3

Menjadi guru yang pemaaf (+2)

Kholis Faisol September 15, 2014

Seorang guru mempunyai dua tugas yang saling terkait satu sama lain, yaitu mengajar dan mendidik. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang cukup berhasil mensinergikan dua tugas ini dalam pendidikan, didalam kurikulum ini kegiatan mengajar guru dirancang sedemikian rupa agar ranah pengetahuan, ranah agama dan ranah sikap tercakup menjadi satu kesatuan. Akan tetapi memang ranah sikap tidak serta merta dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, maka kurikulum ini memberikan solusi berupa pembelajaran tidak langsung dimana guru memberikan pembelajaran yang tidak dirancang dalam RPP untuk menanamkan nilai-nilai sikap sebagaimana yang dikehendaki dalam kurikulum.
Salah satu ranah sikap yang sangat penting dalam proses belajar mengajar adalah sikap pemaaf, sikap ini tidak secara eksplisit ada dalam kompetensi dasar.Dalam pembelajaran yang melibatkan peserta didik dengan latar belakang keluarga yang kurang baik, atau lingkungan sekitar yang tidak mendukung, sangat diperlukan bagi seorang guru untuk menjadi guru yang pemaaf. Contoh atau teladan guru adalah cara yang ampuh bagaimana membentuk sikap tersebut dalam diri peserta didik, sikap pemaaf salah satu yang harus ditunjukkan oleh guru ketika proses pembelajaran berlangsung.
Bagaimana kita sering mendengar siswa yang menghadapi masa remaja begitu mudah tersulut emosinya dengan hal-hal yang sepele, hanya karena saling bertatapan, atau karena rebutan pacar, terjadilah tawuran, sehingga jatuh korban yang sia-sia. Sungguh sesuatu yang menyakitkan bagi seorang guru karena kita yang diberi amanah oleh bangsa ini untuk mendidik mereka, tidak menjalankan tugas ini dengan baik. Begitu pula kita juga pernah mendengar bagaimana seorang guru membanting siswanya karena telah menghancurkan fasilitas di kelasnya.
Dua peristiwa yang akhir-akhir ini sering kita dengar patut kita renungkan, bagaimana pentingnya seorang guru harus menjadi contoh dalam sikap pemaaf, guru dalam suatu ungkapan “yang digugu dan ditiru”. jadi kalau para guru ingin peserta didik menjadi manusia yang pemaaf maka lebih dulu guru harus menjadikan sikap pemaaf sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya terutama ketika proses pembelajaran terjadi di kelas.
Ada suatu peristiwa di jaman nabi Muhammad S.A.W yang bisa menjadi teladan bagi para guru. Suatu saat salah seorang pemuda berkata dengan lantang kepada Rasulullah, “ya Rasulullah izinkan aku berzina”, maka para sahabat yang pada saat itu ada disekitar Rasulullah marah dan ingin memukul pemuda itu, tapi Rasulullah melarang para sahabat untuk memarahi pemuda itu, kemudian mengajak pemuda itu duduk dan berbicara dengannya, Rasulullah bertanya kepada pemuda tadi “ apakah kamu mau ibumu dizinahi oleh orang lain? Pemuda itu menjawab “tidak ya Rasulullah”, kemudian Beliau bertanya lagi, “apakah kamu mau saudara perempuanmu dizinahi”, pemuda itu menjawab “tidak ya Rasulullah” , dan seterusnya Rasulullah bertanya tentang para perempuan anggota keluarganya yang lain dan semuanya dijawab tidak oleh pemuda itu. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya yang mulia ke atas dadanya dan berdo’a “ya Allah lindungilah ia dari zina”. Para perawi berkata bahwa setelah kejadian itu tidak ada yang paling dibenci oleh pemuda itu selain zina.
Dari peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran bagi para guru agar sifat pemaaf menjadi hal utama sebelum mengajar, karena peserta didik yang dihadapi mempunyai latar belakang yang berbeda, dan tentu saja karakter yang merekapun juga berbeda. Wallahu a’lam

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar