8

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3 (+4)

Imam Rahmadi January 8, 2014

Ketika ada seorang guru mengajar, namun muridnya cenderung tidak perhatian, mengantuk, bahkan ada yang tertidur, siapakah yang harus dibangunkan? Jawabannya, yang harus dibangunkan adalah gurunya.

Pepatah Tionghoa kuno itu saya gunakan sebagai kata pembuka ketika saya menjadi moderator Teacher Writing Camp 3 atau TWC 3 di hari pertama, sabtu, 28 Desember 2013. Saya membawakan penyampaian materi sesi ketiga, di siang bolong, kurang lebih pukul setengah dua, dan setelah makan siang. Bayangkan? Bagi saya ini sesi yang amat sangat rawan. Beruntunglah, pepatah tionghoa kuna tadi lumayan bisa membangkitkan suasana.

TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional. TWC 3 mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu. Penggas dibalik konsep TWC adalah seorang guru dan juga blogger bernama Wijaya Kusumah atau sering dipanggil Omjay.

moderator twc 3

Sesi ketiga di hari pertama TWC, diisi dengan materi bagaimana mengirimkan tulisan di media online dan cetak. Tepat di sebelah kana saya, sudah ada orang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Pertemuan terakhir saya dengannya sekitar empat bulan yang lalu, saya diinterview olehnya sebagai kandidat calon Moderator Kompasiana. Orang yang saya maksud adalah Iskandar Zulkarnaen; editor Kompasiana, blogger, penulis, dan juga seorang ayah yang baik, sudah siap untuk menyampaikan materinya.

Meski di siang bolong, Iskandar Zulkarnaen atau biasa dipanggil Isjet menyampaikan materi dengan penuh semangat, disambut sebaliknya dari Bapak dan Ibu guru peserta TWC menyimak dengan penuh antusias. “Mengirimkan tulisan ke media cetak maupun online, sebelumnya harus tahu karakteristik media tersebut, namun yang lebih mudah adalah Bapak dan Ibu guru sekalian bisa mempublikasikan tulisan di blog masing-masing,” sepotong kalimat Mas Isjet dalam penyampaian materinya.

Setelah penyampaian materi, saatnya masuk pada sesi tanya jawab. Banyak sekali peserta yang ingin bertanya, namun karena keterbatasan waktu hanya enam penanya yang bisa mengajukan pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, “di Kompasiana sering kali ada ajang kompetisi kepenulisan, kenapa bisa begitu?”, tanya salah satu peserta. “dulu, perusahaan atau instansi mengundang wartawan untuk konferensi pers bermaksud mensosialisasi produk atau programnya, namun sekarang keadaan sudah berubah, perusahaan dan instansi tersebut melakukan jemput bola, mengundang keterlibatan warga”, jawab Mas Isjet.

Satu hal yang kemudian tertangkap di benak saya, warga atau warga dunia maya khususnya, lebih khusus lagi adalah blogger, sepertinya semakin diperhitungkan peranannya. Ini merupakan kabar gembira. Hingga akhirnya, diakhir acara saya menanyakan kepada Bapak dan Ibu guru peserta TWC, apakah masing-masing dari mereka sudah memiliki blog. “Karena tidak memiliki blog di dunia maya, itu ibarat tidak memiliki muka di dunia nyata.” Kalimat penutup saya, sebagai moderator, mengakhiri sesi penyampaian materi ketiga TWC 3 hari pertama.

IMG_20131229_181007

Hari kedua Teacher Writing Camp (TWC) 3, Omjay bilang, “nanti sesi kedua, kamu moderator, ya, Mam!”. Segera saya jawab, “siap Om”. Padahal saya belum tau materi apa yang akan disampaikan dan siapa narasumbernya. Malamnya, ketika menginap di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memang sudah persiapan mental untuk menjadi moderator lagi, itu saja, tanpa berpikir mau memoderatori materi apa dan dengan narasumber siapa.

Setelah saya menanyakan ke panitia, materi sesi kedua adalah menerbitkan buku sendiri, diisi oleh Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Akhirnya waktunya tiba, saatnya masuk sesi kedua. Bapak Alpiyanto menyampaikan bahwa buku yang sukses untuk dapat diterbitkan sendiri adalah buku yang mengandung unsur memberi solusi, inspirasi, dan motivasi. Sedangkan Bapak Thamrin Sonata lebih menekankan bahwa menulis buku sekarang bisa dimulai dari ngeblog, kemudian nanti bisa dijadikan buku, ngeblog merupakan bagian dari menabung naskah buku.

Menerbitkan buku sekarang sungguh sangat mudah dengan teknologi digital printing. Terdapat fasilitas print on demand (PoD), yaitu kita bisa mengeprint atau mencetak buku sesuai permintaan tanpa batal minimal cetak. Seperti definisi dari Wikipedia; print on demand (PoD) is a printing technology and business process in which new copies of a book (or other document) are not printed until an order has been received, which means books can be printed one at a time.

Menjadi moderator TWC dalam dua sesi, di hari pertama dan kedua, memberi saya banyak pengalaman. Biasanya saya menjadi narasumber, namun kali ini justru menjadi moderator. Sedikit berbeda, menjadi seorang moderator harus memiliki kemampuan mengatur berjalannya seminar, mulai dari pembuka, penyampaian materi, tanya jawab, dan penutup.

Terimakasih untuk Omjay dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang bekasi sudah mempercayai saya menjadi moderator di TWC 3.

*tulisan ini juga bisa dibaca di www.tigabelase.com

Tagged with: ,

About Author

Imam Rahmadi

Saya Imam Rahmadi, tuan rumah blog sekadar www.tigabelase.com Penulis buku (1) Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!, Serba-serbi tentang Citizen Journalism dan panduan praktis menjadi Citizen Journalistuntuk pemula. (2) NGANDROID: Hidup Menjadi Mudah dan Menyenangkan dengan Android. Keduanya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Sejak tahun 2009 menjadi Jurnalis Warga di www.akumassa.org. Sekarang sedang menjalani kuliah Pascasarjana di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Teknologi Pendidikan.

View all posts by Imam Rahmadi →

Comments (8)

  1. Terimakasih mas Subakri, vote up nya.

    Ibu Etna, semoga ibu selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk berbagi tanpa henti.

    Ibu Sri, semoga lain waktu Allah mempertemukan kita kembali dengan suasana yang bahagia.

    Bapak Botaksakti, saya masih belajar, mohon masukannya untuk perbaikan ke depan.

    Oiya, Selamat untuk Ibu Etna dan Ibu Sri, menjadi pemenang lomba menulis TWC..bagi2 ibuuu hadiahnya..hehehe

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar