13

Merasa Bangga, Jangan Merasa Berjasa (+5)

M. Rasyid Nur April 25, 2014

KERJA keras dan usaha terus-menerus dalam mengembangkan sekolah akan menghasilkan sekolah yang baik. Tidak ada sekolah yang berhasil menjadi sekolah kebanggaan tanpa kerja keras dan bersungguh-sungguh. Dan Kepala Sekolah, Guru, Pegawai dan siswa bahkan orang tua dan masyarakat serta Pemerintah sebagai stake holdernya akan menjadi penentu. Semua komponen itu, jika secara bersama-sama dan harmonis melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya maka akan lahirlah sekolah yang terbaik. Begitu, kurang lebih penjelasan salah seorang Nara Sumber (NS) Nasional Implementasi Kurikulum 2013 ketika saya berkesempatan mengikuti pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 di Hotel Comfort Tanjungpinang, 18-22 April lalu.

Saya setuju penegasan dari NS itu. Sekolah yang baik memang tidak akan lahir tanpa kerja keras pengelola dan pelaksananya. Sekolah yang akan menjadi tumpuan harapan dan rebutan masyarakat hanya akan muncul dengan usaha dan pengelolaan yang baik dan benar. Masyarakat akan menjadikan sekolah seperti itu sebagai sekolah favorit. Dan tidak banyak juga sekolah yang akhirnya mampu menjelma menjadi sekolah terbaik itu.

Sekolah yang baik dengan berbagai sebutan seumpama sekolah unggul, sekolah teladan, sekolah binaan, sekolah favorit, dll pada dasarnya adalah sekolah dengan pengelolaan yang benar oleh semua komponennya. Mengutip pendapat para ahli yang dibeber NS itu, sekolah unggul itu akan bermula dari perumusan visi-misi yang jelas. Visi-misi yang singkat tapi cukup menantang untuk direalisasikan akan membuat komponen sekolah dengan mudah merealisasikannya. Tidak perlu rumusan visi-misi yang muluk-muluk dan berlebih-lebihan. Dengan rumusan singkat seperti sekolah kreatif atau sekolah berbudaya atau kombinasinya, misalnya, tentu saja mewujudkannya akan lebih mudah.

Pada umumnya, sekolah seperti itu akan memulai segalanya dari pemahaman kebiasaan (kultur) sekolah itu sendiri. Sebagai sebuah institusi dengan orang-orang yang ada di dalam dan di sekitarnya, ditambah dengan fakta pendukung yang ada, maka akan diketahuilah kultur seperti apa yang dimiliki sekolah tersebut. Dari situlah perencanaan dan persiapan pelaksanaan akan dimulai. Lebih dari itu, sekolah yang baik juga adalah sekolah yang menghargai profesi guru dan tenaga administrasi lainnya. Kolaborasi pekerjaan tidak hanya dengan komponen yang ada di sekolah tapi juga dengan masyarakat lain yang memberikan dukungannya.

Ketika sebuah sekolah mampu meraih predikat terbaik dan mendapat tempat di hati masyarakat, tidak jarang ada saja pihak-pihak tertentu yang akan membusungkan dadanya. Merasa banyak melakukan sesuatu untuk kemajuan sekolah, lalu timbullah rasa bangga yang diikuti perasaan berjasa. Perasaan berjasa inilah yang seharusnya tidak perlu dimunculkan. Merasa bangga atas usaha dan kerja keras yang sudah diberikan untuk sekolah, pada hakikatnya akan mendatangkan kepuasan tersendiri. Tapi jika sampai merasa berjasa yang membuat perasaan lebih dalam berbuat dari pada orang-orang lainnya, justeru itulah yang akan mendatangkan malapetaka.

Boleh saja ada yang merasa bangga atas prestasi sekolah yang dikelola. Boleh saja hati senang dan puas atas keberhasilan sekolah tempat bekerja. Itulah perasaan yang pantas untuk dinikmati atas segala usaha dan jasa yang sudah diberikan. Perasaan bangga akan membuat semangat bertambah kuat untuk menghadapi tugas-tugas berat ke depannya. Menyaksikan peserta didik berprestasi atas pembimbingan dan pembelajaran yang diberikan, tentu saja akan menyenangkan sekali. Perasaan senang dan bangga itu, tentu saja penting buat komponen sekolah.

Tapi jika perasaan bangga atas segala usaha itu diikuti pula oleh perasaan berjasa, di situlah akan timbul perasaan lain yang tidak baik, yaitu perasaan sombong dan angkuh. Perasaan berjasa yang berlebihan dan diwujudkan dalam bentuk tindakan dan perkataan cendrung akan melahirkan tindakan dan perbuatan yang tidak menyenangkan. Tentu saja itu tidak baik. Terlalu membanggakan segala usaha yang sudah dilakukan, akan membuat seseorang merasa dirinya lebih penting dari pada orang lain. Jika itu terjadi, akan bermulalah kerusakan yang lebih parah ke depannya. Kecendrungan untuk tidak lagi saling mengharai akan merasuki perasaan. Kolaborasi yang sudah mesra selama itu akan rusak serasa tidak diperlukan lagi. “Itulah sebabnya tidak tepat perasaan berjasa,” kata Nara Sumber itu. Cukuplah merasa bangga saja dengan segala yang sudah diberikan.***
dari tulisan http://mrasyidnur.blogspot.com/2014/04/rasa-bangga-bukan-rasa-berjasa.html#more

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (13)

  1. memang betul pak tapi perlu dingat kita hidup dalam banyak berbedaan yang sangat kompleks saya kira lebih baik jadi yang mau mengerti apa yang baik untuk yang terbaik agar tidak banyak terjadi bersinggungan tetep banyak …………… ketidak samaan terimakasih………… juga anda mengatkan saya untuk bisa menghargai orang lain………

  2. Siip, benar sekali, Pak Moh. Saleh. Kesediaan memahami keadaan di sekitar (sekolah) kita insyaallah akan mengantarkan kita ke jalan tenang yang tidak harus sampai bersinggungan secara tidak baik. Kebersamaan dan persatuan terkadang juga dapat menimbulkan perselisihan jika tidak terkelola dengan baik. Makanya, saya setuju komentar Pak Saleh itu. Salam hormat, Pak.

  3. Jika pencitraan sekolah yang menjadi target, tentu saja tidak menjadi masalah, Pak M. Nur’alim. Tapi kalau lebih kepada pencitraan pribadi (individu) itulah yang tidak baik. Apalagi pencitraan itu bernuansa kebanggaan atas jasa-jasanya, itu semakin tidak bijak.

  4. Iya benar pak Rasyid. Cukup merasa bangga saja, jangan sampai merasa berjasa. Alangkah lebih baiknya jika apa yang telah dilakukan semuanya itu didasari oleh keikhlasan jadi tidak perlu merasa berjasa. Biarlah Allah SWT yang membalas apa-apa yang telah kita kerjakan. Sekali lagi tanpa perlu berjasa atau menyombongkan diri.

    Terimakasih telah berbagi pak.

  5. Tak ada kata terlambat ya pak Rasyid. Nih sy sdg di Jkt dan nanti mlm baru plg. Sibuk skl baru pagi ini bisa respon. Umumnya org yg merasa berjasa itu menurut survey malahan org yg tak banyak atau tak pernah andil dlm kegiatan ybs. Kebanggaan palsu hehehe maaf. Thx sharingnya. Salam takzim.

  6. Benar, Pak Sukani. Dengan keikhlasanlah rasa berjasa tidak akan membuat orang sombong karena walaupun ada jasa, seseorang tidak akan membanggakannya walaupun dia sangat bangga dan puas dengan jasanya itu. Salam, Pak.

  7. Mempulish keberhasilan anak bahkan kita sendiri, tidaklah sesuatu yang jelek. Barangkali saja keberhasilan itu memberi inspirasi kepada pembaca lain. Itu artinya sangat baik dan bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lainnya.

  8. Selamat beraktivitas, Bu Etna. Saya doakan, Ibu senentiasa sehat dan kuat untuk berbagai kegiatan yang memerlukan Ibu. Saya percaya, setiap yang dilakukan dengan baik dan ikhlas, insyaallah akan menjadi menenang hati kita. Terima kasih atas komentarnya, Bu. Mari terus kita berbagi untuk kemajuan bangsa dan (khususnya) pendidikan ini.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar