4

NGOBYEK .., (+5)

Dhani Aryanto May 29, 2013

Sekarang ini makin marak guru, mulai dari guru tingkat  TK, SD, SMP, SMA/SMK  yang menyelenggarakan les alias ngobyek di sekolah pada siswa-siswanya di luar jam pelajaran. Anehnya, kegiatan yang  cenderung mengarah pada malapraktek pembelajaran dalam  pendidikan  ini malah tumbuh subur . Sesungguhnya jika ditarik sebuah pertanyaan, ada apa dengan dunia pendidikan di negeri ini ?

 

Program pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru telah dilakukan dengan berbagai cara. Namun kenyataanya, masih banyak guru-guru di negeri ini yang  mencari tambahan penghasilan dengan cara-cara yang lucu alias ngobyek, misalnya mengadakan les privat bagi siswa-siswanya di sekolah .Munculnya program sertifikasi guru, tunjangan fungsional, tunjangan kinerja, pemberian insentif guru, tunjangan daerah terpencil, bukankah merupakan upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru-guru di negeri ini.

Jika ditelusuri lebih mendalam,  masih banyak ditemukan guru-guru yang mengadakan les privat atau ngobyek di sekolah, di luar jam sekolah. Anak-anak mengikuti kegiatan les dengan berbagai gejolak psykologis yang bercampur aduk, mulai dari rasa ngantuk, lapar, dan rasa takut yang berlebihan. Betapa tidak, anak-anak yang tidak ikut kegiatan les, harus siap-siap untuk tidak memperoleh nilai yang bagus. Sehingga mau tidak mau, suka atau tidak suka, sebagian besar siswa dengan amat terpaksa harus mengikuti kegiatan les privat di sekolah.

Kegiatan ngobyek guru yang berupa les privat yang diselenggarakan di sekolah, sesungguhnya memunculkan banyak problematik. Pertama, munculnya kecemburuan sosial di kalangan orang tua / wali murid. Tidak jarang guru yang menyelenggarakan les privat di sekolah menimbulkan protes orang tua / wali murid, terutama mereka yang anak-anaknya tidak mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini dipicu oleh perbedaan yang mencolok pada nilai ulangan harian, antara siswa yang ikut les privat dengan siswa yang tidak ikut les privat.Sumbernya setelah ditelusuri secara mendalam, sang guru ternyata telah memberikan soal-soal ulangan harian pada kegiatan les privat sehari sebelumnya. Sehingga secara otomatis anak-anak yang mengikuti kegiatan les privat tersebut, nilai yang dicapai dalam ulangan lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mengikuti kegiatan les.Soal ujian atau ulangan hampir mirip dengan soal-soal latihan dalam kegitan les privat, namun dirubah model dan angkanya saja.

Kedua, pergeseran orientasi siswa dalam menempuh pendidikan di sekolah.Banyak anak dan termasuk orang tua siswa yang mengalami pergeseran dalam hal orientasi tujuan menempuh pendidikan di sekolah. Tujuan yang semula mencari ilmu sebanyak-banyaknya, berubah menjadi mencari nilai raport sebaik-baiknya atau setinggi-tingginya. Orang tua bukan menginginkan terjadinya perubahan pengetahuan, perilaku, sikap, ketrampilan pada anak-anaknya, tetapi yang penting nilai raport sebaik-baiknya.

Ketiga, bertambahnya beban biaya sekolah bagi orang tua / wali murid. Siswa yang mengikuti kegiatan les privat  di sekolah harus mempersiapkan segala persiapan les, mulai dari buku les,  uang untuk membeli konsumsi atau makan siang. Sehingga mau tidak mau, orang tua / wali murid hatus memberikan uang saku lebih dari hari-hari yang lain.Belum lagi biaya yang harus dibayar oleh orang tua/wali murid untuk bisa mengikuti kegiatan les privat tersebut. Bagi orang tua/wali murid yng mampu bukan sesuatu yang mahal, tetapi bagi orang tua/wali murid yang penghasilannya pas-pasan, pembayaran les privat agak memberatkan adanya.Bukanlah dalam pendidikan diperlukan adanya kesejaraan dan keadilan,bukan sebuah diskriminasi. Semua anak wajib memperoleh pendidikan, yang tidak didasarkan pada kemampuan finansial orang tua/wali murid.

Keempat, penggunaan fasilitas dan sarana / pra sarana sekolah yang berlebihan. Proses kegiatan les biasanya dilakukan setelah selesai proses pembelajaran di kelas, sehingga secara otomatis menggunakan sarana prsarana sekolah. Penggunaan segala fasilitas sekolah untuk kegiatan les privat sesungguhnya merupakan bentuk dari perilaku menyimpang di kalangan guru. Diakui atau tidak, sarana prasarana sekolah yang digunakan secara berlebihan akan mempercepat proses kerusakannya. Jika telah mengalami kerusakan, maka proses perbaikannya pasti menggunakan dana yang bersumber dari bantuan pemerintah dan sumbangan dana dari orang tua/wali kelas.

Kelima, kecemburuan sosial antar guru di sekolah. Tidak dapat dipungkiri lagi jika kegiatan ngobyek atau les privat yang diselenggarakan di sekolah memunculkan saling iri, saling cemburu antara guru yang mengadakan les privat di sekolah dengan guru yang tidak mengadakan les pivat di sekolah. Guru yang memberikan les privat di sekolah, jelas memiliki penghasilan tambahan setiap bulan, yang semuanya amat tergantung pada dana sumbangan siswa peserta les.Makin besar dana sumbangannya, tentu makin besar penghasilan guru yang bersangkutan.Hal ini ironis dengan guru yang tidak ngobyek atau mengadakan les privat di sekolah, hampir dipastikan tidak ada tambahan penghasilan rutin setiap  bulan. Sehingga memunculkan suatu  istilah di kalangan guru, guru yang ngobyek berpenghasilan “basah”, dan guru yang tidak ngobyek berpenghasilan “kering”. Ironis memang, tetapi inilah kenyataan yang sebenarnya terjadi di sekolah-sekolah di negeri ini.

Problematik yang melingkari kegiatan ngobyek guru yang berupa les privat di sekolah tersebut, selayaknya perlu dicarikan solusi pemecahannya secara komperehensif dan berkelanjutan, sehingga kelak tidak menjadi beban orang tua/wali murid, dan sekolah.

 

WIN-WIN SOLUTION

Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini, peran guru sangat sentral dan urgens. Karena guru lah yang sebenarnya sangat menentukan  berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.Sewajarnya guru tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi yang paling penting yakni memikirkan peningkatan kualitas dan prestasi siswa dengan cara-caara yang benar.

Jika guru berkeinginan untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswanya, maka perlu adanya penambahan tugas terstruktur bagi siswa. Tugas yang harus dikerjakan oleh siswa tersebut, dibahas dan didiskusikan guru bersama siswa di luar jam pembelajaran.Sehingga tidak mengganggu jam proses belajar mengajar, tetapi siswa memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuannya secara baik, benar dan prosedural.

Motivasi berprestasi bagi siswa dan guru di sekolah harus dikembangkan secara proporsional. Siswa memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, dengan cara yang benar, sistimatis dan prosedural. Di lain pihak, guru juga meningkatkan motivasi berprestasi secara berkelanjutan dan tidak pernah berhenti pada suatu titik tertentu. Motivasi berprestasi siswa yang tinggi, didukung oleh motivasi guru yang kuat, sesungguhnya merupakan sebuah sinergi yang luar biasa bagi pengembangan pendidikan di sekolah.Siswa dan guru saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, secara baik, benar dan berkesinambungan.

Peran serta dan partisipasi orang tua/wali murid dalam meningkatkan kemampuan putra-putranya, dengan memberikan fasilitas belajar yang memadai di rumah. Tidak kalah pentingnya adalah peran orang tua/wali murid, nilai yang bagus tidak dicapai dengan cara-cara yang instan.Nilai yang bagus harus dicapai dengan cara-cara yang rasional, dan tidak menghalalkan segala cara.Sarana dan perlengkapan belajar anak harus dipenuhi secara memadai dan sesuai dengan tingkat kebutuhan anaknya.

Guru-guru yang memiliki waktu longgar, selayaknya menyalurkan potensi akademiknya dengan bergabung dalam lembaga bimbingan les yang resmi di luar sekolah.Hanya dengan cara seperti ini guru bisa mengembangkan kemampuan keilmuannya, dan bisa berdiskusi dengan siswa-siswa lembaga bimbingan yang berasal dari berbagai sekolah.Disinilah sesungguhnya, kompetensi akademik sorang guru benar-benar diuji, karena sang guru berhadapan dengan siswa yang berbeda latar belakangnya.

Pimpinan sekolah bersikap tegas dan bijaksana dalam menangani guru yang ngobyek berupa kegiatan les di sekolah.Kegiatan guru ngobyek di sekolah harus dikelola secara baik dan benar, dalam hal manajemen, administrasi keuangan, dan kualitas gurunya. Kegiatan ngobyek guru atau les privat di sekolah tidak hanya sekedar taktik dan cara guru mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi kegiatan guru ngobyek dalam les di sekolah harus mampu meningkatkan dan menggairahkan semangat belajar siswa secara keseluruhan dan berkelanjutan.

Kajian berkaitan dengan kegiatan guru ngobyek di sekolah ini tidak bermaksud melarang dan menghapus kegiatan les privat di sekolah, tetapi yang paling urgen yakni perlu adanya evaluasi dan refleksi diri. Kegiatan ngobyek guru di sekolah harus dikembalikan kepada roh yang sesungguhnya, yakni dalam rangka meningkatkan prestasi siswa secara proporsional dan bermartabat.Kegiatan les privat di sekolah harus dikelola secara baik, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tua/wali murid, masyarakat, dan pemerintah, secara rutin, teratur, sistimatis dan rasional. Guru ngobyek tidak masalah, yang paling urgens tetap dalam koridor profesionalisme dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tua/wali murid, masyarakat, dan lembaga yang terkait. Selamat ngobyek guru, namun dengan semangat profesionalisme untuk mewujudkan mimpi sang guru, sejahtera lahir dan batin..!! Amin..

“Lomba Artikel Guraru”

Comments (4)

  1. saya pikir anda harus memiliki data riset yang kuat dan faktual daripada sekedar “menyalahkan” kegiatan ngobyek ini, karena itu juga perlu dilihat dari sisi siswanya, apakah benar mereka dipaksa, harus mengantuk, harus ini harus itu, dan sepertinya anda lebih membenarkan untuk tidak menerima les dengan berbagai macam bentuk, kalau toh akhirnya dikelola oleh sekolah bukankah berarti sekolah “membiarkan” bahkan “menerima” ngobyek secara legal?
    Ataukah sekolah ingin menjadi saingan lembaga bimbingan belajar yang notabene lebih mengarah pada latihan soal dan drill? Salahkah sekolah melakukan hal itu? Salahkah subur juga bimbingan belajar? Ataukah guru tidak boleh sama sekali dengan alasan sudah sertifikasi? Jangan salahkan siapa-siapa, sebab kita juga belum tahu benar mengapa sertifikasi menjadi alasan masalah

  2. Kepala sekolah juga mestinya jangan hanya menerima laporan sepihak jika ada guru yang ngobyek, perlu keterbukaan dan keselarasan karena guru juga manusia, angka nilai gajinya besar dan luar biasa tapi lihat keperluannya, kebutuhannya, sudah selaras? sudah cocok? ataukah nilai itu juga habis di pembayaran cicilan koperasi, cicilan rumah, cicilan bank, cicilan kendaraan bermotor, cicilan kredit karena anak-anak guru juga les, juga sekolah, juga bayar uang sekolah, tidak ada keistimewaan pada anak guru seperti orang lain.
    Coba ditelaah jauh lebih dalam jangan hanya menilai dari luarnya saja, guru pun memerlukan martabat dan jangan selalu dipersalahkan dengan kekurangannya.

  3. secara umum saya setuju sekali dg tulisan Pak Dhani Aryanto. Bahkan teman saya di SMP swasta Islam di Denpasar, kepseknya mengluarkan “fatwa” haram bagi gunya utk melaksankan les privat utk siswa sendiri.

    Sebenarnya les privat tidaklah mengapa, ASALKAN siswa yg di les kan adalah BUKAN siswa yg diajarkan di kelas di sekolah sendiri. Semua org butuh tambahan penghasilan, apalagi guru swsta seperti saya. Sepanjang pengalaman saya, bila siswa yg kita les kan adalah anak kita sendiri, walau kita akan jujur memberikan nilai, guru TIDAK AKAN LEPAS dari memberi nilai yg bagus utk siswa les nya. Tidak mungkin jari ini akan memberi nilai yg jelek pada siswa. Silakan rasakan “perang batin” ini.

    Dan bagi saya, TINGGALKAN. Dari pada hati resah. Rizki Alloh luas. Kita bisa cari dari siswa lain. Pasang iklan misalnya. Alhamdulillah, tiap tahun saya masih dapat tambahan, dan bukan dari murid sayadi sekolah.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar