4

Mengubah Sudut Pandang (+4)

Siti Mugi Rahayu November 27, 2014

2014-04-10 08.02.19

Sekolah masih mendesain siswa memperoleh nilai tinggi saja ?

Stephen R. Covey dalam bukunya Leader in Me, menuliskan pengalaman guru-guru yang mengajarkan tentang kepemimipan. Mereka mengungkapkan penyesalannya ketika menyadari bahwa fokus yang terlalu besar ada pada upaya menaikkan angka ujian dan hal ini membuat para siswa tidak mempelajari beberapa keterampilan paling dasar yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari. Bahkan, fokus pada nilai telah membuat guru gagal meyakinkan siswa untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan.

Hal kecil yang saya pelajari dari Dias, seorang siswa kelas 1 SD yang ketika masuk SD sama sekali belum dapat dikatakan bisa membaca dengan baik. Bahkan, dia sering keliru antara huruf N dengan M atau D dan P, adalah ternyata dia begitu menyenangi proses belajar, terutama membaca.
Dias sering minta diantar ke toko buku dan memilih sendiri buku bacaan yang dia senangi. Dia baca semua buku yang dia beli malam itu juga. Besoknya dia minta ke toko buku lagi.

Pulang sekolah, yang pertama kali dilakukan adalah membaca-baca kembali buku-bukunya. Dia tidak mengeluh walaupun sampai malam harus ditemani sang ibu untuk membaca ulang bukunya kalau ada ulangan esok hari. Intinya, semangat belajar Dias terus hidup, semangat membacanya terus menggebu. Dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah pandai membaca sedari TK mula tapi tidak punya semangat belajar dan membaca lagi. Dias buat saya adalah luar biasa.

Ternyata, dulu ketika TK, guru-gurunya sempat cemas. Jangan-jangan Dias adalah anak yang tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang sudah pintar membaca. Untungnya orang tuanya tidak peduli pencapaian. “Yang penting, anak saya menyenangi proses belajar. Dengan begitu dia akan menghargai setiap apapun yang dia peroleh. Saya tidak bisa memaksakan dia harus bisa membaca sementara dia memang belum bisa. Saya tidak terlalu peduli dia dapat nilai berapa. Disekolahkan sudah, diajarkan sudah. Ya sudah. Kita tunggu saja hasilnya”. Bukan pasrah, saya yakin ini merupakan sebuah kesadaran bahwa semua yang hanya mengandalkan nilai tidak akan selalu berhasil.

Ibu Devinda berbeda lagi kisahnya. “Saya ingin sesekali memamerkan nilai rapor anak saya sama eyang dan saudara-saudara sepupunya. Jangan rangkingnya paling akhir mulu..”. Setiap mengambil rapor Devi, harapannya selalu begitu. Kecewa, Bu ? Si ibu mengangguk. “Bagaimana kalau kita ubah kekecewaan menjadi kebanggaan? Devi adalah anak yang pintar menulis. Tulisannya mengalir bagaikan cerita sungguhan. Dia mampu mengekspresikan kata demi kata menjadi hidup. Dia seorang penulis, yang belum tentu bisa dilakukan oleh anak-anak yang lain”. Si Ibu tersenyum, mungkin ingat sesuatu. Sekarang Devi sekolah di bagian jurnalistik sebuah universitas di Jakarta.

Comments (4)

  1. Ya bu, sudut pandang yg sempit apalagi salah, harus segera diubah. Sejak di keluarga, pendidikan thd anak harus tut wuri dan pendidik hrs peka thd sesuatu yg menonjol dlm diri anak. Di sekolah pun ketika kita memperhatikan perbedaan individu dan layanan kita bisa sesuai, InsyaaAllah laporan perkembangan siswa yg berupa rapor dpt merekam hal tsb. Thx sharingnya, salam sukses.

  2. Begitulah jika pendidikan hanya berorientasi pada titik akhir yaitu sebuah nilai tanpa memikirkan sebuah proses. Mari kita lebih menekankan pada ” bagaimana CARA kita menyampaikan, bukan hanya pada APA yang kita berikan…Salam

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar