0

Optimis Bisa Mengalahkan Keterbatasan (0)

Supadilah S.Si October 24, 2021

Edi meraih juara pertama cabang tenis meja tingkat kecamatan. Namun, dia tidak berlanjut ke kabupaten. Alasannya, dia tidak punya kartu keluarga (KK).

Saya terkejut dengar ceritanya. Zaman sekarang masih ada yang tidak punya KK. Ternyata tidak semua daerah bisa mengurus KK dengan gratis. Biasanya di perkotaan. Namun, di pedesaan banyak yang belum bisa gratis KK.

Masyarakat harus membayar uang transportasi Rp. 100-200 ribu. Itupun harus menunggu sebulan dua bulan bahkan lebih.

Edi adalah siswa di SMP daerah Banten. Sekolah Edi bisa ditempuh selama lima hingga enam jam dari Jakarta. Sekolah dan daerahnya cukup pelosok.

Ketika itu Edi batal bertanding ke Kabupaten. Padahal potensinya sangat besar. Dia berhasil mengalahkan teman-teman sekelas bahkan kakak kelasnya saat pertandingan tenis meja.

Tahun selanjutnya dia punya KK. Dia melaju ke kabupaten. Juri terkejut anak desa bisa mengalahkan siswa-siswa di kota yang sering latihan dan punya klub.

Edi berlatih dengan peralatan seadanya. Betnya bukan bet mahal. Lapangan pun rusak di sana sini. Mengapa Edi bisa menjadi mahir tenis meja?

Edi disiplin berlatih. Dalam sehari bisa 4 sampai 6 jam. Edi berasal dari keluarga yang kurang mampu. Rumahnya berdinding papan, berlantai tanah, dan beratap seng. Sebuah gambaran rumah khas desa. Ayahnya buruh di sawah milik tetangga. Pada saat bertanding di Kabupaten, seorang guru meminjamkan sepatu dan kaos untuknya.

Di kabupaten dia juara pertama. Berlanjut ke provinsi. Dia juara 2. Dia mendapatkan piala dan hadiah yang dibelikannya sepatu dan peralatan tenis meja. Sisanya diberikan kepada orang tua.

Bertemu Edi membuat saya terharu sekaligus sedih. Perjuangannya begitu hebat. Meskipun punya banyak keterbasan, dia tidak menyerah.

Guru bisa saja belajar dari siswa. Dari kisah Edi, saya mendapatkan motivasi berjuang lebih keras mengatasi keterbatasan.

Dalam hidup pasti ada tantangan dan keterbatasan. Sering guru mengeluh akses internet sulit, tidak punya peralatan mengajar, sumber belajar yang terbatas, atau sulitnya menghadapi siswa yang bandel.

Padahal, masalah kita mungkin tidak sebesar yang Edi alami. Nasib kita lebih baik daripada Edi. Kalau Edi bisa bangkit dan berprestasi, kenapa kita tidak?

Sering kita dibatasi pikiran kita sendiri. Pola pikir yang membuat kita tidak maju seperti: ini bukan keahlian saya, ini terlalu sulit, teknologi tidak mendukung, sudahlah saya begini saja.

Termasuk saat menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi. Mungkin kita banyak mengeluh. Padahal mungkin kita kurang memaksimalkan kemampuan kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar sukses menjalankan peran sebagai guru, termasuk saat pandemi.

  1. Terus Mengasah Diri

Sumber ilmu itu banyak. Kuncinya mau belajar. Guru harus punya kemauan untuk terus belajar. Jadi guru bukan berarti berhenti belajar. Belajar bisa dari internet, buku, bahkan dari siswa.

2. Berkolaborasi

Kita bisa berkolaborasi dengan guru lain. Bisa belajar dari guru lain yang sukses dengan belajar daringnya. Jangan malu untuk belajar walaupun kepada guru junior.

3. Semangat dan pantang menyerah

Tidak penting berapa kali gagal. Yang penting adalah berapa kali bangkit dari kegagalan. Ingatlah banyak siswa yang ilmu kita. Jangan kecewakan siswa dan orangtua.

4. Memahami Kondisi Siswa.

Termasuk dalam memilih aplikasi yang tepat. Pertimbangkan kemudahan penggunaan, ketersediaan internet, hingga ukuran aplikasinya.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar