0

Nguing nguing (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto April 11, 2021

Setahun yang lalu, sebelum pandemi menyapa, saya ikut rombongan wisata ke Pulau Dewata. Acara ini diikuti oleh para kepala sekolah se-kecamatan berikut karyawan kantor Korwilker satuan pendidikan kecamatan. Ada beberapa pegawai yang pensiun sehingga digelarlah acara ini sebagai bentuk perpisahan dengan para sesepuh pendidikan kecamatan tersebut.

Seluruh acara berjalan lancar sampai saat kepulangan di hari Ahad sore. Tujuan wisata terakhir kami adalah Pura Tanah Lot. Rencananya setelah dari Tanah Lot rombongan akan langsung bertolak menuju Pelabuhan Gilimanuk. Tetapi ternyata keberangkatan dari Tanah Lot molor dari waktu yang telah ditetapkan.

Beberapa  orang mengeluhkan akan lamanya waktu perjalanan pulang, mengingat kemacetan yang biasanya terjadi di hari Ahad sore.

“Waah, nyampek jam berapa ini nanti ya?”

“Lewat tengah malam pastinya.”

“Duuh, gimana nih, besok bakalan ngantuk ini di sekolah,”

Dan seruan-seruan serupa itu. Maklum, para kepala sekolah yang mengikuti kegiatan ini rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun, jadi staminanya sudah menurun.

Tak berapa lama kemudian bus berhenti, seperti menunggu seseorang atau sesuatu. Kemudian sebuah mobil patwal berhenti di depan kami. Seseorang keluar dari dalamnya dan menyerahkan sebuah walkie talkie kepada kru bus kami, setelah itu mobil patwal tersebut berjalan di depan kami. Tak lama, sang tour guide berkata,

“Nah, Bapak Ibu, di depan kita ini adalah mobil patwal yang akan memandu kita. Biasanya jam-jam segini jalanan menuju pelabuhan rawan macet, maka sebagai fasilitas dari PO kami, kami menyediakan mobil patwal untuk membebaskan kita dari kemacetan.”

“Waah!”

“Horee!”

“Alhamdulillah!”

Suara-suara dari dalam bus ini terdengar riuh.

“Kami sadar, Bapak Ibu pasti ingin cepat sampai di rumah, karena besok harus dinas seperti biasa. Maka pemilik PO ini tadi menghubungi pihak Polda Bali untuk meminta pengawalan agar terbebas dari kemacetan.”

“Asyiik!”

Terbukti kemudian, mobil patwal di depan kami segera beraksi membebaskan kami dari kemacetan yang luar biasa. Lampu merah diterjang. Kendaran-kendaraan lain segera minggir begitu mendengar sirine dari mobil di depan kami. Yang membuatku dag dig dug adalah saat kami harus menyalip mobil-mobil di depan kami, sementara dari depan ada kendaraan lain. Terus terang aku tak ingin mengalaminya lagi.

Dalam hati aku membatin, biasanya aku paling benci dengan sirine patwal gak jelas seperti ini. Bukan kendaraan yang urgent yang dikawalnya, seperti ambulans atau mobil jenazah. Tetapi patwal sekarang sering mengawal kendaraan touring atau yang cuma rombongan wisata seperti kami sekarang ini. Mereka sering membuat kami yang sedang berkendara di jalan kaget, dan bahkan mengumpat dalam hati.

Ternyata sekarang kok aku sendiri berada di dalam mobil yang diiringi oleh patwal. Rasanya dalam hatiku ada pertentangan batin. Kulihat sekelilingku, mereka yang sebagian besar adalah pejabat itu sepertinya merasa bangga dengan kondisi yang kami alami sekarang. Bayangkan saja, truk tronton dan peti kemas yang besar-besar itu rela minggir demi memberi jalan kepada rombongan kami. Meskipun mungkin dalam hati mereka mengumpat, setelah melihat bahwa yang lewat hanyalah rombongan wisata biasa. Seperti aku biasanya. Ironis rasanya. Apalagi rombongan kami adalah rombongan pendidik, yang seharusnya memebrikan contoh yang baik.

Jaman sekarang apa yang tidak bisa dibeli oleh uang. Waktu pun bisa dibeli jika kita punya uang. Buktinya kami bisa sampai di rumah tepat waktu karena kami bisa membeli patwal.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar