3

Menjelang Keberangkatanku (+2)

rismayani November 29, 2013

C e r p e n “Menjelang Keberangkatanku”

Rintik hujan telah berubah jadi gerimis. Gerimis pun perlahan pudar bersama pancaran matahari disisi awan yang perlahan bergerak ketimur. Perlahan Rini mulai melangkahkan kakinya meninggalkan halte tempat dia berlindung dari hujan tadi. Rini menoleh ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat belas kurang empat. Dia belum terlambat. Dengan langkah pasti dia menuju ke sebuah kafe yang letaknya berdampingan dengan kampusnya dulu. Bagi Rini kafe ini pernah meninggalkan sebuah kenangan indah saat kuliah dulu. Rini seakan tidak ingin melupakan segala kenangan itu. Setelah melihat kafe itu seolah-olah Rini rindu akan masa kuliahnya dulu. Namun semua itu hanya tinggal kenangan, roda waktu begitu cepat berputar sehingga tanpa disadari Rini sudah menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang terbaik.
Sebenarnya Rini memang sengaja mengunjungi kafe ini karena Rini sedang ada janji dengan seseorang. Seseorang itu tidak lain adalah sahabat lamanya sewaktu di bangku kuliah dulu. Rini sudah lama sekali tidak bertemu dengan sahabat yang dulunya selalu bersama disaat pergi dan pulang dari kuliah. Mereka begitu kelihatan sangat akrab. Dari dulu Rini selalu mencurahkan segala perasaannya apabila dia sedang dihadapkan pada suatu masalah yang tidak mampu dipecahkannya sendiri. Sambil menunggu kedatangan sahabatnya itu, maka Rini menyempatkan diri untuk memperhatikan keadaan di sekeliling kafe. Seolah-olah Rini begitu takjub melihat segala perubahan yang telah dialami kafe ini. Kafe ini tampak lebih luas dan rapi dari sebelumnya. Pada halaman kafe ada taman yang ditata rapi dan kelihatan indah. Taman itu ditanami berbagai jenis bunga yang berwarna-warni. Tampaknya Rini sangat mengagumi bunga-bunga itu.
“Kamu sudah lama di sini, Rini?”. Sapa Yena dengan senyuman khasnya. “Be… be… lum!”. Rini terkejut karena Yena datang begitu tiba-tiba disaat dia tengah asyik memandangi taman bunga di halaman depan kafe, sehingga ia agak tergagap menjawab pertanyaan dari Yena. Kemudian Rini langsung memeluk Yena, dia melakukan itu untuk melepaskan rasa rindunya pada Yena selama ini, dan Yena menyambut pelukan Rini itu hangat. Seolah pelukan itu sedikit mengurangi rasa rindunya yang sudah lama dipendamnya pada Yena. “Yen, ternyata kamu mau juga memenuhi undanganku untuk datang ke kafe ini, terus terang aku sangat bahagia sekali”. “Aku juga merasa bahagia dan tidak menyangka sama sekali bisa berjumpa lagi denganmu di sini”. Semenjak perpisahan itu kita tidak pernah lagi berkomunikasi, saat ini lah kesempatan untuk kita berbagi cerita. “Yen, aku ada kejutan buatmu”. “Kejutan apa itu Rin? Ternyata usahaku selama ini tidak sia-sia, akhirnya beasiswa S2 ke Australia itu berhasil kudapatkan”. Secara sepontan Yena langsung menjabat tangan sahabatnya itu dan mengucapkan kata selamat. “Lalu kapan kamu akan berangkat Rin?”. “Insya Allah minggu depan, kamu bersedia kan mengantar keberangkatanku nanti?”. “Oh dengan senang hati aku akan mengantarmu sampai ke Bandara”. “Terima kasih Yena! Kamu memang sahabatku yang paling baikdan setia”. “Oh iya Rin”, sahut Yena mengalihkan pembicaraan Rini. “Bagaimana tanggapan Ibu mengenai keberangkatan ini? Apakah Ibumu keberatan”. Yena berani menanyakan hal itu pada Rini karena dia tahu bahwa Ibu Rini sudah menjadi janda setahun yang lalu. Sehingga pastilah Ibunya akan merasa kesepian tanpa ada Rini disisinya, apalagi Rini adalah anak tunggal kesayangan Ibunya. Rini langsung menundukkan kepalanya, lalu menjawabnya perlahan, “Saat ini aku masih ragu pada Ibu, sepertinya Ibu tampak sedih saat aku mengabarkan keberangkatan itu. Sepertinya Ibu agak keberatan atas kepergianku”. “Aku bingung Yen? Aku tidak dapat memilih antara cita-citaku dan ibu. Seolah-olah keduanya sama pentingnya”. “Tolong, bantu aku untuk menentukan semua ini Yen!”. Mendengar keluhan Rini yang bingung dalam menentukan sikapnya, maka Yena merasa tergugah hatinya untuk berusaha meringankan beban yang sedang dialami temannya itu. “Rin, kamu tidak perlu memusingkan masalah ini, menurutku sebaiknya kamu sekarang berusaha meyakinkan Ibu serta jelaskan padanya kepergianmu ke Australia itu untuk menuntut ilmu dan bukan mencari kesenangan pribadi”.
Rini terdiam menatap mata Yena dengan penuh kesungguhan. “Baiklah, aku akan mencoba meyakinkan Ibu dan aku mohon doa restu darimu”. Matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpisah dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Awan kelihatan membiru di ujung sana, sementara angin berhembus kencang. Kelihatannya malam ini akan hujan. Seiring dengan itu Rini telah tiba dirumahmya dan lansung menemui Ibu dikamarnya. Sejenak Rini terpaku didepan pintu kamar, dilihatnya Ibu sedang melamun didepan cermin. Perlahan Rini mendekati ibunya. Rini tidak sanggup menatap mata ibu yang tampak sayu menahan kesedihannya. “Ibu, bolehkah aku memelukmu?” permintaan Rini seolah membuat hati ibunya terharu. “kemarilah anakku peluklah ibumu ini dengan erat, karena sebentar lagi kamu akan jauh dari Ibu”.Kemudian Rini menuruti apa yang diperintahkan oleh ibunya dan lansung menyambut pelukan ibu dengan rasa kasih sayangnya. Rini merasakan pelukan ibu dimalam ini begitu hangat. Seolah pelukan itu membuat jiwa dan hati Rini menjadi tenang.
Langit tampak cerah siang ini. Yena telah tiba dirumah Rini. Sepertinya yena tidak lupa dengan janjinya yang dulu pada Rini untuk mengantar Rini siang ini kebandara.Tampaknya Rini sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya nanti. Kemudian Taksi telah menjemput Rini bersama ibu dan yena dan taksi itu lansung meluncur menuju kebandara. Sambil menunggu keberangkatan pesawat Rini menyempatkan dirinya untuk berpamitan pada ibu dan Yena sahabatnya. “Relakan aku pergi Ibu?” Sepertinya Ibu tak mampu menahan isak tangisnya. Rini menyapu air mata Ibu dan berusaha menenangkan hati ibu. “Berhati-hatilah anakku?” Ibu tak mampu lagi meneruskan kata-katanya lagi karena hatinya begitu sedih dan tidak menyangka akan berpisah dengan anak yang sangat di sayanginya itu. “Ibu aku akan selalu mengingatmu dan aku akan berikan yang terbaik buatmu”.Setelah mengucapkan kata-kata itu Rini lansung memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Ibu dan anak itu kini larut dalam kesedihan.
Perlahan Rini melepaskan pelukan ibu, kemudian Rini ganti memeluk sahabatnya Yena yang sudah dari tadi menangis karena terharu melepas kepergian Rini. Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera berangkat. Rini perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan Ibu dan Yena .Disaat itulah Rini baru menangis dan tak mampu lagi menahan rasa harunya. “Selamat tinggal Ibu” ucap Rini sambil melambaikan tangannya kepada Ibu dan Yena. “Selamat jalan anakku, semoga tercapai segala cita-citamu”……………………………………………
Oleh : Rismayani, S.Pd. (Guru SMA Negeri I Siak)

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar