4

Mengurangi Beban Sekolah sebagai Solusi Mengurai Masalah Pendidikan Indonesia (0)

Supadilah S.Si December 6, 2020

Saat ini pelajaran di Indonesia itu terlalu gemuk. Sangat banyak jika dibandingkan dengan pelajaran di sekolah-sekolah di negara lain.  Misalnya di sekolah dasar kelas 1 bisa ada 9 mata. Pernah saya ikut seminar bersama di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Banten, pemateri mengatakan kalau siswa kelas 1-3 sekolah dasar di Singapura hanya ada tiga mata pelajaran. 

Setelah jumlah mata pelajaran dikurangi, muatan mata pelajaran dikurangi. 

Caranya melakukan survei kepada siswa dan guru mata pelajaran tentang tema yang sulit dan dikeluhkan. Ya, bisa juga dengan meminta masukan dari para guru tema apa yang perlu dikurangi.

Jangan salah lho banyak guru yang juga mengeluhkan muatan di kurikulum. Banyak yang mengeluhkan tapi tidak mampu berkutik.

Ada baiknya membentuk tim untuk membedah muatan kurikulum. Bisa lewat focus grup discussion (FGD), seminar, diskusi dan lainnya. Untuk apa? Untuk menilai relevan atau tidak muatan kurikulum itu buat peserta didik.

Sebab banyak juga muatan mata pelajaran yang kurang relevan. Contohnya di matematika atau fisika kebetulan saya adalah guru matematika fisika.

Mungkin ada juga muatan yang saling tumpang tindih. Misalnya materi Termodinamika yang dipelajari di Kimia dan Fisika. Atau materi turunan yang ada di Gerak Lurus Berubah Beraturan, padahal turunan baru dipelajari di matematika kelas XI. Nah, ini kan jadi kurang nyambung.

Bisakah Ada Dua Kurikulum?

Saat rapat kenaikan kelas, banyak guru yang mengeluhkan hasil ujian siswa.

“Si itu sepertinya kurang mampu di IPA. Banyak dasar-dasarnya yang kurang menguasai.”

“Lha, sama Bu. Di pelajaran saya juga gitu” balas guru lain.

“Wah, banyak kok yang hampir sama kayak dia, Bu. Ada enam orang lebih di IPA itu yang cukup mengkhawatirkan hitung-hitungannya.”

Banyak guru yang mengeluhkan kemampuan siswa. Saat ini kan umumnya jurusan terbagi IPA dan IPS. Banyak anak IPA yang kurang pas di IPA. IPA itu kan identik dengan hitung-hitungan atau rumus-rumus. Kalau nggak menguasai hitung-hitungan akan kewalahan di IPA.

Makanya agak mengherankan banyak anak yang kurang kuat hitung-hitungannya tapi masuk ke IPA. Tapi kadang bukan salah anak. Banyak juga yang masuk IPA karena disuruh orang tua. Apa sebabnya?

Kalau jurusan IPA itu lebih gampang cari kerja. Itu alasan paling banyak. Ah, jaman now masih juga berpikiran kolot seperti itu. Padahal, sukses atau tidaknya seseorang bukan ditentukan dari jurusannya. Tapi tergantung kerja keras!

Bagusnya ada dua atau lebih kurikulum yang sesuai dengan kemampuan anak. Kurikulum yang mampu memfasilitasi anak sesuai kemampuannya.

Supaya tidak ada kesan diskriminasi maka bisa dibuat namanya yang lebih halus. Jangan sampai menimbulkan kesan kemampuan rendah dan kemampuan lemah.

Kan sekolah yang ideal itu sekolah yang memahami kebutuhan siswa. Siswa pun belajar sesuai dengan kebutuhannya. Bukan karena tuntutan sekolah, ujian ataupun tuntutan kurikulum.

Tagged with: , ,

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar