19

Optimalkan kemanfaatan Jejaring Sosial oleh Guru (+14)

Rudy Hilkya May 29, 2013

Para guraru tentu mengenal yang namanya media jejaring sosial, berbagai nama pernah mencuat dan terkenal sejak boom internet seperti Friendster, MySpace, Multiply (yang sempat ada blog-nya dan notes-nya), hingga akhirnya sekitar 2005 kita kepincut dengan Facebook. Sampai dengan tahun 2009-2010 Facebook merajai dunia jejaring sosial dan tentu populasi penggunanya sampai saat ini terus meningkat dan menjadi urutan kedua terbesar dari negara yang banyak penduduknya. Kedudukan Friendster,MySpace kemudian menghilang dan masa kini yang mengemuka Facebook dan dibayang-bayangi twitter.

Kenikmatan berfacebook adalah melihat foto dan tidak didominasi teks, selain itu kita cepat menulis komentar dan dibalas popup (muncul mendadak) bak animasi dan menampilkan banyak album foto serta mudah mengunggah fotonya, dengan kestabilan facebook melalui servernya yang banyak dan terjaring bak sarang laba-laba, kemudahan pengunggahan foto semakin memanjakan pengguna. Setiap saat pemakai baru selain pemain lama yang memiliki banyak akun terus bertambah tak berbatas. Sempat tersiar kabar bahwa Facebook akan tutup dan sempat terjadi migrasi pengguna jejaring sosial ini, tapi itu hanya isapan jempol. Karena sampai hari ini facebook masih berkibar dan terus menerima pendaftar.

Dulu pemanfaatan media sosial saya gunakan untuk menginformasikan kegiatan kelas, ulangan-ulangan, hasil-hasil ulangan, pendapat pribadi bahkan uneg-uneg, seiring dengan seringnya saya tergelincir karena emosi dan kurang kontrol diri, termasuk saya pernah menjadi pengritik sejati pimpinan instansi yang sempat berkali-kali memanggil saya untuk meminta klarifikasi, saya juga sering mendapatkan surat “cinta” dengan perihal minta segera dimutasi hingga diminta mengundurkan diri, pun saya pernah dihujat karena terlalu lebay dan frontal memberi argumen atau pendapat, pernah ada sekelompok peserta didik yang mengatasnamakan gerakan pembaruan sekolah menyuarakan isi hati mereka penderitaan mereka karena ke-frontal-an saya lengkap dengan opini yang tragik. Itu semua tidak menyurutkan tekad dan semangat pribadi saya untuk terus memahami diri dan mempelajari penetrasi maupun dampak negatif media sosial.

Berkali-kali berperang opini, diserang beramai-ramai bak musuh bersama oleh penulis blog lain atau pengunjung lain yang tak beridentitas bahkan yang sering malang melintang di dunia per-blog-an menambah jam terbang menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan, bahkan banyak sekarang yang menyaru sebagai saya untuk mendapatkan keuntungan finansial, modus penipuan hingga pencemaran nama baik dan perbuatan yang tidak menyenangkan. Semua kegundahan dan negativitas tersebut dapat kita klarifikasi dan perbaiki dengan pemanfaatan media sosial secara strategis sekaligus self-control bagi saya selaku guru dan juga penge-blog (narablog sebutan dari rekan saya urip yang Juara 1 Guraru Award tahun 2010).

Saat saya mengikuti seminar-seminar Ikatan Guru Indonesia di Palangka Raya, sekjen IGI, Muhammad Ihsan bahkan mengatakan para guru harus berteman dengan siswa-siswanya melalui facebook agar dapat mengontrol kelakuan, perubahan status hingga pertemanan mereka. Tapi kenyataannya, guru selalu kalah beberapa langkah dibanding siswa ketimbang diGugu dan Ditiru dari segi “kedahuluannya” mengetahui informasi dan ilmu. Sayang sekali ya, di tengah masalah modernisasi dan teknologi ini, para guru selalu tertinggal dan semakin jauh tertinggal. Alasan klise yang dapat kita terima dan (kadang) terpaksa kita telan mentah-mentah adalah “karena kami sudah tua, kami sudah tidak mampu, kami tidak hobi, kami tidak punya kemampuan (apakah uang atau talenta)” atau yang perlu diakui adalah “kami malas berfacebook” karena itu nggak penting, ngapain ngurus-ngurus hal demikian.

Dengan meningkatkan pemakaian twitter yang berada pada urutan populasi ke-7 warga penggunanya dibandingkan jumlah penduduk dunia, perambahan media sosial semakin rumit dan mendivergen ke penjuru dunia, kawasan kita ini diduga masih sedikit pengguna twitter dari kalangan guru. Karena alasan ngga berguna, ngapain, ada ngga untungnya, cuma buang-buang pulsa, padahal beberapa provider seluler telah menggratiskan koneksi twitter dan facebook lho..

Bukankah hal itu sebuah “keuntungan” bagi guru untuk juga eksis di jejaring sosial, dunia maya, selain menulis blog, beraktivitas di dunia tulisan digital, mengaktifkan diri di guraru.org, berseliweran tulisan di kompasiana, selain berselancar dari sekedar melihat foto-foto pemandangan atau apa saja yang menghebohkan, membaca berita atau koran digital. Orang banyak melihat “eksis” di dunia maya justru merugikan (cocok bagi yang low profile) atau introvert, tapi menurut pribadi saya guru yang introvert adalah guru yang eksklusif, bagaimana mau berbagi dan mengajarkan perubahan jika tetap introvert?  Sudah takdirnya bahwa menjadi guru harus berlebay beralay dengan kata-kata, mengobral tulisan yang tentu saja telah dipikirkan matang-matang akibatnya (bagaikan pedang bermata dua), tidak sedikit pula rekan-rekan guru yang terjebak dengan euforia atau bahkan terpeleset saat mengumbar status dan opininya sebab tanpa penyaringan kemanfaatan.

Melalui artikel ini, walau sepenuhnya adalah opini pribadi yang masih jauh dan perlu diriset serta ditelaah, dikaji, dikritik lagi,  sudah saatnya guru membuka diri beraktif ria di jejaring sosial atau media sosial, terserah orang mengatakan bahwa itu Alay itu Lebay itu ngga berguna, itu mubazir atau apapun cacian negatif, perang komentar dan hal-hal yang menyurutkan mental dan langkah kita wahai para pembaharu negeri, guru era baru yang saya muliakan, jangan mundur setapak pun dan jangan surut selangkah pun dari arena ini. Karena kemajuan dan perubahan ada di tangan kita, jangan hanya ada di dalam benak kita sebatas impian tapi mari kita terapkan melalui pemenuhan artikelisasi, tulisan-tulisan inspirasi hingga opini (terlepas dari kontroversi atau yang provokasi maupun opini pendukung terhadap suatu kebijakan) sebagaimana yang dilakukan sebagian rekan-rekan kita Om Jay (Wijaya Kusumah) yang Guru Paling Nge-Blog, Dedi Dwitagama kepsek yang juga Motivator, Agus Sampurno (Guru Kreatif), Urip (blogger Guru Kimia Kalteng dari Pangkalan Bun), dan rekan-rekan lain.

Selain itu melalui artikel ini pula siswa-siswa saya dan juga para alumni yang pernah saya ajar, juga rekan-rekan sosial saya bisa mempelajari dan mengikuti pemikiran dan ekspektasi pribadi. Para rekan maya ini menjadi rekan belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu saja, tanpa harus terkungkung sekat-sekat fisika semata, kemampuan-kemampuan non akademis semakin tergali dan meng”gila” saat ditempa melalui jaringan pertemanan yang teratur, terawat, terawasi. Yang menggembirakan dari penetrasi keberadaan saya, selaku guru, dalam media sosial dengan rekan-rekan siswa yaitu dapat menjadi teman sekaligus sahabat mereka di mana saja berada, bisa curhat bahkan curcol secara langsung (terbuka) atau melalui PM (private message), DM (direct message). Jika saya tergelincir untuk melakukan hal yang bukan-bukan, masyarakat dan rekan-rekan guru serta rekan-rekan belia segera mengingatkan dan memperhatikan dan mengawasi hal-hal negatif yang saya perbuat.

Saya mengingat kembali tulisan #guruseru Bulan April 2013, bahwa “keberadaan guru di dunia maya, dunia penulisan digital, media jejaring sosial akhirnya disayangkan kebanyakan menuliskan isi perasaan dan status yang “gaje” semata, jauh dari kemanfaatan media sosial tersebut sebagai wahana pemersatu dan pembaharu generasi bangsa, tunas-tunas emas Indonesia.

Mari membangun negeri dengan memberikan asupan inspirasi melalui media sosial yang sehat dan terawat serta terawasi.

Salam Guraru

3,017 total views, 1 views today

About Author

Rudy Hilkya

Guru Fisika di SMAN-2 Palangka Raya, aktif berkicau di http://twitter.com/fisikarudy, juga menulis di blog pribadi http://fisikarudy.wordpress.com, mendirikan klub Fisikarudy di facebook selain bisa ditemui bertwitter di @fisikarudy - line, whatsapp juga SMS ke 0811-5204-209 sekarang aktif menjadi reviewer di http://rudyhilkya.com/ juga pada blog abal-abal http://rudykit.blogspot.com, rudyhilkya.wordpress.com

View all posts by Rudy Hilkya →

Comments (19)

  1. Benar, pak.. 😀 Guru harusnya dapat mengikuti kemajuan teknologi seperti jejaring sosial, agar siswa dapat berbagi informasi dengan guru selain itu juga teknologi tidak memiliki batasan umur baik tua maupun muda… Ayo Semangat Bapak dan Ibu Guru di INDONESIA.. 🙂

  2. 1. Jejaring sosial tidak sehangat pertemuan dari langsung tatap muka,
    2. Jejaring sosial membuat guru kecanduan nongkrong di depan komputer daripada membaca buku.
    3. Jejaring sosial membuat lupa akan tugas-tugas utama
    4. Jejaring sosial tidak lebih dari canda, nampang foto, hujat menhujat, pornografi,
    5. Jejaring sosial tidak pro pada kemaslahatan umat.
    asumsi negatif untuk berfikir positif dan merupakan metode keraguan untuk mendatangkan keyakinan

    • Terlepas dari berbagai kontroversi yang melekat padanya, apriory atau tidak semuanya merupakan “kehendak” zaman. Bagi yang merasa jejaring sosial ini tidak berguna memang sesuai dengan kepentingan penganut faham anti sosial, walaupun jejaring sosial juga akhirnya menjadilebih eksklusif dan terlihat nyata “anti sosialnya” sebab hanya nongkrong depat laptop, pc, atau gadget sepertinya terlihat orang lebih asyik sendiri tanpa bertatap muka. Tapi inilah pembaruan atau bagian dari riak-riak gelombang kemajuan zaman. Bagi yang anti kemapanan, tentu media jejaring sosial tidak cocok dan habis-habisan dikritik. Hanya akhirnya pendapat-pendapat miring menjadi suatu kenaifan sebab merasa anti jejaring sosial malah lebih aktif menggunakan media ini dibanding yang mengaku sebahai aktivis di dunia online hehehe …
      salam pak, negatif dan positif harus ada supaya dunia ini seimbang tapi jika negatif saja terus atau positif saja terus maka tidak imbang atau terlalu monoton

  3. ayo guru-guru di Indonesia terutama di SMAN 2 Palangka Raya jangan kalah dengan siswa-siswinya yang dapat mengikuti kemajuan teknologi. Usia bukan penghalang untuk tidak mencoba dan menggunakan jejaring sosial. Ganbatte 😀

  4. Terimakasih pak Rudy telah berbagi. Saya sangat setuju dan mendukung pengggunaan jejaring sosial untuk guru. Memanfaatkan jejaring sosial untuk pembelajaran. Membuka kelas Online di jejaring sosial, pasti menarik ya pak. Salam hormat dan perjuangan…,

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar