16

Murid Anda Membajak Metromini: Bagaimana rasanya? (+3)

Botaksakti November 17, 2013

Heboh dunia pendidikan kembali muncul 35 orang siswa SMA N 46 Jaksel membajak sebuah bus Metromini. Mereka melakukannya karena ingin tawuran(menyerang) sekolah lain. Mengapa masih saja terjadi? Bagaimana rasanya para pengajar di sekolah yang siswanya berlaku seperti itu?Tentu mereka sangat sedih. Tidak mungkin rasanya bila mereka malah bangga dengan ulah siswanya itu. Lantas apakah kita harus diam saja?

Mungkin bukan cara yang tepat andai kita hanya memegang dada kiri dan berkata,”Saya prihatin!” seperti yang sering kita lihat dicontohkan oleh seorang pemimpin negeri ini. Bagaimanapun, kiranya tindakan anak-anak itu bukanlah kenakalan biasa yang cukup disikapi seperti itu. Harus ada sebuah tindakan untuk menghentikan kelakuan seperti itu. Pembiaran hanya akan membuat yang lain mencontohkan sebagai sebuah tindakan yang sah dilakukan.

Maka agak bisa dimengerti bila kemudian Wagub DKI bersuara keras soal ini. Menurutnya, anak-anak tersebut harus dikeluarkan atau setidaknya dipindahkan. Ahok tidak rela bila APBD DKI dinikmati untuk biaya pendidikan anak-anak sok jago. Bahkan, ia menantang KPAI yang selama ini menurutnya cenderung melindungi anak-anak bermasalah tersebut daripada melindungi kepentingan anak-anak lain yang menjadi korban dari anak-anak tersebut.

Seiring berkembangnya ‘demokrasi’ warna kehidupan di negeri ini juga semakin berubah. Sekolah banyak kehilangan kewibawaan baik oleh sebab dari dalam maupun dari luar. Semua merasa berhak mengatur sekolah, dan sekolah tersandera pada berbagai ‘kelas’ yang ingin dicitrakannya. Dan akibatnya, meski saling menyalahkan bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan, faktanya sekolahlah yang paling mudah dikambing hitamkan. Dan celakanya, yang bisa menyalahkan sekolah tidak terbatas orang yang berpendidikan.

Persoalan kenakalan seperti di atas, biasanya memunculkan berbagai analisis. Ada yang menganggap bahwa anak-anak itu kurang didengarkan, kurang disediakan fasilitas yang memadai untuk menyalurkan energi mereka yang besar. Di lain pihak, ada yang menganggap bahwa hal itu tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan biasa, alias kriminal.  Untuk itu harus ada tindakan sesuai hukum yang berlaku.

Berbagai tanggapan tersebut mungkin tidak akan menyelesaikan masalah sepanjang hanya dipelihara sebagai wacana. Semua pihak ada baiknya kembali berintrospeksi tentang apa yang seharusnya dilakukan, apa yang belum dilakukan, dan apa yang masih bisa dilakukan. Sekolah mungkin sudah melakukan segala cara untuk menghentikan perilaku tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun sekolah punya keterbatasan. Mereka tidak bisa menjaga para siswanya di luar sekolah. Peran inilah seharusnya diambil tanggung jawabnya oleh anggota masyarakat yang lain. Maka duduk bersama dan merumuskan kembali tugas dan tanggung jawab masing-masing boleh jadi menjadi awal mula selesainya persoalan ini. Mungkin ada rekan guraruers yang punya saran? Selamat Minggu pagi!

 

Comments (16)

  1. setuju Pak Botaksakti kita harus berbenah, tidak saling mengecam. Tindakan riel yang kita butuhkan
    tapi angka juga bisa diambil dari K1, K2, K3, dan K4 Pak. Tidak hanya hasil kognitif saja seperti ulangan harian, ulangan semester, atau bahkan UN
    Mari kita perbaiki dari kelas kita untuk menciptakan generasi unlimited 🙂
    ***** 🙂

  2. Mudah-mudahan kedepan pihak sekolah tidak lagi dijadikan kambing hitam oleh masyarakat. Tujuan mulia pendidikan akan tercapai jika ada sinergi antara pihak sekolah, orang tua, media dan anggota masyarakat. Jika slah satunya tidak berjalan baik, maka hasilnya pun tidak akan maksimal.

  3. Pak Muammad Nur’alim: di jakarta, meski jam belajar sampai sore sepertinya juga tidak menjamin. Anak-anak yang pulang siang saja, banyak kok yang berkeliaran sampai malam sebelum pulang ke rumah. Maka, gagasan jam malam oleh Gub. tempo hari sebenarnya menarik. Sayangnya banyak direspon negatif. Trims, salam!

  4. Di era Pak Harto jika ada mahasiswa yang demonstrasi langsung dicari siapa yang membiayai, yang membiayai langsung dicari dan diamankan dan mahasiswanya dipanggil kemudian diberi pengertian: “kamu itu pintar tapi sayang mau dimanfaatkan orang lain, sudah kamu negara sekolahkan ke luar negeri saja” begitu selesai pendidikan kamu mau jadi pengusaha atau pejabat? sekarang ini demo dimana-mana, termasuk para buruh-pun terus mengupayakan UMR tanpa mempertimbangkan biaya produksi dan anehnya besarnya lebih tinggi daripada gaji guru Honorer yang sarjana, kita khawatir yang punya pabrik satu persatu akan menutup pabriknya dan ramai-ramai pindah ke luar negeri karena tidak nyaman, para investor akan menarik sahamnya dan pindah ke luar dan otomatis dolar akan ditarik keluar sehingga rupiah melemah (karena jumlah dolar menjadi sedikit) he he he kata pengamat kemaren sore. Demikian juga pilkada dimana-mana seru, semua gak ada yang siap kalah, anak-sekolah banyak yang tauran beberapa hari yang lalu di cibadak sukabumi anak smk sampai tercebur di sungai gara-gara tauran dan wafat demikian juga berita serupa di hampir seluruh pelosok tanah air. ini sangat memprihatinkan, eh sekarang ini seperti artikel pak Botaksakti… waduh…di TV banyak pengamat yang membela siswa, ada juga yang geregetan ingin selesaikan pakai ranah hukum… jadi semua jadi seru ke depan, sebentar lagi pemilu… semua partai merasa benar semua….wah seru nie, semoga kita bisa membiasakan anak-anak kita yang laki-laki magrib dan subuh terutama… bawa ke masjid sholat berjamaah, yang anak perempuannya berjamaah dengan ibunya, anak-anak di sekolah perlu terus dimotivasi dan diberikan pemahaman baik dan buruk. Semoga pemerintah dan yang berwenang bisa tegas demi kewibawaan dan keberlangsungan negara (kata guru PKn setelah solat berjamaah di mushola)

  5. Pak Subhan: itulah, sekarang banyak orang tua yang lebih menghargai ayamnya dibanding anaknya. Ayamnya magrib gak pulang bingung nyari-nyari, giliran anaknya gak pulang malah santai bin kalem 😀 Trims, salam jelang Magrib! 😀

  6. merinding.
    benar, sekolah tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk kasus2 semacam itu.
    dan kalau kemudian Ahok mengusulkan agar mereka dikeluarkan, dipenjara, terus masalah akan selesai, dan kejadian-kejadian serupa tidak akan terulang lagi? Bagaimana pun, mereka adalah anak-anak muda yang sedang pubers yang tidak bisa mengendalikan jiwa mudanya. Didukung kondisi sosial Jakarta yang memang sudah amat semrawut kejadian semacam itu sulit dihindari.
    “Saya prihatin dengan para pemimpin negeri ini yang sibuk mengurus citra diri mereka sendiri.”
    selamat pagi. 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar