6

Menumbuhkan (Kembali) Semangat Sumpah Pemuda (+3)

Ramdhan Hamdani October 28, 2013

Menyimak berita tentang derita para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja diluar negeri sekan tak ada habisnya. Mulai dari kabar penganiayaan  fisik oleh pihak majikan, gaji yang tidak dibayarkan sampai dengan ancaman hukuman gantung sering kali menghiasi layar televisi kita. Celakanya lagi, berita-berita tersebut tak sedikit pun menyurutkan langkah para calon TKI lainnya untuk mencari peruntungan dinegeri orang meski dengan bekal seadanya. Adapun masih rendahnya tingkat pendidikan disinyalir sebagai sebab utama yang menjadikan negara ini hanya mampu menyediakan tenaga-tenaga kerja untuk ditempatkan disektor-sektor non formal diluar negeri.

Jika kita kaji lebih dalam lagi, semangat sumpah pemuda yang diikrarkan oleh putra-putra terbaik bangsa ini beberapa puluh tahun yang lalu tersebut ternyata baru mampu sebatas melepaskan bangsa ini dari rantai-rantai penjajah bangsa asing, namun belum bisa membebaskan bangsa ini dari belengu-belenggu kebodohan. Lebih memprihatinkan lagi, kebodohan tersebut tak jarang dipelihara oleh pihak tertentu untuk kepentingannya.

Disaat anak-anak seusia sekolah dasar harus bertaruh nyawa untuk dapat menginjakkan kakinya di sekolah dengan melewati jembatan yang dibuat alakadarnya, digarasi sang pejabat terpampang beberapa buah mobil mewah. Sungguh sebuah ironi. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945 silam ternyata baru sebatas pernyataan sikap bahwa bangsa ini adalah bangsa yang merdeka dari penjajahan bangsa kulit putih, namun tidak untuk penjajah berambut hitam.

Berdasarkan data dari UNESCO per 8 September lalu, saat ini terdapat 774 juta orang diseluruh dunia yang buta aksara dimana 6,4 juta orang adalah warga negara Indonesia.  Angka tersebut tentu saja tidak bisa dikatakan kecil. Peningkatan anggaran untuk bidang pendidikan ternyata belum mampu meningkatkan pemerataan kualitas dan pemerataan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.

Menyikapi kondisi semacam ini dibutuhkan semangat yang tinggi untuk membangun bangsa ini  sebagaimana diikrarkan oleh para pendahulu kita dalam sumpah pemuda. Semangat yang mampu mengantarkan bangsa ini sampai pada pintu gerbang kemerdekaan tersebut hendaknya kita tiru dengan cara melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah satunya melalui pendidikan.

Pendidikan sejatinya merupakan senjata paling ampuh untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin datang dari luar melalui berbagai saluran. Ekonomi, politik, sosial dan budaya adalah saluran-saluran dimana bangsa lain terbiasa menanamkan pengaruhnya. Dengan mempersiapkan generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan tersebut, bisa dipastikan dimasa depan kita akan mampu berdiri tegak ditengah percaturan dunia yang semakin hari semakin penuh tantangan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

 Ramdhan Hamdani

www.pancingkehidupan.com

About Author

Ramdhan Hamdani

Lahir di Bandung 30 tahun yang lalu, pria yang bernama lengkap Ramdhan Hamdani ini menghabiskan masa kecilnya dikota kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan SMU, pria yang akrab disapa Kang Dadan ini pun melanjutkan studynya pada tahun 2000 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Kesulitan ekonomi yang saat itu dialaminya tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Berbagai profesi sudah pernah dijalaninya. Mulai dari penjual koran, guru privat sampai dengan tukang becak pernah dilakoninya demi keberlangsungan kuliahnya. Ketertarikannya pada dunia komputer mendorongnya untuk mengambil kuliah jurusan Tehnik Informatika ditempat lain disaat kuliah di jurusan Bahasa nya masih berjalan. Kuliah mengambil dua jurusan sekaligus dan ditempat yang berbeda memang tidak mudah, tapi itulah yang dilakukannya. Pada tahun 2003, pria yang dikaruniai seorang istri ini pun berhasil meraih beasiswa pertukaran mahasiswa dari DAAD untuk menikmati perkuliahan di negara Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari sana, dia pun melanjutkan studinya di UPI dan berhasil menjadi wisudawan terbaik tingkat Fakultas pada tahun 2008. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadikan profesi pendidik menjadi jalan hidupnya. Berprofesi sebagai guru TIK di SDIT Alamy Subang dilakoninya sejak 4 tahun yang lalu. Selain aktif sebagai pengajar, pria yang beristri seorang guru Matematika SMA IT Assyifa Boardingschool Subang ini juga sangat produktif dalam membuat software-software untuk keperluan sekolahnya. Mulai dari software keuangan, absensi guru dan siswa, perpustakaan, pengolahan nilai dan software lainnya dibuat dengan tangannya sendiri dan dipersembahkan kepada lembaga sebagai bentuk pengabdiannya. Selain itu pria yang mempunyai hoby memancing ini pun aktif di berbagai media, baik cetak maupun media sosial dalam mengkampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya untuk menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan. Adapun beberapa tulisannya yang pernah dipublikasikan oleh media cetak antara lain : 1. Ironi Pendidikan Agama Islam ( Republika, 07 Januari 2013 ) Baca 2. Hitam Putih SNMPTN 2013 ( Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013 ) Baca 3. Antara Tim Sukses dan "Tim Sukses" ( Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 ) Baca 4. Sertifikasi Tanpa Isi ( Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013 ) 5. Mengubah Paradigma Kegagalan ( Republika, 20 Mei 2013) Baca 6. Ironi Tenaga Kependidikan ( Republika, 29 Mei 2013 ) Baca 7. Pelajar dan Tembakau ( Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 ) Baca 8. Reinkarnasi RSBI ( Pikiran Rakyat, 5 Juni 2013 ) 9. Pentingnya Orientasi untuk Orang Tua ( Republika, 22 Juli 2013 ) Baca 10. Politisi dan Ijazah Palsu ( Pikiran Rakyat, 03 September 2013) Baca

View all posts by Ramdhan Hamdani →

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar