2

Mengurai Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 (0)

oloan December 7, 2020

Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim telah membeberkan isi Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 pada rapat kerja bersama Komisi X DPR RI yang telah dipersiapkannya. Arah Peta Jalan ini adalah membangun Pelajar Pancasila yang memiliki profil beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Peta Jalan Pendidikan ini terlihat berisi tiga bagian utama, yaitu: tren global dan masa depan pembelajaran; gambaran Pendidikan di Indonesia dan tantangannya; dan peta jalan Pendidikan Indonesia. Instrumen yang akan digunakan untuk mencapai ikhtiar itu, tentunya Merdeka Belajar yang didengung-dengungkan Mas Menteri sejak dipercayakan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Peta Jalan Pendidikan Indonesia yang selanjutnya akan disingkat menjadi PJPI haruslah berpijak pada peta persoalan riil pengelolaan pendidikan yang terjadi selama ini. Persoalan pengelolaan pendidikan sudah menjadi pesoalan kontemporer, terlihat beberapa tahun terakhir. Misalnya mengapa semakin besar anggaran pendidikan di satu sisi, tetapi di sisi lain mutunya kian merosot. Sebagai contoh, pada APBN 2018, alokasi anggaran pendidikan mencapai Rp 444 triliun dan tahun 2020 angka ini meningkat menjadi 508 triliun.

Namun, sebaliknya hasil peringkat PISA, Indonesia turun dari urutan ke-65 (2015) menjadi peringkat ke-72 (2018) di antara 77 negara.

Bahkan berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh Firma pendidikan Pearson (2012), mutu dan sistem Pendidikan Indonesia masih belum baik. Belum lagi dampak covid-19 terhadap mutu dan akses pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan dapat mengancam terjadinya lost generation pada sekelompok generasi muda di kemudian hari akibat kurang pendapatkan pendidikan yang normal akibat pandemi.

Masalah lain yang perlu dibenahi dari PJPI ini tentunya ketiadaan kesinambungan penerapan satu kebijakan pendidikan. Dari era Orde Baru hingga sekarang, banyak menteri telah menelurkan dan memberi warna perkembangan Pendidikan di Tanah Air dengan gagasan yang inovatif dan strategis. Namun lagi-lagi gagasan-gagasan dari para menteri itu bersifat sporadis dan kontemporer, mendapat dukungan hanya sebatas masa jabatan menteri, sehabis menjabat, ganti gagasan lagi.

Kedua, penyiapan PJPI haruslah menjadikan pendidikan sebagai jalur pemerata (the great equalizer) dan perekat kohesi sosial bangsa.

Global Wealth Report (2016) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan keempat terburuk tingkat kesenjangan sosial ekonominya di dunia setelah Rusia, India dan Thailand. Bahkan Oxfam menunjukkan bahwa harta dari empat orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan dari harta 100 juta orang miskin di Indonesia. Lebih jauh lagi, jumlah uang per tahun yang dihasilkan salah seorang terkaya itu cukup untuk membantu menghapus kemiskinan di negara kita.

Kesenjangan sosial nampaknya semakin melebar karena persentase orang kaya naik 10 persen setahun, sedangkan orang miskin hanya turun satu pesen dalam empat tahun (nusantaranews.co, 26/7/2018). Bank Dunia juga melaporkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa 88,8 persen potensi konflik di Indonesia bersumber dari kesenjangan sosial.

Sumbernya berasal dari ketidakadilan pemberian kesempatan, munculnya tuntutan keterampilan baru di sektor ekonomi modern, meningkatnya konsentrasi kekayaan finansial di kelompok kecil penduduk, dan ketiadaan pendidikan bermutu bagi warga berpendapatan rendah (Indonesia Rising Divide, 2016).

Dari perspektif pendidikan, kesenjangan sosial ekonomi, sesungguhnya berpangkal dari adanya “senjang pengetahuan” yang semakin lebar antara pendidikan di kota dengan pendidikan di pedesaan, atau di provinsi Jawa dengan provinsi di luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Senjang pengetahuan dan keterampilan yang semakin lebar, sangatlah jauh berbahaya daripada kurangnya keseimbangan keuangan pusat dan daerah, karena pendidikan adalah satu-satunya jalan “Jalur Pemerata” yang didambakan oleh warga yang miskin dan tertinggal. Untuk memperkecil kesenjangan itu, PJPI dapat juga memetik beragam pengalaman berharga pengelolaan pendidikan di awal kemerdekaan, di era orde baru, era orde lama, hingga di era reformasi jika dinilai relevan.

Ketiga, penyiapan PJPI haruslah berorientasi ke masa depan untuk mempersiapkan generasi muda yang unggul di pergaulan global, namun harus tetap berpangkal pada jati diri lokal; sekolah, terutama di desa. Sekolah adalah jendela utama perluasan wawasan anak desa menjadi anak kota, yang kemudian menjadi anak yang berwawasan regional dan global.

Sekolah harus bisa menjadi semacam “Pialang Kebudayaan” yang mempertemukan secara pas dan berimbang kesadaran anak tentang perkaitan dan tumpang tindihnya antara budaya lokal, provinsial, regional, nasional, dan global secara simultan. Karena itu, sekolah harus mampu melebarkan sayap anak didiknya untuk terbang ke peradaban maju dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk hidup rukun, damai, dan bermartabat dalam kebhinekaan global sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Semoga Peta Jalan Pendidikan Indonesia ini benar-benar bisa disiapkan dan diimplementasikan dengan baik sehingga Pendidikan Indonesia benar-benar dapat sejajar dengan pendidikan negara-negara tetangga kita.

Dan pembenahan aspek-aspek yang berhubungan dengan standarisasi, penilaian, akuntabilitas, perbaikan sekolah, guru, dan kepemimpinan pendidikan, serta dukungan penuh masyarakat dan pembiayaan benar-benar mampu mewujudkan Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semoga!

Comments (2)

  1. Ntah bagaimana kehidupan teknologi di masa mendatang, namun ditahun ini saja sudah hampir 100% orang tidak mau gaptek meski (minimal) masih memiliki HP yang jadul.
    Bahkan didunia pendidikan sudah hampir semua sekolah ataupun madrasah mewajibkan peserta didik untuk memiliki HP atau bahkan Laptop sebagai media pendukung belajar dan juga sebagai media untuk ujian. Keren, Indonesia sungguh keren.

    Semoga benar adanya bahwa negara Indonesia adalah negara berkembang. Ayo maju!!

  2. Halo ibu FitriyaniElHasan, terimakasih telah memberikan komentar, memang di era kekinian rasanya sangat mustahil masih ada yang tidak menggunakan teknologi dalam pembelajaran. semoga Indonesia semakin maju dengan pemanfaatan teknologi..Salam

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar