3

Menjadi GuRaRu di Kenormalan Baru (0)

Mawani Gultom October 8, 2020

Pandemi memang membatasi ruang gerak diantara kita, tapi jangan sampai memadamkan semangat dan cita – cita kita.

Waktu terus bergulir dan sudah setengah tahun wajah pendidikan khususnya di negeri kita berubah. Segalanya kini memanfaatkan kecanggihan teknologi agar pendidikan tetap berlangsung seefektif mungkin. Kelas tatap muka kini harus berganti dengan tatap layar. Komunikasi kini harus puas dengan saling mendengar tanpa saling menatap. Semuanya perlahan seperti sudah mendarahdaging sekarang.

jika di kelas nyata hubungan guru dan murid rasanya begitu hangat, saling bertatap wajah, menegur dan mengingatkan tanpa jarak, dan yang paling merindukan itu adalah senyuman antusias juga wajah polos mereka saat belum memahami pelajaran dan tanpa pikir panjang menghampiri ke meja mereka untuk memberikan penjelasan. Namun semuanya itu kini harus digantikan dengan kelas tatap layar dimana kalimat – kalimat yang mereka ucapkan patah – patah akibat jaringan yang kurang bersahabat.

Namun semua kendala yang ada tak lantas mengubur panggilan jiwa kita sebagai seorang guru, bukan?

Hidup dalam kenormalan baru menuntut kita menjadi Guru Era Baru pula. Sejak Pembelajaran Jarak Jauh diterapkan, beragam komentar berserakan di dunia sosial media. Pro dan kontra bertebaran menghias. Sebagai Guru di kelas tatap layar meminta kita agar hadir menemani siswa belajar bukan malah membebani.

Menjadi guru di kenormalan baru versi saya adalah GuRaRu.

Gundah

Sejak pembelajaran jarak jauh diterapkan, saya selalu dihampiri rasa gundah (sedih, bimbang, gelisah). Saya sedih karena sejak saat itu saya tak bisa lagi bertatap langsung dengan siswa saya, mengobrol di kelas saat istirahat, bergotong royong menghias kelas saat tujuh belasan. Semua itu kini hanya tinggal kenangan. Saya juga bimbang apakah mereka benar – benar belajar dengan sungguh – sungguh? juga gelisah apakah materi pelajaran yang saya sampaikan bisa mereka pahami dengan baik? Saya benar – benar gundah. bukan hanya perihal target yang saya inginkan untuk mereka capai, tetapi efektifkah model pembelajaran yang saya terapkan sebagai evaluasi untuk terus mengasah diri.

Rasional

Akibat rasa gundah tersebut akhirnya mengiring langkah saya untuk menemukan solusi yang benar – benar solutif agar pembelajaran yang saya kemas benar – benar efektif dan seluruh siswa bisa memberi respon positif. Di mulai dengan membuat video pembelajaran yang prosesnya memakan waktu sampai tengah malam untuk mengeditnya, menyusun modul sederhana dan lembar – lembar latihan, membuat kuis ‘Excelent’ di akhir pembelajaran agar Kegiatan Belajar Mengajar lebih menyenangkan, mengabsen di WAG dan bunyi notifikasi yang kerap kali berdenting hingga tengah malam. Semuanya kini sudah menjadi bagian dalam diri. Secara pribadi saya mencoba memahami kerinduan hati mereka untuk mengobrol dengan teman – teman sekelasnya yang bisa dilakukannya hanya di grup kelas saat ini. Bagiku tidak masalah mereka mengobrol, yang terpenting masih berada di jalur yang tepat.

Rumah

Menurut saya, menjadi guru di kenormalan baru meminta saya dengan senang hati bersedia menjadi rumah untuk siswa. Ya, rumah yang menawarkan kenyamanan, kehangatan, dan kasih sayang pada mereka. Saya menyadari, ruang belajar yang berubah, tapi arti diri saya sebagai guru tidak pernah berubah di mata mereka. Saya tetap menjadi wali kelas yang senantiasa menjadi orang tua mereka di kelas. Memantau, memperhatikan, memotivasi mereka. Saat ini mereka sama halnya dengan saya yang juga terbeban dengan tatanan hidup di kehidupan baru, oleh sebab itu peran saya sebagai ‘rumah’ bagi mereka sangat diperlukan. Memberikan rasa nyaman saat mereka sulit beradaptasi dengan hal – hal baru seperti classroom, zoom, yang baru mereka kenal, membimbing mereka dengan rasa hangat ketika banyak pertanyaan muncul mengenai materi yang diberikan, dan merangkul mereka dengan kasih sayang saat beberapa diantara mereka tak punya fasilitas untuk mengikuti PJJ seperti teman – teman lainnya, meyakinkan mereka bahwa segala di Bumi akan berlalu dan mengajak mereka bersama – sama berseru agar Tuhan segera memulihkan segalanya seperti dulu.

Secara pribadi menjadi guru di kehidupan baru memberikan tekanan dan tantangan tersendiri bagi saya. Mendengar pengakuan beberapa orang tua murid yang harus kehilangan pekerjaan, menyaksikan sendiri siswa-ku ikut membantu orang tuanya bekerja membuat saya bertekad agar semakin bertanggung jawab untuk memberikan pembelajaran seefektif dan seefesien mungkin. Bagi yang tidak memiliki laptop dan hape android, saya meminta mereka untuk hadir ke sekolah menjemput modul sederhana yang saya susun sebagai panduan mereka belajar di rumah. Pandemi memang merenggut kebebasan kita untuk bergerak, namun tidak untuk memadamkan semangat mengajar dan belajar yang kita punya.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (3)

  1. Selamat malam Ibu Mawani 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar