6

Nasib Kitab Kuning di Era Digital (0)

Supadilah S.Si December 6, 2020

Nasib Kitab Kuning di Era Digital – Sebuah koran nasional memutuskan tidak lagi dicetak. Tapi pakai digital saja. Apa alasannya? Pembaca koran nasional itu sudah banyak beralih ke digital. Data ini kemungkinan besar diambil dari data penelitian perusahaan tersebut.

Termasuk dari survey yang dilakukan. Saya sendiri mengisi survey tersebut. Selain itu, alasan terbesar tentu biaya cetak yang jauh lebih besar daripada biaya dalam digital. Daya baca masyarakat pun mempengaruhi. Daya baca yang menurun menjadi penyebab minimnya penjualan koran cetak.

Pemasukan dari penjualan tidak sebanding dengan biaya cetak dan operasional. Tren pembaca pun semakin beralih ke bentuk digital. Kemajuan internet mendukung. Koneksi yang cepat, harga murah kuota, dan murahnya smartphone membuat orang semakin beralih ke dunia digital. Pagi ini saya ikut ke acara lomba baca kita kuning yang diadakan oleh sebuah lembaga.

Hadiah besar lho. Juara 1 Rp. 1000.000, juara 2 Rp. 750.000, dan juara 3 Rp 750.000. ketiganya pun dapat piala. Lalu ada juara harapan 1-3. Tahu berapa pesertanya? Ada enam orang.

Jadi semuanya jadi juara. Tinggal siapa yang jadi terbaik saja. Kalau tahu jumlah pesertanya, semua peserta pasti agak santai. Sebab pasti akan jadi juara. Kitab kuning ini selain memang berwarna kuning, huruf arabnya ditulis tanpa tanda baca alias Arab gundul. Makanya ada kesulitannya.

Sebab pembaca harus mengira-ngira kata apa yang dibentuk oleh huruf. Untuk dapat membacanya perlu ilmunya. Ilmu ini didapat dengan mondok. Ya. Pondok pesantren memang identik dengan kitab kuning. Bahkan kadang ada anggapan bukan dikatakan pondok pesantren kalau tidak belajar kitab kuning.

Lalu bagaimana tren membaca kitab kuning di zaman digital ini? Apakah tereduksi juga dengan maraknya media digital? Saya rasa trennya masih sama. Untuk orang umum memang kitab kuning ini tidak populer. Jadi tidak ngaruh dengan kemajuan digital. Tapi bagaimana dengan santri?

Santri tetap ajeg ya dengan kitab kuning. Sebab ini menjadi identitas santri. Kalaupun ada berkurang tentu tidak signifikan. dan ini harus dipertahankan.

Sebab di kitab kuning ini banyak ilmu-ilmu agama yang mendasar. Kitab kuning menjadi dasar bagi penulisan kitab atau buku lainnya.

maka sangat rawan kalau sudah tidak ada lagi yang mampu membaca kitab kuning. Bisa hilang ilmu yang menjadi pegangan kita saat ini. Banyak hal yang bisa dijelaskan dengan mengkaji kitab kuning ini.

Misal tentang jual beli. Zaman sekarang kan banyak macamnya. Jual beli online contohnya. Zaman dulu kan belum ada. Lantas boleh tidak jual beli online? Nah, sebelum memutuskan boleh tidak bisa dicari hukumnya di kitab kuning ini. Semacam menjadi panduan bagi kita dalam menyikapi banyak hal yang kita alami di dalam kehidupan.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar