0

Motor Tua (0)

AfanZulkarnain February 23, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Andi sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya kuliah. Kalau ia tidak membayar dalam waktu yang ditentukan, tentu akan menghambat aktivitas pendidikannya. Gajinya sebagai ilustrator freelance belum mencukupi untuk melunasi tunggakan tagihan biaya tersebut.

Dengan berat hati ia pun menghubungi orang tuanya. Sebenarnya dalam lubuk hati terdalam ia tak ingin membebani orang tuanya yang sudah renta. Mereka bertahan hidup hanya dari uang pensiunan yang tidak seberapa. Untuk itu, dari awal Andi selalu berprinsip, ia harus kuliah sambil bekerja. Ia ingin membiayai kuliahnya sendiri. Meski harus tersendat-sendat membayarnya. Puncaknya, tagihan tersebut terus menunggak.

Pada senja yang temaram lepas sholat maghrib berjamaah, Andi mencoba meminta bantuan ayahnya.

“Pak, Njenengan wonten yorto kagem biaya kuliyah kulo?” tanya Andi penuh kehati-hatian. Ia menanyakan apakah ayahnya memiliki uang.

“Ora ono,le. Kowe butuh piro?” Ayah Andi balik bertanya.

Andi menyebutkan suatu nominal yang cukup membuat ayahnya terbelalak. Namun lelaki tua itu dapat mengontrol diri. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya sambil berkata, “motor bapak piye le? Bapak ikhlas kalau dijual.”

Andi melihat motor tua yang terparkir di halaman. Itu motor yang dahulu sering digunakan ayahnya mengajar di sebuah sekolah dasar negeri di sekitar perkebunan kopi. Motor itu adalah saksi perjuangan ayahnya dalam mendidik murid-muridnya. Sewaktu kecil, Andi juga seringkali diajak ayahnya keliling kota menaiki motor tersebut.

Ayah Andi memang sekarang jarang mengendarainya. Namun tiap pagi dan sore, selalu ia panasi mesinnya. Setiap hari, selalu dibersihkan. Terlihat lelaki tua itu sangat menyayangi motornya itu. Sejak istrinya wafat, motor tersebut adalah satu-satunya pelipur rindu. Konon, motor itu juga saksi bagaimana cinta mereka tumbuh.

“Mboten,Pak. Niku Motor kesayangan Bapak.” kata Andi.

“Trus, kowe entuk duwit teka endi?”

“Kulo cubi nyambut yotro rencang,pak.”

Andi mulai berpikir untuk meminjam saja uang kepada temannya. Itu lebih baik daripada ayahnya harus kehilangan segala kenangan bersama motor antiknya itu.

“Aku ora sudi yen kowe nyilih duwit!” Nada suara ayah Andi meninggi. Lelaki yang seluruh rambutnya sudah memutih itu memang sangat memegang teguh prinsip hidupnya. Ia tak ingin berhutang. Ia juga tak mau anak semata wayangnya itu juga terbelit hutang.

“Dijual saja,le. Bapak ridho. Yang penting untuk kuliah kamu.”

“Tapi…itukan motor kesayangan Bapak…”

“Malah Bapak seneng kalau motor kesayangan Bapak bisa mengantarkanmu jadi sarjana.”

Andi sangat tersentuh dengan kalimat yang dilontarkan ayahnya. Mungkin karena pernah menjadi guru, ayah Andi sangat berharap Andi dapat meraih pendidikan setinggi-tingginya. Walaupun harus mengorbankan banyak hal untuk meraih hal itu. Salah satunya, motor kesayangan.

Andi mengucapkan ribuan kalimat terima kasih. Sejurus kemudian , ia menawarkan motor tersebut ke berbagai akun sosial media yang ia miliki. Ia juga menawarkan ke berbagai macam grup. Tak lupa ia menawarkan ke showroom-showroom motor bekas. Namun tak ada yang tertarik. Sementara batas akhir pembayaran biaya kuliah semakin dekat.

Andi was-was. Ia banyak berdo’a. Ia ikuti saran dari kyainya untuk banyak-banyak istigfar dan membaca Surat Al Maidah ayat 114. Konon ayat tersebut memiliki fasilah mendatangkan rezeki. Ia juga membaca surat Al Waqiah lepas sholat subuh berjamaah. Kata Pak Kyai, surat tersebut juga dapat mendatangkan rezeki bagi pembacanya.

Suatu pagi, Andi tak sengaja melihat ayahnya mengelus-elus body motor kesayangannya itu. Sesekali ia lap bagian yang nampak ada debu. Pandangan ayahnya teduh. Mungkin ia tengah mengenang kembali masa-masa indah bersama motornya. Hal itu membuat Andi tak tega. Ia tak ingin memisahkan motor itu dari ayahnya.

Andi pun melakukan hal gila. Ia keluarkan semua ilustrasi-ilustrasi yang telah ia buat di kamar. Ilustrasi tokoh-tokoh terkenal itu ia pajang dalam bingkai yang ia buat sendiri dari triplek bekas. Ia lalu mengikatnya dan membawanya menggunakan sepeda kayuh. Dari satu tempat ke tempat lainnya , ia mencoba menjajakan ilustrasi tersebut. Dari toko emas, hingga rumah makan, tak ada yang mau membeli.

Lepas sholat dhuhur di suatu masjid, ia mendapati sepeda bersama ilustrasi-ilustrasi tersebut terparkir dekat dengan sebuah mobil mewah. Seorang lelaki berjas tampak gagah berdiri di sebelahnya.

Andi menghampiri sepedanya dan mulai menuntunnya keluar masjid. Namun lelaki berjas itu mengehntikannya.

“Masnya yang punya ilustrasi ini?”

Andi mengangguk pelan.

“Masnya menggambar sendiri?”

Andi kembali mengangguk.

“Baguslah. Perkenalkan nama saya Roni dari Majalah Tajam. ” Lelaki itu menyodorkan selembar kartu nama.

Andi meraih dan membaca kartu nama tersebut. Lelaki berjas itu adalah direktur majalah ternama, Tajam.

Mereka pun terlibat perbincangan serius. Pak Roni bercerita, ilustrator majalah tersebut tengah sakit. Padahal majalah tersebut butuh ilustrasi untuk mendukung artikel-artikel di sana. Pak Roni pun menawarkan pekerjaan itu kepada Andi. Tentu Andi sangat setuju, terlebih honor yang dijanjikan cukup besar. Bisa untuk membayar tunggakan tagihan kuliah.

Andi menerima pekerjaan yang harus ia kerjakan selama dua hari. Waktu yang sangat pendek, tapi tak apa, demi bisa melunasi biaya kuliah. Juga demi menyelematkan motor kesayangan ayahnya.

Dua hari kemudian, ilustrasi-ilustrasi yang diminta dapat diselesaikan. Pak Roni tampak puas. Ia memberikan honor yang dijanjikannya. Tentu Andi sangat senang. Ia langsung menggunakan honor tersebut untuk membayar uang kuliah. Satu beban pun terangkat dari pundaknya.

Ayahnya pun merasa bersyukur, Andi dapat menyelsaikan permasalahannya sendiri. Satu lagi yang sangat membuat ayahnya bangga, ilustrasi karya Andi dimuat majalah ternama. Lelaki paruh baya itu lantas memamerkannya ke seluruh desa.

***

Hari itu tiba. Wisuda. Jikalau calon wisudawan lain diantar dengan mobil mewah, Andi datang dengan membonceng ayahnya. Menggunakan motor tua. Ya, seperti yang diinginkan ayahnya. Motor tua itu akhirnya menjadi kendaraan yang mengantarkan Andi diwisuda.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar