0

Mineral: Natrium (Na) Dan Chlor (Cl) Sebagai Zat Gizi (0)

Wahid Priyono, S.Pd. February 13, 2021

Kedua unsur ini di dalam tubuh berfungsi untuk merangsang pembentukkan HCl dalam lambung (lihat fungsi HCl di dalam lambung), membantu iritabilitas dari sel-sel otot,  dan Na dalam bentuk natrium karbonat merupakan senyawa buffer atau senyawa penahan sehingga fungsinya juga sebagai penjaga keseimbangan kadar sodium dalam tubuh (keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh). Jika kadar sodium dalam tubuh kurang bekerja baik/imbalance dimungkinkan seseorang akan mengalami diare/ambien, serta jika kekurangan unsur ini akan menurunnya nilai osmotik cairan ekstraseluler, suhu tubuh meningkat sebab sistim regulasi terganggu, dehidrasi. Bahkan jika tubuh kelebihan unsur natrium dapat menimbulkan udema yang  merupakan gejala kelebihan air yang diterima (melebihi jatah cairan yang seharusnya ke luar dari tubuh). Silahkan lihat dan baca pada BAB. XIV Permasalahan Gizi.

Keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (peran air, Na, dan K, posfat, dan zat gizi pendukung lainnya). Dalam keadaan normal, jumlah cairan yang masuk ke tubuh adalah  sama banyaknya dengan yang dibuang. Air dan elektrolit masuk ke tubuh dalam bentuk air minum, cairan dan makanan-makanan lainnya. Air dibuang oleh tubuh melalui  ginjal dalam bentuk air kencing, melalui kulit dalam bentuk keringat, melalui saluran pencernaan bersama kotoran/feses, dan melalui paru-paru dalam bentuk uap air yang ke luar bersama udara pernafasan. Elektrolit itu terbuang melalui air kencing, keringat, dan bersama kotoran. Kesanggupan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit ini sungguh mengagumkan. Ginjal akan bertambah aktif bila cairan yang kita minum bertambah banyak, dan bila tubuh merasa kekurangan cairan, misalnya sesudah berkeringat banyak, kita akan merasa haus. Pertanda bahwa tubuh kita memerlukan tambahan cairan.

Usaha memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien atau penderita merupakan hal yang sangat penting, karena baik kekurangan maupun kelebihan zat-zat gizi itu akan membawa akibat yang lebih parah.

Dehidrasi, atau berkurangnya cairan di dalam tubuh, ada dua macamnya, pertama kekurangan air seperti yang terjadi pada pelaut yang terdampar akibat kapal/perahunya pecah. Dehidrasi jenis ini akan menyebabkan rasa haus, demam, dan gangguan mental. Kedua, dehidrasi yang sering terjadi pada bayi dan penderita-penderita yang tidak berdaya, misalnya orang tua atau yang tidak sadar, yang tidak mendapatkan cairan dalam jumlah yang mencukupi. Dalam hal ini yang penting adalah kekurangan zat garam (natrium). Dehidrasi jenis kedua ini biasanya disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh dalam jumlah besar, misalnya karena muntah-muntah, atau mencret-mencret pasca sakit pencernaan. Kulit penderita akan mengerut, tekanan darah menurun, dan otot-ototnya melemah. Dalam hal ini rasa haus tidak timbul.

Pada keadaan shok, denyut nadi sangat cepat, kulit lembab, volume darah yang beredar menyusut dan tekanan darah sangat rendah. Penyebab shok yang tersering ialah perdarahan dan kekurangan zat garam.

Zat garam (natrium) menyusut sehabis banyak berkeringat. Keadaan ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan minum air saja. Bila tidak segera diperbaiki, keadaan ini akan menyebabkan kejang otot, kehilangan tenaga, letih dan pingsan. Ini terjadi misalnya pada orang yang pergi dari daerah dingin ke daerah yang panas, dan pada mereka yang bekerja di udara yang sangat panas. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memberikan minuman larutan encer NaCl atau makan tablet garam, sampai tubuhnya dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Kelebihan natrium terjadi pada kegagalan ginjal, dan juga bila terlalu banyak larutan NaCl yang diberikan melalui infus intravenus.

Kalium (K) seperti pada butir H di bawah merupakan elektrolit penting yang lain. Kekurangan kalium terjadi pada beberapa keadaan, misalnya muntah-muntah, kehilangan cairan karena ileostomi dan setelah mendapat obat diuretika (pemercepat kencing), kecuali bila disertai pemberian kalium.

Keracunan air dapat terjadi pada penderita yang terlalu banyak mendapat air tanpa pemberian natrium, misalnya hanya glukosa dan air, sedangkan penderita tersebut tidak mampu membuang kelebihan air tersebut. Kadar natrium dalam darah akan sangat menyusut (sering dikacaukan dengan keadaan kurang natrium), dan penderita menjadi kacau dan kejang-kejang. Keadaan-keadaan yang sudah dijelaskan pada point natrium ini merupakan prinsip utama yang mendasari pencatatan jumlah cairan yang masuk dan ke luar pada seseorang bila diperlukan. Karena catatan ini tidak hanya menentukan keadaan kesehatan seseorang/pasien tetapi dapat menentukan hidup-matinya.

Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan (lihat dan baca materi BAB. VI Air dan oksigen) dan dalamĀ  bentuk peemberian cairan lainnya. Sama pentingnya dengan pengukuran jumlah cairan yang ke luar, termasuk pendarahan, cairan yang dihisap ke luar dari lambung dan bronkhus, muntah dan diarhea, cairan buang terubah akibat kolostomi dan ileostomi, cairan yang ke luar melalui luka, misalnya luka bakar dan pada kecelakaan serta pembedahan.

Sumber Referensi Bacaan:

  • Ichsan, M, dkk. 1993. Ilmu Kesehatan dan Gizi. Jakarta. Universitas Terbuka Depdikbud.
  • Ichsan, M, dkk. 1993. Imu Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan direktorat Jenderal pendidikan Dasar dan Menengah.
  • J, Sutrisno S. 1995. Masyarakat Yang Sehat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Karmana, O. dan Anwar A. 1988. Biologi. Bandung: Ganeca Exact Bandung.
  • Karyadi, Darwin dan Muhilal. 1990. Kecukupan Gizi yang Dianjurkan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar