0

Metode Pembelajaran Tatap Muka yang Praktis dan Efektif (0)

Pengelola Guraru January 9, 2022

Satuan sekolah sudah mulai berbenah demi mendapatkan izin melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Tetapi, kondisi pandemi saat ini membuat kegiatan belajar mengajar tatap muka tak bisa kembali normal secara kilat. Sebab, pemerintah memberlakukan kegiatan sekolah sesuai protokol kesehatan Covid-19, seperti diberlakukannya model shift, durasi jam pelajaran dikurangi menjadi 30 hingga 35 menit. Sehingga guru harus membuat skenario metode pembelajaran untuk menghadapi PTM masa pandemi.

Dengan berlakunya sistem shift, sebagian siswa mengikuti PTM lalu sebagiannya lagi belajar dari rumah, guru perlu kreatif dalam menentukan strategi belajar yang baru. Tentu saja metode pembelajaran daring tetap bisa diimplementasikan untuk siswa yang mendapat giliran belajar dari jarak jauh.

Inspirasi Strategi Metode Pembelajaran Tatap Muka 

Diberlakukannya PTM secara terbatas menuntut guru membuat strategi mengajar yang efisien dan efektif. Mengapa harus?

Sesuai dengan pengertiannya, metode pembelajaran adalah cara yang digunakan pendidik untuk mengimplementasikan rencana yang telah dibuat dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis agar mencapai tujuan pembelajaran.

Jadi, perencanaan matang tak hanya harus dibuat untuk siswa di sekolah, tapi juga di rumah. Dengan ilmu yang sudah guru miliki, berikut metode pembelajaran tatap muka yang dapat menjadi inspirasi.

1. Metode Praktikum

Menurut Hegarty-Hazel, praktikum adalah bentuk kerja praktek supaya siswa aktif terlibat dalam pengalaman belajar yang terencana dan dapat menggunakan peralatan untuk mengobservasi sebuah fenomena.

Pengertian di atas memang menggambarkan secara teknis bagaimana proses metode praktikum dijalankan. Namun, pengertian lebih luasnya, metode praktikum dapat dipahami sebagai proses pengajaran yang berfokus pada peserta didik, sementara guru menjadi fasilitator ketimbang mengajar secara langsung. 

Dengan strategi yang fokus pada siswa, secara sadar guru akan lebih mengetahui mana saja siswa yang aktif, inisiatif dan berinteraksi sesama murid dalam sebuah praktek. Sebab dengan metode praktikum, guru dapat memberi kesempatan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan terhadap materi pelajaran yang ia pahami dan mampu menyelesaikan masalah. 

Contoh praktikum yang bisa diterapkan pada pelajaran Biologi adalah proses terjadinya Osmosis. Tujuan praktikum ini adalah siswa diminta untuk mendeskripsikan peristiwa osmosis pada sel tumbuhan. Guru dapat membentuk kelompok sebelum memberi tugas praktik yang dilakukan di ruang laboratorium sekolah.

Baca juga: Strategi Mengajar, Pendekatan , Metode Mengajar Dan Model Pembelajaran

2. Metode Diskusi

Pelaksanaan metode diskusi tak jauh berbeda dengan praktikum. Metode diskusi sama-sama memosisikan guru sebagai fasilitator yang memberi soal kepada peserta didik. Lalu peserta didik akan mendapatkan kesempatan mendiskusikan soal bersama kelompoknya untuk memecahkan masalah.

Perbedaan metode praktikum dan diskusi adalah pada hasil. Jika praktikum harus mendapatkan jawaban ilmiah dan pasti, metode diskusi justru membebaskan siswa untuk mengemukakan pendapat, memberi usulan dan menyanggah.

Jenis diskusi yang dapat guru terapkan, antara lain:

  • Diskusi formal: Lengkap dengan notulen dan moderator
  • Diskusi non formal: Diskusi berjalan sendiri tanpa moderator
  • Diskusi simposium: Atau lebih kita kenal dengan sebutan presentasi. Jadi ada seseorang yang menyampaikan materi lalu dibuka sesi tanya jawab.
  • Diskusi Panel:  Saling tukar pendapat antarpanelis di hadapan peserta secara informal. Panelis adalah orang yang memiliki kompetensi di bidangnya. Dalam hal ini guru dapat menjadi panelis, sementara siswa menjadi peserta yang tugasnya menyimak diskusi. Panelis yang dibutuhkan sebanyak tiga orang.
  • Lecture diskusi: Guru mendiskusikan suatu permasalahan.

Baca juga: Kenapa Psikologi Pendidikan Itu Penting? Yuk Pahami!

3. Pendekatan Flipped Classroom

Pendekatan flipped classroom atau pembelajaran terbalik sangat efektif diterapkan saat PTM terbatas. Sebab, sistem pembelajaran ini dinilai efisien karena sempitnya waktu proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, dengan metode ini, guru juga dapat memberikan pengarahan dengan maksimal pada saat siswa yang belajar dari rumah.

Pendekatan flipped classroom terdiri dari tiga fase yaitu; pra kelas, dalam kelas, dan aplikasi. Sederhananya, guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi di rumah sebelum kegiatan tatap muka di kelas. 

Cara ini memang menuntut siswa untuk belajar mandiri dengan memahami materi yang telah diberikan guru. Materi dapat dibuat berbagai format, misalnya video atau PowerPoint. Tujuan dari pendekatan ini adalah agar siswa mampu menganalisis suatu masalah.

Keesokan harinya saat PTM berlangsung, guru hanya tinggal membahas tugas yang telah diberikan dan meminta salah satu siswa untuk presentasi apa saja yang telah ia pelajari. Tentu saja langkah ini dapat melatih peserta didik untuk berani berbicara di hadapan teman sekelasnya.

Cara ini tentu memudahkan guru serta murid untuk mencapai tujuan bersama, yakni maksimalnya proses belajar dalam waktu yang sangat terbatas. Selain itu, dengan metode flipped classroom, guru membekali siswa untuk dapat berpikir kritis, mampu bekerja sama, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan meningkatnya cara berpikir kreatif dan inovatif.

Baca juga: Kenali Fakta Jelajah Ilmu, LMS Berstandar Internasional dari Acer

4. Metode Pembelajaran Tematik

Awalnya, teori pembelajaran ini dilakukan oleh para tokoh Psikologi Gestalt yang punya gagasan, bahwa pembelajaran harus memiliki makna lebih dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan murid.

Jadi berkaitan dengan kebutuhan murid, pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema berkaitan dengan mata pelajaran. Tujuannya untuk memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Karena pembelajaran tematik lebih menerapkan konsep learning by doing

Sehingga, untuk menerapkan metode ini, guru harus membuat tema yang spesifik sesuai dengan mata pelajaran. Ciri khas metode pembelajaran tematik adalah:

  • Relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa sekolah dasar.
  • Menempatkan murid sebagai subjek belajar.
  • Kegiatan belajar yang dipilih memiliki nilai yang berkesan bagi siswa agar terekam lebih lama di ingatan peserta didik.
  • Fokus pada keterampilan berpikir.
  • Mengembangkan keterampilan sosial pada peserta didik.
  • Mata pelajaran fokus pada tema yang berkaitan dengan kehidupan murid atau bersifat fleksibel.
  • Menggunakan prinsip joyful learning.

Baca juga: Media Sosial untuk Proses Belajar Mengajar

5. Refleksi Pembelajaran

Refleksi pembelajaran adalah proses menilai dan mengamati upaya dan capaian belajar siswa untuk menentukan langkah perbaikan selanjutnya. Refleksi bisa dilakukan antar peserta didik berpasangan, berkelompok, maupun bersama dalam kelas. Bahkan guru juga harus menerapkan metode refleksi ini ketika mengajar.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar, terapkan dengan teknik ini:

  • Refleksi melalui video pembelajaran: Setiap PTM dimulai, guru sebaiknya merekam video untuk mengevaluasi bagaimana guru menyampaikan materi serta bagaimana siswa memahami penjelasan guru.
  • Refleksi jurnal pembelajaran: Guru harus rajin membuat sebuah catatan analisis mengenai proses belajar di kelas A, B dan C. Cara ini dapat membantu guru agar dapat berinovasi dalam memberikan materi sesuai dengan kondisi dan minat belajar siswa.
  • Refleksi lisan: Tak ada salahnya guru menanyakan pendapat dan saran siswa bagaimana cara Anda mengajar. Dengan begini, guru dapat menyesuaikan strategi belajar yang lebih efektif.

Dengan berbagai jenis metode pembelajaran di atas, guru dapat menciptakan proses belajar mengajar lebih efektif, baik pada PTM maupun daring.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar