1

Meningkatkan Kemampuan Berpikir (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 7, 2021

By. Agus Wahidi, S.Pd, M.Pd (Guru SMA Negeri 1 Singkawang)

  1. Pendahuluan

Apa yang dimaksud dengan berpikir? Apakah kerbau bisa berpikir?  kalau bisa mungkin dia tidak mau membajak sawah, capek lah, sudah capek bajak sawah nanti ujung-ujungnya dibuat kurban waktu hari raya idul adha , itu persepsi atau pikiran manusia. Mungkin juga kerbau punya alasan tersendiri kenapa dia mau disuruh-suruh ( maaf saya tidak tahu bahasa kerbau). Inilah yang membedakan antara manusia dengan kerbau, jika manusia melakukan sesuatu selalu memiliki alasan atau rasional  (kalau tidak berarti termasuk punya gangguan jiwa) dan inilah yang disebut manusia punya pikiran.

Tuhan menciptakan dua makhluk, yang satu bersifat anorganis (benda mati) dan yang lain bersifat organis (makhluk hidup). Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis) dan makhluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis), tetapi yang jelas ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari hewan maupun tumbuhan yaitu mempunyai kemampuan untuk berpikir.

Kisah tentang perkembangan berpikir dikisahkan dalam beberapa versi tentang Nabi adam  memakan pohon pengetahuan seperti dikisahkan oleh Alkitab, atau memakan buah Kuldi dalam AlQuran, nenek moyang kita adam sudah mulai berpikir untuk bertahan hidup dengan alam semesta ini sebagai sumber daya untuk hidup .Adam A.S memliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain karena mampu menyebutkan dan menamai benda-benda disekitarnya, inilah yang disebut bahwa  Adam memiliki pengetahuan atau kelebihan dalam memfungsikan bagian otaknya untuk berpikir. Dalam versi Alkitab diterangkan bahwa Adam turun kedunia karena telah memakan pohon pengetahuan, sehingga menyadari kemaluannya kelihatan orang lain dalam hal ini oleh hawa, inilah awal dari manusia mempunyai pengetahuan dan mulai memikirkan yang ada disekitarnya.

Dari sekian banyak ciri-ciri manusia sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat unik manusia. Rasa ingin tahu juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.

Teknologi sebagai anak dari sains atau ilmu kini sudah tumbuh besar .Perkembangan teknologi dibidang memori manusia sudah sangat pesat..Baru-baru ada rencana dari IBM untuk membuat otak tiruan . Peneliti yang tergabung dalam Blue Brain Project di Swiss mengumumkan rencana membuat otak artifisial beberapa dekade lagi. Simulasi dilakukan dengan membuat otak tikus buatan, menggunakan IBM Supercomputer Blue Gene.(Kompas, edisi rabu 16 desember 2009).

Perkembangan alam berpikir manusia dari zaman ke zaman berkembang sangat pesat. Setiap manusia berpikir, tetapi berpikir yang bagaimana yang membuat manusia menjadi bisa bertahan dalam setiap perubahan zaman. Teori Darwin paling tidak mengingatkan kita untuk merenungkan hal ini, jangan-jangan kita berevolusi jadi monyet lagi. Berpikir yang mampu bertahan pada masa depan menurut Howard Gardner (Pencetus Multiple Integensia) ada Lima ( five mind in the future) yaitu pikiran terdisiplin, pikiran menyintesis, pikiran merespek, pikiran menciptakan,pikiran etis.

Salah satu kecakapan hidup ( life skill ) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah ketrampilan berpikir (Depdiknas, 2006). Kemampuan seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya antara lain ditentukan oleh ketrampilan berpikirnya, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Di samping pengembangan fitrah bertuhan, pembentukan fitrah moral dan budipekerti, inkuiri dan berpikir kritis disarankan sebagai tujuan utama pendidikan sains dan merupakan dua hal yang bersifat sangat berkaitan satu sama lain (Ennis, 1985; Garrison & Archer, 2004).

Di Indonesia, pengajaran keterampilan berpikir memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu, sehingga siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum Berbasis Kompetensi yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pengajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal.

Dalam tulisan ini saya mencoba mengupas tentang sejarah perkembangan manusia berpikir dan beberapa hal yang berkaitan dengan proses berpikir seperti otak manusia sebagai hardwarenya, pemikiran sebagai software aplikasinya, pikiran sebagai software operasi, berpikir logis sebagai salah satu software operating system dalam pikiran, dan realitas sebagai data source. Saya menggunakan kajian pustaka sebagai pisau untuk mengupas tentang berpikir.

  • Sejarah Perkembangan Pikiran Manusia

Ada dua macam perkembangan alam pikiran manusia, yakni perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya dan perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman purba hingga dewasa ini.

  1. Sejarah Pengetahuan yang diperoleh Manusia

Manusia selalu merasa ingin tahu sehingga sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui atau wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya.

August Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metafisika. Mitologi ialah pengetahuan tentang mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.

Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan panca indera manusia serta keingintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.

Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), ekliptika (bidang edar Matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap.

Tonggak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar di bidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya memantulkan sinar matahari, dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.

Tubuh manusia berubah mulai sejak berupa sel sederhana yang selanjutnya secara bertahap menjadi manusia yang sempurna. Sel sederhana berasal dari sel kromosom sperma yang identik dengan kromosom sel telur, pada prosesnya akan terjadi kromosom yang tidak homolog yang akan menjadi laki-laki.

Lima minggu setelah terjadi konsepsi, bakal jantung mulai berdenyut yang selanjutnya akan membagi menjadi serambi kiri dan kanan pada minggu ke-9. Sedangkan pada minggu ke-13, janin sudah mulai berbentuk yang ditandai dengan berfungsinya berbagai organ, yang selanjutnya pada usia 18 minggu mulai terasa gerakan dari janin.

Pada usia 32 minggu, janin mulai mempersiapkan diri untuk dilahirkan dengan kepala di bawah makin mendekati lubang kelahiran. Pada saat ini gerakan semakin berkurang. Perkembangan tercepat terjadi pada saat setelah kelahiran sampai remaja.

Perubahan fisik yang sangat nyata, terjadi pada saat pubertas, yang ditandai di antaranya dengan tanda kedewasaan berupa tumbuhnya rambut pada daerah-daerah tertentu dan fungsi organ-organ reproduksi (organ genitalia).

Perkembangan pengetahuan pada manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan semasa anak-anak, berupa bimbingan yang baik oleh orang tua dan lingkungan yang terus akan terbawa sampai dewasa.

Sampai usia 2 tahun, perkembangan kecerdasan sangat cepat, dari belajar, makan, berbicara dan berjalan. Pada usia 2 – 7 tahun rasa ingin tahu akan makin besar. Masa remaja merupakan masa pertentangan dengan dirinya maupun dengan orang dewasa, karena selalu berusaha untuk memposisikan diri sebagai orang dewasa walaupun secara emosional belum memadai. Selanjutnya, setelah usia 30 tahun, mulai dapat mengendalikan diri dan mampu menempatkan diri sebagai individu yang bertanggung jawab.

Dengan bertambah majunya alam pikiran dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif dan penalaran induktif.

Penalaran deduktif ialah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik simpulan yang bersifat khusus. Sedangkan penalaran induktif (empiris) ialah cara berpikir dengan menarik simpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus.

Karena himpunan pengetahuan yang diperoleh dari penalaran deduktif dan induktif tidak dapat diandalkan sebagai ilmu pengetahuan maka muncullah ilmu yang secara teoretis didapat dari pengamatan dan eksperimentasi terhadap gejala-gejala alam. Konsep itu disebut Ilmu Pengetahuan Alam.

Pengetahuan tentang mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan bahkan percaya adanya dewa diperoleh dengan cara berprasangka, berintuisi dan coba-coba (trial and error) Suatu pengetahuan dapat dikatakan pengetahuan yang ilmiah apabila memenuhi syarat-syarat antara lain; objektif, metodik, sistematik dan berlaku umum. Salah satu syarat ilmu pengetahuan tersebut harus diperoleh melalui metode ilmiah. Kriteria metode ilmiah yang digunakan dalam penelitian antara lain harus berdasarkan fakta, bebas prasangka, menggunakan prinsip-prinsip analisis, hipotesis, berukuran objektif serta menggunakan teknik kuantitatif atau kualitatif.

Alur berpikir yang mencakup metode ilmiah dapat dijabarkan dalam langkah-langkah yang mencerminkan tahapan kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah operasional metode ilmiah, yaitu perumusan masalah, penyusun kerangka berpikir, pengajuan hipotesis, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan simpulan.Metode ilmiah mempunyai keterbatasan maupun keunggulan. Keterbatasan metode ilmiah adalah ketidaksanggupannya menjangkau untuk menguji adanya Tuhan, membuat kesimpulan yang berkenan dengan baik dan buruk atau sistem nilai dan juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan keindahan. Sedangkan keunggulannya, antara lain:

   1.      mencintai kebenaran yang objektif dan bersikap adil;

   2.      kebenaran ilmu tidak absolut sehingga dapat dicari terus-menerus;

   3.      mengurangi kepercayaan pada tahayul, astrologi maupun peruntungan, dan lain-lain.

  • Otak Manusia sebagai hardware dalam berpikir

            Sejarah tentang penelitian otak berawal dari teori Darwin tentang kemiripan monyet dengan manusia. Kemiripan ini menurut Darwin menjadi landasan bahwa monyet adalah nenek moyang manusia. Otak monyet dengan otak Darwin mungkin secara fisik dianggap sama. Tetapi dari penelitian yang sudah ada ternyata volume sel-sel otak manusia ribuan kali lipat dibandingkan sel-sel otak monyet. Dan mungkin otak monyet masih enak kalau digoreng.

Sebelum lebih jauh membahas otak , maka perlu kita ketahui dulu tentang terminology tentang otak, pikiran dan pemikiran yang terkadang semantic ini banyak terjadi kerancuan penggunaan dalam beberapa diskusi dan pembahasan tentang otak. Secara sederhana otak (brain) dapat dianalogikan sebagai computer ( hardware) , pikiran (mind) sebagai system operasi dan pemikiran sebagai software aplikasinya. Kesemuanya memiliki saling keterkaitan, pemikiran tidak aka nada tanpa pikiran, pikiran tidak akan ada tanpa otak.Otak tidak akan berguna tanpa pemikiran dan pikiran. ( mungkin bisa untuk lauk pauk kalau digoreng, nanti terpajang didepan warung “Jual Otak Goreng Profesor, Otak Goreng Doktor, dan Otak Goreng Master” kira-kira yang laris otak goreng yang  mana???). Sehingga ada lelucon tentang otak manusia, bahwa otak manusia Indonesia lebih banyak diminati dibanding otak manusia jepang, karena otak manusia indonesia masih banyak belum digunaakan untuk berpikir jadi masih enak untuk dimakan. Pelecehan semacam ini sebaiknya jangan dibalas dengan menghujat tapi lebih baik dibuktikan dengan karya manusia Indonesia yang lebih hebat dari pada manusia jepang.

Otak manusia secara fisiologis sebagai pusat berbagai aktivitas mental mulai dari pengambilan, pemrosesan dan penyimpanan informasi. Otak sebagai bagian dari System Saraf  Pusat (SSP). SSP berkenaan dengan pengaturan terkait tentang bagaimana satu makhluk merespon stimulus dari lingkungan sekitar. Dalam SSP ini terdapat korteks yang merupakan lapisan yang melingkupi hamper seluruh permukaan otak yang terdiri dari sejumlah sel yang saling berhubungan satu sama lain.

Panca indra dan seluruh otot ditubuh terhubung dengan SSP, yang terdiri dari sekelompok neuron yang menghantarkan sinyal. Neuron dapat dibedakan menjadi beberapa jenis , namun pada daranya neuron ini memeliki fungsi yang sama dimanapun letaknya pada tubuh, yaitu membawa aliran listrik dan bertindak sebagai penghubung (relay), melanjutkan informasi dari satu neuron ke neuron lain.Demikianlah mekanisme pengantaran informasi yang dibawa dari permukaan kulit, sebagai sinyal elektrik, dan juga bagaimana otot diberitahu untuk bergerak, menggunakan informasi.

Neuron terdiri atas tubuh sel yang bisa sangat panjang atau bisa sangat pendek . sinyal hanya bisa berjalan satu arah pada neuron, ujng menerima sinyal dating disebut dengan dendrite dan ujung yang mengirim sinyal disebut dengan akson yang umumnya lebih panjang daripada dendrite.Biasanya hanya ada satu akson , yang memiliki cabang pada ujungnya untuk kemudian berhubungan dengan neuron  lain hingga sampai 10.000. pertemuan antara akson dari satu sel  dengan dendrite sel lain sering dikenal dengan sinapsis (synapse).  Zat kimia yang biasanya digunakan untuk menghantarkan sinyal disepanjang celah antar sinapsis disebut dengan neuro transmitter.

Dalam proses berpikir maka ada media atau alat untuk mempermudah mendapatkan makna atau yang yang disebut dengan representasi mental ( Yovan, 2008) dengan menggunakan mind map (peta pikiran). Pembuatan peta pikiran cukup sederhana yaitu dengan lima langkah sebagai berikut :

  1. Lakukan Brainstorming selama 10-15 menit per sesi. Ketika Central disebutkan maka konsep apa saja yang terlintas di benak dituliskan terlebih dahulu. Jangan lakukan penilaian apakah relevan atau mau diletakkan di mana.
  2. Kategorisasikan/ kelompokkan sekumpulan ide itu kemudian tentukan hirarki konsep mana yang menjadi dahan (umum), mana yang jadi ranting dan mana yang jadi daun (detil).
  3. Mulai layout / gambarkan konsep-konsep tersebut.
  4. Tarik garis antar konsep tersebut.
  5. Pergunakan warna, Ikon dan Asosiasi untuk menambah cantiknya Peta Konsep yang dihasilkan.

Ya, cuman hanya 5 langkah sederhana seperti itu. Tetapi di balik kesederhanaan dan mirip bentuk dan cara kerja sel otak kita menyimpan informasi. Nucleus=Centrum, Axon=Dahan, Dendrite=Ranting, Synapse=Hubungan ke Map Lainnya (ini kemampuan Multi Map).

Penggunaan warna, ritme (dari gambar ketebalan dahan, ranting ke daun), layout (spasial), ikon dan asosiasi (menghubungkan Ikon dan Analogi) untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep yang sudah melekat di otak –> membantu otak mengingat lebih baik, karena melibat lebih banyak panca indra, juga otak melakukan proses Asimilasi pengetahuan baru terhadap pengetahuan yang sudah mengendap sebelumnya.

Setelah peta konsep itu jadi, maka kemampuan otak kanan secara visual dan holistik serta Gestalt yang memicu “Kayaknya ada yang kurang dan saya bisa tambahkan lebih lanjut” akan meneruskan pengembangan peta tersebut. Kemampuan alami otak kanan yang Random akan tersalurkan ketika ada sebuah konsep baru muncul, maka otak kiri mulai bekerja menganalisa sebaiknya diletakkan di mana.

Ketika melihat peta secara keseluruhan dari jauh maka otak kanan bekerja (seperti seseorang menilai/ mengagumi lukisan) dan ketika tertarik pada suatu lokasi maka otak kiri mulai bekerja secara logis dan analitik.

  • Berpikir, realitas dan bahasa serta logika

Berpikir merupakan tanggapan terhadap suatu realita dengan media atau alat yang disebut dengan bahasa. Dalam berpikir manusia sebagai observer realita bukan sebagai penguasa/ creator dari suatu realita. Realita yang ada berjalan dengan sendirinya dan tidak bisa diubah dengan hanya berpikir. Dan untuk mengkomunikasikan antara realita dengan pikiran manusia maka menggunakan media atau alat yang disebut dengan bahasa. (Poespoprodjo,1999:79).

Kemampuan menggunakan bahasa menentukan keberhasilan seseorang mengkomunikasikan realita eksternal untuk ditangkap dimasukkan dalam realita internal. Kegagalan atau kesalahan orang menangkap realita eksternal ke dalam realita internal menjadikan orang tertekan dan kadang dikendalikan realita internal yang dipahaminya yang terkadang salah.

Pembelajaran sekarang kadang kurang memperhatikan kemampuan realita internal pada tiap siswa. Realita eksternal yang dibangun supaya seindah mungkin dengan bahasa, perilaku, dan multi media secanggih apapun ketika kemampuan berpikir atau menterjemahkan realitas eksternal ke dalam realita internal bermasalah akan sama hasilnya dengan pengajaran biasa. Bukankah hanya membuang waktu biaya dan tenaga saja?.

Ketrampilan berpikir dibutuhkan dalam bidang pendidikan terutama sekolah. Pendapat umum menyatakan bahwa keterampilan berpikir yang efektif merupakan suatu karakteristik yang dianggap penting oleh sekolah pada setiap jenjangnya, meskipun keterampilan berpikir seperti ini jarang diajarkan oleh guru di kelas. Mengajarkan keterampilan berpikir secara eksplisit dan memadukannya dengan materi pembelajaran (kurikulum) dapat membantu para siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif secara efektif. Artikel ini mencoba menjabarkan definisi keterampilan berpikir, menjelaskan bagaimana seharusnya keterampilan berpikir tersebut diajarkan di sekolah, dan menunjukkan bagaimana keterampilan berpikir tersebut diterapkan pada pembelajaran di sekolah.

Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.

Berpikir adalah obyek material logika. Yang dimaksudkan dengan berpikir di sini ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia ‘mengolah’, ‘mengerjakan’ pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan ‘mengolah’ dan ‘mengerjakan’ ia dapat memperoleh kebenaran. ‘Pengolahan’, ‘pengerjaan’ ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lain. Oleh karena itu, obyek material logika bukanlah bahan-bahan kimia atau salah satu bahasa, misalnya. Jadi cirri khas manusia terletak pada kemampuannya berpikir. Semua orang yang sadar dapat berfikir. Tetapai tidak semua orang yang sadar dapat berfikir dengan baik. Sebab berfikir dengan  baik itu adalah sulit. Lebih-lebih apabila orang itu telah terikat oleh: emosi, nafsu, prasangka, dan sebagainya. Juga apabila yang dipikirkan memang hal-hal yang benar-benar sulit. Sehingga orang kadang-kadang menjadi bingung, kehilangan arah yang benar, maka disinilah logika akan memberikan pertolongan. Logika berfungsi memperkuat dan memperluas kerja pikiran kita.

Disamping itu masih ada hal-hal yang mendorong kita untuk mempelajari logika, sebab logika itu dapat menjamin lurusnya jalan pikiran kita, logika itu adalah kunci  dari ilmu  pengetahuan yang lain, logika membuat kita menjadi cakap,  kritis dan objektif, logika menjadi pengantar yang bijak bagi pemikiran filsafat.

Orang yang pemikirannya runtut disebut logis, akan tetapi belum tentu mencapai kebenaran. Pemikiran yang semacam itu dapat dibedakan sebagai berikut: runtut tapi tidak benar, tidak runtut dan tidak benar, tidak runtut tapi benar, runtut dan benar. Dengan belajar logika, kita berusaha untuk mencapai pemikiran yang logis, runtut dan benar . (Soedomo,2005)

  • Kesimpulan

Manusia memiliki otak yang dapat dikembangkan untuk berpikir menghadapi realita dengan media bahasa dan untuk terampil berpikir maka memerlukan logika dalam berpikir. Pengembangan pengajaran seharusnya mengedepankan ketrampilan berpikir, sehingga siswa mempunyai kompetensi bukan hafal materi pelajaran.

Sekolah dengan adanya KBK menuntut para gurunya mempunyai ketrampilan berpikir, untuk menuju ketrampilan berpikir teknologi tentang berpikir menyediakan suatu alat bantu logika dan mind map. Guru harus bisa mengolah ketrampilan berpikirnya dan ketrampilan berpikir siswa.

Referensi :

Howard Gardner,  2007, Five Mind For The Future (Lima Jenis Pikiran yang Penting di Masa Depan), Jakarta, Gramedia

A.Soedomo S.U. Prof. Drs., 2005, Logika Filsafat Berpikir, Surakarta, UNS Press

Poespoprodjo, 1999, Logika Scientifika, Bandung, Pustaka Grafika

Joko sutrisno, 2008, Menggunakan Keterampilan Berpikir untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran, Artikel pendidikan dalam www.erlangga.com didownload tanggal 16 Desember 2009 jam 11.40

Yovan P. Putra, 2008, Memori dan Pembelajaran efektif, Bandung, Yrama Widya

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar