0

MERAIH AMAL BERKUALITAS (0)

@ahysholih July 16, 2021


By Muh. Aydi Syam

1) Jarak yang Jauh

Bismillah …,

عن أبي موسى الأشعري، قال رسول الله ﷺ: “أَعْظَمُ النَّاسِ أجْرًا في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ، فأبْعَدُهُمْ مَمْشًى والذي يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ حتَّى يُصَلِّيَها مع الإمامِ أعْظَمُ أجْرًا مِنَ الذي يُصَلِّي، ثُمَّ يَنامُ” (متفق عليه، أخرجه البخاري:651 ومسلم: 662).
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam salat adalah yang paling jauh berjalan menuju (tempat) salat, lalu yang lebih jauh berikutnya dan orang yang menunggu salat hingga dia salat bersama imam lebih besar pahalanya dari pada orang yang salat kemudian tidur” (Muttafaq ‘alaih, H.Dk al-Bukhary: 651 dan Muslim: 669).
——🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut muttafaq ‘alaih, riwayatnya “shahih” menurut Imam al-Bukhary dan Imam Muslim.
2) Rasulullah Saw. menyatakan terdapat perbedaan pahala salat karena perbedaan jarak antara tempat tinggal ke tempat salat. Dalam hal ini, dari rumah ke masjid/musalla. Semakin jauh jaraknya, semakin banyak pahalanya.
3) Seirama dengan maksud hadis di atas, Bany Salamah pernah menyampaikan kepada Rasulullah Saw. hasratnya untuk memindahkan rumahnya ke dekat masjid. Namun Rasulullah Saw. menegurnya secara lembut, “دياركم تكتب آثاركم” (tetaplah di tempat kalian, niscaya pahala jejak langkah kaki kalian bernilai pahala). Riwayat tersebut “shahih” menurut Imam Muslim. Makna riwayat ini memperkuat pemahaman terhadap hadis di atas bahwa jarak tempuh seorang hamba menuju tempat salatnya turut menentukan besaran pahalanya.
4) Bila dipahami secara konteks, maka makna hadis tersebut tidak sesempit teksnya yang hanya berbicara tentang salat, melainkan makna tersebut bisa diperlebar dengan memaksudkan semua jenis kebaikan seperti ibadah haji, umrah, menuntut ilmu, bakti sosial, jihad fy Sabilillah, dan lain-lain.
5) Dengan demikian, disimpulkan bahwa semua jenis kebaikan, bila dilakukan oleh banyak orang, maka jarak tempuh mereka menuju lokasi kebaikan itu turut menjadi indikator perbedaan pahala antara satu dengan yang lain, yang terjauh itulah yang terbanyak, lalu disusul oleh berikutnya kemudian berikutnya.
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
Jadikanlah jarak yang jauh menuju masjid sebagai cambuk untuk memacu langkah dan memicu semangat menuju salat berjamaah demi mendapatkan pahala salat jamaah yang lebih maksimal. Jangan justru dijadikan kendala.

2) Suasana Gelap

Bismillah …,

عن بريدة – رضي الله عنه – عن النبي ﷺ قال: “بشروا المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة” (رواه أبو داود والترمذي).
Artinya:
Dari Buraidah, r.a. dari Nabi Saw. telah bersabda, “sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid-masjid (untuk menunaikan salat) dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat” (HR Abu Daud dan al-Tirmizy).
——🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “shahih” menurut Imam al-Albany.
2) Kegelapan pada malam hari adalah kendala untuk datang memenuhi panggilan Allah menunaikan salat jamaah.
3) Allah Swt. menjadikan kemuliaan di balik suasana gelap itu bagi hamba yang teguh hatinya untuk tetap salat jamaah walau dalam suasana susah.
4) Kemuliaan tersebut berupa cahaya sempurna yang kelak bersinar terang-benderang untuk hamba yang bersangkutan pada Hari Kiamat nanti di kala menempuh perjalanan kembali pada Tuhannya.
5) Kemuliaan tersebut bukanlah itu satu-satunya, melainkan masih terdapat sekian keutamaan dan kemuliaan lain yang belum sempat diketahui.
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
Tantangan terkadang jadi halangan, namun hati yang teguh terbukti dengan berhasilnya melewati tantangan demi meraih angan-angan. Istiqamah untuk salat jamaah adalah angan-angan yang tak luput dari tantangan. Olehnya itu, teguhkanlah keimanan, lewatilah tantangan, niscaya engkau akan dapat kemuliaan dan kemenangan.

3) Dahsyatnya Salat Jamaah
Isya dan Subuh

Bismillah …,

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ ، دَخَلَ عُثْمَانُ بنُ عَفَّانَ المَسْجِدَ بَعْدَ صَلَاةِ المَغْرِبِ، فَقَعَدَ وَحْدَهُ، فَقَعَدْتُ إلَيْهِ فَقالَ، يا ابْنَ أَخِي سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: “مَن صَلَّى العِشَاءَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَن صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ فَكَأنَّما صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ” (رواه مسلم: 656).
Artinya:
“Dari Abdurrahman bin Aby ‘Amrah, “Usman bin Affan memasuki masjid setelah salat Magrib, beliau lalu duduk seorang diri, maka aku pun duduk menyertainya. Beliau berkata, “wahai ponakanku, aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “barangsiapa salat Isya berjama’ah, maka laksana ia salat malam separuh malam, dan barangsiapa salat Subuh berjamaah, maka laksana ia salat semalam suntuk” (HR Muslim:656-260).
——🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “shahih” menurut Imam Muslim.
2) Rasulullah Saw. menyampaikan pahala salat Isya berjamaah laksana “qiyamullail” separuh malam. Oleh karena salat tersebut tingkat kesulitannya nomor 2 setelah salat subuh berjamaah.
3) Rasulullah Saw. menyampaikan juga pahala salat Subuh berjamaah laksana “qiyamullail” semalam suntuk. Oleh karena salat ini tingkat kesulitannya tertinggi dari semua salat jamaah yang lain.
4) Dari hadis tersebut, dipahami makna tersirat bahwa salah satu faktor yang menentukan kualitas pahala suatu ibadah adalah berdasarkan tingkat kesulitannya.
5) Pemahaman tersebut sudah dibakukan oleh sebagian ulama dalam bentuk kaidah. Di antaranya yang dinisbahkan kepada al-Qarafy:
الأجر على قدر المشقة
Artinya:
“Pahala itu diukur berdasarkan kadar kesulitan (melaksanakannya).”
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
1) Alangkah beruntungnya hamba yang jelih memperhatikan amalan di atas. Bila ikut salat berjamaah Isya di masjid, hanya melewati waktunya beberapa menit saja, niscaya terhitung menggunakan waktu separuh malam ibadah “qiyamullail”. Bila ikut salat Subuh berjamaah di masjid, niscaya terhitung menggunakan waktu semalam suntuk ibadah “qiyamullail.”
2) Hamba yang cerdas adalah hamba yang mengeluarkan modal sedikit tapi sukses meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Hamba yang hanya menggunakan waktunya beberapa menit saja, niscaya yang didapatkan adalah 6 jam atau 12 jam.
3) Bila seorang hamba melaksanakan salat Isya dan Subuh berjamaah pada malam itu, niscaya waktunya yang digunakan hanya beberapa menit saja (boleh jadi kurang dari setengah jam), namun ibadah “qiyamullail” yang didapatkan senilai dengan semalam suntuk plus separuh malam (1½ malam), “Subehanallah …”
4) Hamba seperti ini, usia hayatnya boleh saja pendek tapi usia ibadahnya tetap amat panjang. Bagaimana lagi bila usia hayatnya memang panjang? “Subehanallah …”
5) Pahamilah, amalkanlah, dan sebarkanlah dengan niat tebarkan karena Allah.

4) Amal Rintisan

Bismillah …,
عن جرير بن عبد الله، …” فَقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ:
“مَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَن عَمِلَ بهَا بَعْدَهُ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِمْ شيءٌ، وَمَن سَنَّ في الإسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كانَ عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَن عَمِلَ بهَا مِن بَعْدِهِ، مِن غيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أَوْزَارِهِمْ شيءٌ” (رواه مسلم: 1017).
Artinya:
Dari Jarir bin Abdillah, …”Rasul Saw. telah bersabda, “barang siapa yang merintis suatu perbuatan yang baik dalam Islam, maka baginya adalah pahala serta pahala orang-orang yang turut mengamalkannya kemudian tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun. Barang siapa yang yang merintis suatu jalan buruk dalam Islam, maka baginya adalah dosa serta dosa bagi orang-orang yang mengamalkannya kemudian tanpa dikurangi dari dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim: 1017).
——🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “shahih” menurut Imam Muslim.
2) Hadis tersebut menyampaikan informasi yang berhadapan, yakni “kebaikan versus keburukan” bagi perintisnya.
3) Bila seorang hamba memulai suatu kebaikan, maka dia mendapatkan pahala berantai sepanjang masa dari sejumlah orang yang mengikuti kebaikan tersebut hingga akhir masa.
4) Demikian juga, bila seorang hamba memulai suatu keburukan, maka kelak mendapatkan dosa berantai sepanjang masa dari sejumlah orang yang mengikuti keburukan tersebut hingga akhir masa.
5) Itulah yang diistilahkan amal rintisan, terkadang pahala berantai karena kebaikan, terkadang pula dosa berantai karena keburukan.
وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّواب
——-✍️
Pesan Moral:
1) Berpikirlah untuk menjadi perintis suatu kebaikan semoga sukses mendapatkan pahala rintisan yang terus-menerus berjalan tiada putus hingga akhir masa, “subehanallah”.
2) Berhati-hatilah, jangan sampai menjadi penggagas atau pemula suatu keburukan karena hal yang sama pasti juga terjadi, yakni dosa rintisan karenanya tak dapat dihindari, “na’uzu Billah.”
3) Bila terlanjur melakukan amal rintisan pada perbuatan buruk, maka segerahlah bertaubat dan lakukanlah upaya untuk memutus mata rantai perkembangannya. Semoga Allah Swt. berkenan untuk mengamputasi jaringan dosa tersebut.
4) Rawatlah kebaikan rintisan itu semoga terus eksis dan tebarlah seluas-luasnya sehingga tidak hanya sekedar berjalan tapi juga bisa berkembang. Di Akhirat nanti akan panen raya menuai sejumlah kebaikan yang berlimpah, insya Allah.
5) Jadilah orang yang kaya raya di Akhirat kelak melalui sejumlah amal rintisan kebaikan. Selagi masih ada waktu untuk berbuat di dunia, maka berbuatlah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

وَ اللهُ المُستعانُ وَعَلَيه التُّكلانُ

SALAM SILATTURRAHIM
——– 🤝 ——-

Tagged with:

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar