0

Merangkai Sederet Inovasi Dalam Sebuah Ketertinggalan (0)

Islamuddin Syam October 24, 2021

Sudah satu tahun lebih kita bergelut dengan pandemi Covid-19. Hadirnya pandemi telah membawa dampak yang buruk di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Sejak awal penyebaran covid-19 banyak sekolah yang terpaksa ditutup guna menekan penyebaran covid-19. Akibatnya aktivitas kegiatan Belajar mengajar terganggu.

Untuk memperkecil dampak covid-19 di bidang pendidikan, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring (online). Cara ini dinilai efektif untuk mengatasi masalah utama di bidang pendidikan yaitu aktivitas belajar mengajar.

Saya mengajar di Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Manggarai Timur memiliki topografi yang berbukit dan sebagian besar daerahnya masih tertinggal. Beberapa daerah masih menggunakan generator atau tenaga surya sebagai sumber listrik sementara sinyal komunikasi hanya terdapat di titik-titik tertentu.

Di awal pandemi, sekolah saya juga ditutup. Peserta didik dirumahkan dan di minta untuk belajar di rumah. Kondisi sinyal yang tidak stabil menyebabkan pembelajaran secara daring tidak dapat dilakukan. Hal terbaik yang dapat dilakukan kala itu adalah kunjungan rumah.

Kunjungan Rumah

Setiap guru melakukan kunjungan rumah sebanyak dua kali dalam seminggu. Saya mengajar siswa kelas IX dengan jumlah 85 orang peserta didik. Setelah dibagi ke dalam kelompok kecil berdasarkan kampung tempat tinggal mereka, terbentuk 15 kelompok kecil yang terdiri dari 4-7 orang. Hal ini berarti saya harus mengunjungi 15 rumah dalam satu kali pertemuan.

Awalnya begitu antusias karena setelah beberapa minggu akhirnya bisa berinteraksi lagi secara langsung dengan peserta didik. Akan tetapi setelah satu bulan berlalu, rasa capai, letih, dan sedikit malas mulai datang. 15 kelompok kecil tidak bisa saya jangkau hanya dalam satu hari. Sehingga terkadang untuk memenuhi tuntutan 2 kali pertemuan tiap kelompok, saya membutuhkan 4-5 hari dalam seminggu. Jarak antar kampung cukup jauh dengan medan yang cukup ekstrem.

Metode Modular Instruction (Modul )

Setelah satu bulan lebih, saya menggunakan metode Modular Instruction. Dengan metode ini diharapkan akan lebih mengefisienkan waktu. Modul disusun dengan instruksi langkah per langkah untuk memudahkan peserta didik dalam belajar mandiri di rumah. Saya cukup melakukan satu kali kunjungan. Pada saat kunjungan saya mengecek sejauh mana pemahaman peserta didik, menjelaskan hal-hal yang kurang dipahami, membagikan modul, dan sumber belajar berupa video.

Memanfaatkan Fitur Gratis Messenger

Sebagian besar peserta didik saya sudah memiliki smarthpone berbasis android serta akun Facebook. Mereka mengakses Facebook dengan mode gratis. Saya membuat grup messenger kemudian segala aktivitas pembelajaran berangsur-angsur kami lakukan di grup messenger. Materi dan LKS saya foto kemudian kirimkan dalam bentuk gambar. Mereka hanya perlu menuju titik sinyal yang ada di setiap kampung, mengecek materi dan LKS yang dikirim, kemudian mengirim balik tugas yang telah dikerjakan.

Membuat Media Pembelajaran Interaktif (MPI)

Saat kasus covid-19 mulai menurun. Sistem pembelajaran tatap muka secara terbatas mulai diperbolehkan.

Media Pembelajaran Interaktif

Di tahap ini, saya mencoba membuat media pembelajaran interaktif (MPI) menggunakan aplikasi gratis Smartapp Creator. Hasil MPI yang dibuat berupa aplikasi android yang bisa di instal di smarthpone peserta didik. Dan untuk mengaksesnya tidak dibutuhkan sinyal internet.

Itulah cara terbaik yang dapat saya lakukan di sini. Semoga pandemi cepat berlalu dan keadaan kembali normal seperti dahulu, termasuk kegiatan belajar mengajar.

#KompetisiArtikelGuraru #HariGuruSedunia 

Tema: Guru Merangkai Masa Depan Dari Keterbatasan

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar