan tepat dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya waktu itu. Akhirnya jawaban itu akhirnya muncul. Pilih beberapa materi saja sesuai kondisi sekolah, ajak beberapa guru untuk bergabung dan latih siswa-siswa senior sebagai pendamping sekaligus sebagai ujung tombak kegiatan. Kapan waktu yang tepat? Yah, Masa Orientasi Siswa Baru. Sebuah orientasi yang benar-benar baru dan berbeda dari yang selama ini mereka bayangkan. Orientasi baru untuk membangun paradigma baru yang lebih bermanfaat bagi pengembangan keterampilan dan kreativitas nonakademik siswa.

 

P  E  R  S  I  A  P  A  N

MYtim

Sesudah menimbang banyak hal menyangkut pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kegiatan Outbound untuk siswa sejumlah sekitar 200 orang dengan durasi 3 – 4 jam, materinya dibagi dalam 3 bagian utama yaitu yel-yel, trusty dan parasuter. Sehari sebelumnya saya mengcoach 20 siswa senior (siswa kelas XI dan XII) yang akan menjadi pendamping. Mereka dibekali dengan seluk-beluk kegiatan Outbound, terutama tips-tips aman yang perlu mereka lakukan, karena 2 kegiatan utamanya adalah kegiatan yang cukup berbahaya. Mereka tampak antusias dengan pakaian hitam-hitam mereka, apalagi saya melengkapi mereka dengan name tag keren (he..he…he…). Masing-masing mereka diberikan tanggung jawab untuk menjadi pendamping bagi sebuah kelompok kecil siswa baru. Mereka bertanggungjawab atas segala aktifitas yang dilakukan oleh kelompok siswa baru, termasuk memberi motivasi, dorongan, semangat agar kreatifitas para siswa baru tersebut dapat muncul. Sebuah tanggung jawab yang tidak kecil. Berulangkali saya menegaskan pentingnya tanggung jawab ini untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk mendukung tanggung jawab mereka, kegiatan simulasi kegiatan juga dijalani oleh mereka, terutama materi trusty dan parasuter yang cukup berbahaya. Secara bergantian, mereka dilatih untuk menguasai dan merasakan betul manfaat dari dua kegiatan itu.

 

THE REAL CHALLENGE……

 

YELI

Suasana berbeda di sekolah kami. Lapangan sekolah tampak begitu ramai. Sesi yel-yel adalah adalah sesi pembuka kegiatan Outbound hari itu. Siswa-siswa peserta MOS sudah berada di lapangan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Saya berharap para siswa baru akan mulai berkreasi menciptakan yel-yel, yang selama ini sering mereka lihat di televisi. Saatnya untuk mereka berkreasi. Sepuluh menit waktu diberikan kepada mereka untuk berdiskusi. Benar. Waktu yang sangat pendek. Tidak boleh ada yang main-main. Semua harus fokus pada penemuan ide-ide kreatif. Sehabis waktu yang diberikan, saya segera memandu penampilan dari masing-masing kelompok. Berbagai gaya ditampilkan, yang sontak membuat sekolah kami bergemuruh. Bakat-bakat baru mulai diperlihatkan. Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang kakak senior. Saya memulai sesi Outbound ini dengan penjelasan singkat tentang kegiatan yang akan dilaksanakan selama kurang lebih 3 – 4 jam. Saya masih menyimpan maksud dan tujuan dari setiap kegiatan. Saya berharap mereka (siswa baru) yang akan menemukan makna dari setiap kegiatan.

T.R.U.S.T.Y

trustyFINAL

Saatnya sesi yang menegangkan. Sesi Trusty adalah bagian dimana masing-masing kelompok akan membuat sebuah lingkaran kecil, kemudian satu orang berdiri tepat di tengah, merapatkan kaki dan tangan, kemudian didorong-dorong oleh teman-temannya yang lain.    Yang didorong-dorong tidak boleh menggerakkan kakinya. Jadi, jatuh tidaknya dia, bergantung pada teman-temannya. Saya melakukan simulasi bersama dengan tim pendamping. Mereka dengan sigapnya melakukan tugasnya. Tanpa kesalahan sedikitpun. Diakhir simulasi ini, saya memberikan kejutan dengan meminta tim saya bersiap untuk melakukan simulasi dengan saya sendiri yang berada di tengah kelompok. Mereka benar-benar kaget. Dengan bobot lebih dari 85 kg, saya memang akan menjadi beban yang berat bagi mereka. Tapi hasrat untuk menanamkan nilai-nilai sesi ini, mengalahkan kekuatiran saya akan kemampuan mereka untuk menahan berat badan saya. Semua akhirnya bersiap. Saya berada di tengah kelompok kecil itu. Dan permainanpun dimulai. Gemuruh tepuk tangah membahana. Tapi, itu tidak boleh untuk ‘keberanian’ saya, tetapi untuk semua kerjasama, kekompakan dari tim saya.

Selanjutnya, masing-masing kelompok mempraktikkan sesi ini. Tidak ada yang terkecuali. Semua siswa harus merasakan berada di tengah kelompok dan ‘diombang-ambingkan’ oleh teman-temannya. Ketegangan kini hampir merata berada di tengah kelompok. Secara bergantian saya melakukan evaluasi terhadap kinerja masing-masing kelompok. Satu dua kelompok yang penuh keraguan dalam menyelesaikan sesi ini saya tantang untuk yakin dengan kemampuan mereka. Berulang kali, saya membiarkan diri saya untuk berada ditengah kelompok-kelompok itu. Meyakinkan mereka bahwa sebuah tantangan dihadapi dengan bekerja sama dengan orang lain. Sebuah kebanggan dapat terlihat di raut wajah-wajah mereka manakala mereka dapat menyelesaikan sesi ini. Satu insiden terjadi. Sebuah kelompok yang tidak fokus dan konsentrasi mengakibatkan saya terjatuh di lapangan. Sebuah insiden yang kemudian saya manfaatkan untuk menegaskan pentingnya fokus dan konsentrasi dalam melakukan sesi ini.

Sesi berakhir. Sejenak, masing-masing menenangkan diri, sambil sesekali bercengkerama menceritakan pengalaman yang telah mereka alami. Saya masih menyimpan makna dari sesi ini, walaupun mereka sudah menemukan  dan merasakan banyak nilai dari sesi ini.

 

P.A.R.A.S.U.T.E.R

 Parasuter, adalah salah satu jenis kegiatan Outbound yang cukup berbahaya. Seseorang akan diangkat oleh rekan-rekannya di atas kepala, kemudian dimiringkan sejauh kurang lebih 30 – 40 derajat, dengan kepala berada dibagian bawah. Kegiatan ini akan memberikan efek rasa takut bagi yang diangkat, sementara bagi yang mengangkatnya harus memberikan konsentrasi penuh, karena efek dari kesalahan sedikit saja adalah kecelakaan yang bisa berakibat fatal. Saya memulainya dengan sesi simulasi bersama dengan tim senior saya. Karena mereka sudah pernah dilatih dalam kegiatan simulasi, maka mereka dapat menjalaninya dengan mudah. Saya kembali ‘berulah’ dan menyatakan bahwa mereka harus mengangkat diri saya. Hal ini tidak pernah disimulasikan, karena saya memang ingin membuat kejutan bagi tim senior saya. Tapi mereka menjawab tantangan ini dengan segera mengatur strategi. Momen-momen penuh ketegangan pun bergulir. Saya sepenuhnya percaya pada kemampuan mereka, dan tidak melakukan gerakan sedikitpun yang bisa berakibat fatal. Just enjoy the moment…..

Me & Parasuter

Menjadi contoh untuk Parasuter ini memang adalah sebuah komitmen yang tidak mudah bagi saya. Rekan guru yang badannya jauh lebih ringan dari saya bahkan tidak mau ‘diobok-obok’ ke udara, apalagi dimiring-miringkan. Butuh lebih dari sekedar keberanian. Butuh kepercayaan terhadap kemampuan dan kerjasama dari orang lain. Sesi simulasi selesai, dan mulailah masing-masing kelompok mempraktikkannya. Saya mengawasi dengan ketat untuk memastikan tidak akan terjadi insiden-insiden yang merugikan.

parasuter

OUTBOUND FOR STUDENTS: THE VALUES

“Kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% kemampuan awalnya (bakat, talenta, postur tubuh dll.). Delapan puluh persen ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya”. 

Dua kalimat di atas adalah kalimat-kalimat pembuka saya, ketika kegiatan Outbound ini dimulai. Saya menekankan betapa penting dan strategisnya peran kecerdasan emosional untuk sebuah kesuksesan. Setelah semua sesi berakhir, tibalah waktunya bagi saya untuk memberitahukan nilai-nilai apa yang terkandung dari beberapa sesi ini. Saya menggalinya langsung dari mereka. Beberapa perwakilan siswa saya minta ke depan dan mengungkapkan nilai-nilai apa saya yang mereka dapatkan dari kegiatan ini. Saya tidak terkejut terhadap apa yang mereka sampaikan. Semua nilai yang ingin saya sampaikan telah mereka ungkapkan dengan cara mereka. Saya tidak heran, karena nilai-nilai ini telah mereka rasakan:

  1. Kesuksesan atau keberhasilan dalam belajar dapat dicapai jika kita berkonsentrasi dan fokus pada tugas dan tanggung jawab kita. 
  2. Bekerja sama adalah salah satu dari sebuah kesuksesan. Dalam bekerja sama ini, penting untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Tidak memandang pendapat kita yang paling benar, tetapi memberikan ruang kepada pendapat orang lain. Bagaimanapun, menyelesaikan masalah dengan melibatkan banyak orang jauh lebih baik daripada kita menyelesaikannya sendiri.
  3. Ketakutan adalah musuh dari sebuah usaha mencapai kesuksesan. Ketakutan ini perlu dihadapi. Salah satunya berpikir positif terhadap kemampuan orang lain untuk membantu kita.

Saya masih yakin, ada nilai-nilai lain yang mereka rasakan dan rasanya sulit diungkapkan. Tantangan terutama adalah bagaimana mereka mengaplikasikannya ketika mereka bersekolah. Tapi satu tahapan penting telah mereka hadapi. Perubahan paradigma.

Hari yang melelahkan. Tetapi juga hari yang penuh makna. Saya memandang mereka yang sedang beristirahat, tampak beberapa yang kelelahan. Namun sinar mata mereka menampakkan harapan baru untuk mengejar cita-cita mereka di lembaga pendidikan ini.

Semoga semua impianmu bisa  menjadi kenyataan!

Tagged with:

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar