18

Murid Pindahan (+4)

Botaksakti January 24, 2014

“Ah, penakut kamu! Mustinya kamu segera bertindak! Kamu kan punya kuasa!”, sodok seorang teman. Itu dikatakannya ketika saya mengeluhkan tentang seorang anak yang sedikit ‘kurang ajar’.

Saya tersenyum saja. Orang lain memang begitu mudah berbicara seolah mereka menguasai masalah yang sebenarnya.

“Masalahnya dia itu murid kita, lho!”, saya mencoba beralasan.

“Justru itu, kalau kamu tidak segera bertindak, anak itu akan melunjak!”

Begitulah, teman saya itu terus saja mendesak agar saya segera bertindak. Apalagi, katanya anak itu ‘lurang ajar’ tidak hanya kepada saya, tetapi juga kepada beberapa teman guru yang lain. Kebetulan, saya wali kelasnya. Mungkin itu sebabnya saya yang ‘ketiban’ abu untuk ‘segera bertindak’.

Kalau menuruti nafsu kemanusiaan, bisa saja saya mengambil jalan pintas untuk anak itu. Akan tetapi, berhubung posisi saya sebagai guru, maka saya merasa harus bertindak hati-hati. Saya tidak membolehkan diri saya sendiri untuk meletup tanpa kendali. Hati-hati saya mencoba memahami apa di balik ‘kekurang ajaran’ seorang anak.

Bagaimanapun, ulah mereka itu pasti bukan tanpa sebab. Menarik bagi saya mengetahui isi benak mereka yang sebenarnya. Biasanya, bila itu terjadi ada banyak hal yang saya dapatkan. Kadang memang saya harus memperbaiki cara saya mengajar, menyederhanakan bahasa yang saya gunakan, dan beberapa lagi. Pendek kata, sampai detik ini saya belum merasa rugi dengan langkah yang saya tempuh.

Pernah suatu ketika, seorang anak bersikap begitu menentang. Segala penjelasan saya ia coba untuk patahkan. Segala cara dan pendapat ia sampaikan demi tujuan itu. Sampai suatu ketika, entah di titik mana saya lupa, tiba-tiba anak itu berubah. Pendapatnya mulai berisi, caranya menyampaikan juga mulai berubah.

Agak heran melihat perubahan anak itu, saya coba memancing seorang temannya.

“Eh, Rin, kamu tahu nggak kenapa si Anto seperti berubah gitu sekarang? Sama guru lain masih ‘kurang ajar’ nggak?”

“Iya, Pak, memang dia sudah berubah kayaknya. Pernah sih cerita, katanya ia merasa gagal memancing kemarahan Bapak. Konon, di sekolahnya yang lama, guru-gurunya cepat marah kalau ia bertanya yang aneh-aneh. Itu pula yang kemudian membuatnya pindah!”

Oh, jujur saja, saya belum pernah mendengar cerita itu. Rupanya, memang ada sesuatu yang membuatnya pindah. Itu tidak seperti yang dikatakan sewaktu masuk dulu. Konon, kata orang tuanya, anak itu pindah ke sekolah saya karena mengikuti orang tuanya yang juga pindah dari Bangka ke Jakarta.

Saya tertegun. Benar kata orang, di balik kenakalan seorang anak boleh jadi tersimpan sebuah potensi. Tugas kita, guru dan orang tua, mengarahkan mereka untuk mengartikulasikan potensi itu dengan cara yang baik. Menanggapinya dengan kemarahan, agaknya bukan jalan terbaik.

Comments (18)

  1. Anak yg berpotensi sebagian cepat kecewa jika mereka tak bisa menyalurkan potensinya. Mereka bisa sukses, bisa juga gagal, bergantung pada proses. Arahan orang tua dan guru yg tepat Insya Allah tak membuat mrk gagal. Ayo kita bina mrk. Salam perjuangan.

  2. Diperlukan siasat menggali potensi diri siswa dengan pengetahuan yang cukup

    Tanah-pun kalau digali banyak hal yang akan kita temukan: ada cacing, ada batu, ada air, ada emas (mungkin) hanya menggalinya perlu ilmu dan kesabaran dan tidak mudah terpancing marah

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar