7

Optimisme di Tengah Kronisme Pendidikan akibat Covid-19 (0)

Ahmad Maulidi December 26, 2020

Data dari Unesco menyatakan bahwa pada bulan April, 1,6 miliar pelajar diliburkan dari sekolah dan universitas karena langkah-langkah untuk menekan penyebaran Covid-19. Angka tersebut merupakan sekitar 90% dari seluruh populasi siswa di dunia. Bahkan lembaga amal Save the Children pada Juli lalu menyebut bahwa pandemi virus corona telah menyebabkan “darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya”, dengan 9,7 juta anak yang terkena dampak penutupan sekolah berisiko putus sekolah secara permanen.

Bagaimana dengan Indonesia? Pendidikan Indonesia juga merasakan dampak langsung akibat pandemi covid-19. Sebagian besar elemen pendidikan Indonesia sangat merasakan pengaruh akibat wabah virus korona ini. Yang paling terasa adalah kegiatan pembelajaran di kelas, tidak lagi secara langsung, melainkan dilakukan secara daring.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembelajaran daring. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga universitas memberlakukan kebijakan tersebut. Harapannya adalah pembelajaran daring dapat menjadi solusi dalam memutus mata rantai penyebaran virus Korona di masyarakat.

Tak ayal, insan pendidikan turut mengalami efek pemberlakuan kebijakan itu. Tidak sedikit guru maupun siswa yang mengeluhkan pembelajaran daring. Pun dengan orang tua siswa yang juga merasakan peliknya sistem belajar metode online tersebut.

Konsep pembelajaran sepanjang hayat yang selama ini mewarnai pendidikan Indonesia sepertinya tidak lagi sepenuhnya terterapkan. Interaksi antara siswa dan guru tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru tak lagi bersua secara langsung dengan muridnya. Tatap muka pembelajaran pindah ke ruang virtual, kurang bermakna dalam menumbuhkan kebermaknaan pembelajaran.

Sistem pembelajaran daring merupakan opsi terbaik saat ini. Namun, pilihan itu dianggap tidak efektif dalam penerapannya. Pembelajaran daring tidak semudah yang dibayangkan. Pengaplikasian belajar daring membutuhkan fasilitas dan sumber daya, tidak semua orang mampu menyediakannya. Tidak hanya itu, model belajar ini juga menuntut keseriusan dan kemandirian dalam diri pelajar.

Di sinilah letak permasalahannya. Tidak semua siswa atau orang tua memiliki gawai untuk belajar. Kesenjangan ekonomi membuat ada orang tua yang tak mampu membelikan gawai untuk anaknya. Gawai menjadi barang yang mahal di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu akibat Covid-19. Orang tua mengeluh karena merasa terpaksa menyediakan perangkat belajar dan paket data untuk koneksi internet.

Problematika lain muncul dalam diri pelajar itu sendiri. Siswa mengikuti pembelajaran dari rumah dengan koneksi internet. Tidak ada yang menjamin bahwa siswa dapat mengikuti proses pembelajaran sepenuhnya. Situasi ini lemah kontrol dan pengawasan. Orang tua di rumah pun tidak mampu sepenuhnya mengawasi anak secara langsung saat belajar daring.

Imbasnya beberapa aspek akhirnya terdampak. Banyak gangguan belajar dialami siswa saat belajar. Kualitas akademiknya berkurang. Pembelajaran terkesan hanya menyelesaikan tuntutan materi. Keterampilan murid dalam hal kognitif dan afektif tidak terasah dengan baik. Muncul pernyataan yang menggelitik belakangan ini bahwa jika hanya ingin pintar dengan belajar, maka gugel sebenarnya jauh lebih pintar.

Lantas apa yang mesti dilakukan sekarang? Sementara tidak ada pihak yang berani mengatakan kapan pandemi Covid-19 global ini akan berakhir. Situasinya menjadi tak menentu. Bisa saja pandemi akan cepat berakhir, tapi ada kemungkinan virus mengglobal ini bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Membangun optimisme di tengah kronisme pendidikan Indonesia di masa pandemi perlu untuk dilakukan. Itu adalah langkah awal untuk terus berupaya membangun semangat pendidikan. Di tengah situasi yang tak menentu ujungnya, optimisme menjadi acuan untuk lebih aktif merencanakan, mempersiapkan, dan mencari solusi terbaik mengatasi problematika pendidikan saat ini.

Pemulihan terhadap Covid-19 dalam kaitannya dengan pendidikan sejatinya menjadi tanggung jawab semua elemen pendidikan di Indonesia. Belajar daring adalah bagian dari perubahan zaman di era ini. Karena ada yang berubah maka skema pendidikan pun juga ikut menyesuaikan. Kita perlu untuk terus beradaptasi dengan perubahan saat ini, begitu pun dengan situasi pembelajaran yang serba daring sekarang.

Menyiapkan masa depan anak bangsa adalah kewajiban setiap elemen pendidikan. Jangan mengeluh dengan keadaan yang dirasakan saat ini. Kita tidak boleh sibuk mencari alasan, justru yang mesti dilakukan adalah memperbanyak solusi. Upaya yang dilakukan sekarang adalah menyiapkan formula yang efektif dan efisien. Menciptakan generasi berkualitas tidaklah gampang. Dengan masalah pandemi sekarang ini maka proses peneluran generasi emas pun juga menjadi tantangan tersendiri. Satu hal yang perlu diyakini bahwa optimisme, ketulusan, dan keikhlasan pendidik dalam bekerja bisa menjadi obat mujarab penyakit kronis pendidikan akibat Covid-19 saat ini.

Comments (7)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar