0

Mumu Teruslah Berjuang (0)

Supadilah S.Si November 15, 2021

Cerita Anak – Mumu semut bersama teman-temannya keluar dari sarang. Seperti biasa, mereka mencari makan. Mumu adalah semut yang riang. Di perjalanan dia bercakap-cakap dengan riang.

Saat ini musim hujan. Tadi malam hujan deras. Mereka berjalan dengan hati-hati karena jalan becek.

Tito sang pemimpin rombongan berada di paling depan. Tito memberi tahu di depan ada genangan air.

“Hati-hati, di depan ada genangan air. Kita sedikit berbelok saja,”

Ternyata tak cuma satu, genangan demi genangan mereka temui dan lewati. Perjalanan pun semakin sulit dan semakin jauh dari biasanya.

Mereka terus s mengayunkan langkah. Sampai beberapa jam kemudian mereka sampailah di depan sebuah rumah. Mereka merayap dengan hati-hati.

Lebih dulu mereka sampai di teras rumah. Dengan teliti mereka merayapi teras. Mencari sisa makanan apa saja yang bisa mereka bawa pulang ke sarang. Sekian lama mengendap-endap dan mengendus bebauan yang khas dari makanan.

 Kali ini mereka berpencar. Agar semakin luas tempat yang mereka cari. Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya Toto menemukan remah makanan.

“Teman-teman, ini ada makanan. Kalian ke sini,” kata Toto.

“Coba aku lihat,” jawab Mumu. Mumu dan teman-temannya segera mendatangi Toto

Karena terburu-buru, Mumu terpeleset. Bruk. Mumu jatuh berdebam. Badannya terasa sakit. Tapi kakinya juga terasa sakit.

“Aduh, kakiku sakit,” erang Mumu.

“Mumu, kamu tidak apa-apa? Apanya yang sakit?” tanya Tito sang pimpinan rombongan.

“Kakiku sakit. Sepertinya terkilir,” jawab Mumu sambil menahan sakit.

Tito meneliti kaki Mumu. Kemudian sedikit mengurutnya. Mumu terlihat semakin kesakitan. Namun, beberapa lama kemudian dia merasakan sakitnya berkurang.

“Kita istirahat sebentar. Toto, kamu amankan dulu makanan kita tadi. Kita langsung pulang,” Tito memberikan arahan.

“Tapi kita belum dapat banyak makanan, Tito,” Mumu memprotes.

“Tidak apa-apa. Lagian hari mau hujan. Kita sebaiknya pulang saja. Kamu kan sakit. Kalau kita bawa banyak makanan, kita susah jalan,” jawab Tito bijaksana.

Setelah merasa lebih baik, Tito mengajak teman-temannya pulang. Mumu tidak ikut membawa makanan karena dia sakit.

Namun, di dalam hatinya dia merasa tidak enak. Dia menyesal kenapa dia tidak hati-hati. Coba saja kalau dia tidak buru-buru. Mungkin musibah ini tidak akan dialaminya.

 Tanah di sana masih licin karena hujan tadi malam. Itulah yang membuat Mumu terpeleset.

Mereka dalam perjalanan pulang. Kali ini mereka lebih lambat dari saat berangkatnya.  Mereka membawa bahan makanan. Sehingga jalannya pun tak bisa cepat. Lagipula mereka harus menunggu Mumu yang jalannya tidak bisa cepat pula. Mumu hanya bisa berjalan dengan pelan.

Sebetulnya dia masih merasakan sakit. Meskipun tidak sesakit yang tadi. Dalam hatinya dia ingin membantu teman-temannya. Dia ingin membantu agar beban teman-temannya berkurang.

Kelihatan olehnya teman-temannya kewalahan membawa makanan itu. Wajar saja sebab jumlah mereka berkurang satu. Kalau mereka lengkap, beban itu bisa diangkat dengan mudah dan lebih ringan.

Lalu Mumu membulatkan tekad.

“Aku ikut bantu, ya” kata Mumu.

“Bukannya kamu masih sakit, Mumu?”

“Aku yakin kuat, kok,”

“Benar?” tanya Tito lagi. Kelihatan dia mencemaskan keadaan Mumu.

“Benar. Aku tidak apa-apa.” Suara Mumu meyakinkan. Ini membuat Tito membolehkan Mumu ikut membantu.

Dan benar saja. Pekerjaan selanjutnya menjadi lebih mudah dengan tambahan bantuan dari Mumu. Mereka menjadi lebih ringan mengangkat beban.

Beberapa lamanya mereka terus berjuang mengangkat makanan secara bersama-sama. Mereka tetap hati-hati. Terutama Mumu, dia lebih hati-hati agar tidak terpeleset.

Mumu tetap semangat walaupun menahan sakit di kakinya. Sekali dua kali rasa sakit muncul lagi. Tapi Mumu terus menyemangati dirinya agar tetap kuat berjalan. Juga agar kuat membantu teman-temannya.

Setiap kali terasa sakit, setiap kali juga dalam hatinya berkata,

‘Ayo Mumu, kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa. Kamu anak yang hebat, Mumu. Terus berjuang’

Wajahnya menampakkan keceriaan. Bibirnya tersenyum. Baginya membantu teman-temannya harus dilakukan. Mereka akhirnya sampai di sarang dengan selamat. Mereka pun segera menyimpan bahan makanan ke gudang. Mereka semua gembira karena telah sampai di sarang mereka. Mumu juga merasa gembira karena bisa ikut membawa makanan itu.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar