2

Optimalisasi Pendidikan Karakter pada Jenjang Sekolah Dasar (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 10, 2020

Terdapat empat pendekatan yang bisa dilakukan dalam menangani korupsi, yakni pendekatan hukum, pendekatan bisnis, pendekatan ekonomi, dan pendekatan kultural. Namun, dari keempat aspek tersebut, pendekatan kultural merupakan hal yang paling penting. Pendekatan yang paling baik adalah cultural approach atau pendekatan kultural melalui sektor pendidikan. Kita harus mengedukasi generasi muda bangsa ini tentang bagaimana membangun integritasnya sebagai pribadi dan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Maka, perang melawan korupsi tidak hanya bisa dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semata, tetapi juga lewat dunia pendidikan, tempat terjadi proses edukasi tentang antikorupsi dan bagaimana membangun integritas serta saling menginspirasi di antara kalangan.

Kemendikbud telah menetapkan bahwa pendidikan karakter dianggap sangat penting dalam keseluruhan proses pembelajaran di sekolah. Dalam buku panduan tentang Pendidikan Karakter di SMP, Kemendiknas (2010), disebutkan bahwa karakter merupakan salah satu faktor terpenting bagi kesuksesan seseorang. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Perhatian lebih akan aspek kepribadian dalam pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dalam upaya mencegah maraknya korupsi di Indonesia, karena sebagai bangsa yang bermartabat, kita tidak boleh menyerah begitu saja untuk menyelesaikan kasus-kasus ini. Semua pihak, mahasiswa, dosen, tokoh masyarakat, politikus, dan para ahli lainnya sudah memikirkan dan membuat upaya-upaya pencegahan terhadap tindakan buruk ini. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik, kami mencoba untuk menawarkan salah satu langkah preventif akan maraknya permasalahan korupsi di Indonesia dengan mengoptimalkan pendidikan berkarakter sejak dini kepada siswa terutama siswa Sekolah dasar. Langkah yang kami tawarkan ini didasarkan pada keyakinan bahwa para pelaku korupsi merupakan orang yang memiliki karakter diri yang buruk dan tidak bermartabat.

Pengenalan nilai-nilai dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran merupakan tujuan pendidikan karakter di sekolah. Proses pembelajaran tidaklah semata-mata untuk mencapai kompetensi yang ditargetkan tetapi juga untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai menjadi perilaku.

Pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pencapaian visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005—2025, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang-nya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sasaran pendidikan karakter yang ditawarkan adalah seluruh Sekolah Dasar (SD) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya. Melalui program ini diharapkan lulusan SD memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka pendidik dapat melaksanakan proses penanaman karakter dengan memodifikasi dua tahap pembelajaran, yakni tahap perencaan pembelajaran dan tahap implementasi pembelajaran.

Tagged with:

Comments (2)

  1. Pemberantasan korupsi juga harus dimulai dari sekolah tempat siswa belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak praktik “korupsi” yang terjadi di lembaga sekolah. Misal pengadaan buku, pengadaan fasilitas, permohonan dana rehab, dana bos, dan sejenisnya yang masij tidak tepat sasaran.
    Jika ini masih terus terjadi maka pendidikan karakter tidak akan efektif

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar