9

Mengguncang Dunia dari Sebuah Ruang (+4)

L.GRAFURA May 17, 2015

Bagi saya, tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan murid-murid di kelas. Saya merasa terhibur ketika mereka tertawa. Saya takjub ketika mereka menemukan ide-ide di luar pemikiran saya dalam memecahkan masalah. Tapi sayangnya, kegiatan yang penuh petualangan itu tiba-tiba berubah hanya karena sebuah pertanyaan.

Ya, sebuah pertanyaan sederhana yang tiba-tiba mengusik saya. Pertanyaan itu seolah menjelma sebuah katapel raksasa yang melemparkan saya ke tengah samudera luas. Tidak ada mercusuar dan sampan yang membawa saya keluar dari pulau ketersesatan tersebut: Apakah yang saya lakukan ini benar-benar bermanfaat bagi mereka?

Belum selesai satu pertanyaan, muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang haus jawaban dan siap memangsa pemikiran nyaman saya: guru itu mendidik atau mengajar? Bagaimana memastikan bahwa murid yang saya didik akan mampu bersaing di dunia globalisasi? Bagaimana dengan birokrasi yang seolah menjadi rantai pengikat kreativitas para guru? Kenapa saya harus pusing mengajar, sementara guru-guru yang sudah sertifikasi saja tidak meningkatkan kompetensi mereka? Dan, jika saya mendaftarkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, barangkali akan menjadi sebuah buku tebal berjilid-jilid jumlahnya.

Belum lagi saya menemukan fenomena ada seorang guru yang sangat berdedikasi dalam mencerdaskan para murid. Ia berjibaku dalam mengantarkan murid untuk menang sayembara hingga tingkat nasional. Totalitasnya benar-benar luar biasa. Namun sayangnya, hanya karena administrasi mengajarnya tidak sesuai, pengawas mengelompokannya menjadi “guru yang tidak baik”. Sebaliknya, ada guru yang sering meninggalkan kelas, jarang menerangkan, tetapi administrasinya lengkap (yang bisa jadi hasil unduhan dari internet) justru bisa tampil menjadi guru yang baik di hadapan pengawas dan bisa berprestasi.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pengawas, saya berpikir bahwa jika pengawas ingin benar-benar meningkatkan kualitas guru hendaknya tidak mengukur dengan pertanyaan “Mana administrasi mengajar Anda?” saja melainkan juga masuk kelas, memberikan saran atas permasalahan-permasalahan, dan memberikan contoh teladan mengajar yang baik.

Tidak hanya itu, ada hal lain lagi yang mengusik saya. Media massa begitu bersemangat ketika memberitakan hal-hal negatif tentang pendidikan. Seolah pendidikan di tanah air ini tidak ada baiknya. Guru menjadi semacam selebritas yang tak ada habis berita negatifnya dikuras.

Apabila terdapat peristiwa hamil di luar nikah, narkoba, tawuran, seks bebas, hingga korupsi, pihak pertama yang “pantas” dituding adalah guru. Benarkah begitu? Patut diingat, guru dituntut memperbaiki moral murid hanya dalam waktu 8 jam di sekolah. Jika dirinci lagi, guru hanya punya waktu 2 x 45 menit dalam seminggu bahkan bisa kurang. Harusnya orang tua yang harus dipersalahkan jika memang mencari siapa yang salah. Betapa tidak, mereka yang punya waktu 16 jam di rumah!

Apa yang B.S. Ardiatmadja[1] tulis bisa menjadi pembelaan tetapi juga sebuah kritikan. Beliau menuliskan bahwa guru masih diminta berperan sebagai orang bijak dan cerdas, namun lingkungan tidak selalu mengizinkan guru menjadi cerdas dan meningkatkan kecerdasannya karena sejumlah hal, antara lain sebagai berikut. Pertama, guru kerap mengerjakan tugas administratif yang mustahil dilakukan. Kedua, guru kerap mengikuti acara pemerintahan yang tidak punya cukup waktu untuk menolong mencerdaskan mereka. Ketiga, pegangan dari departemen pendidikan begitu “kaku” sehingga tidak ada ruang untuk mengembangkannya.

Pada titik ini saya merasa putus asa menjadi guru. Hingga saya membaca berita di sebuah media bahwa sebanyak 300 guru di wilayah Jawa Timur pada bulan Februari sampai April 2015 mengajukan pensiun dini. Data itu akan bertambah menjadi 301 karena saya akan menyumbangkan sebuah nama, yaitu nama saya sendiri, untuk menambah panjang data statistik tersebut.

 

Dari Ketaksaan Menuju Keniscayaan

Sore itu saya memilih menenggelamkan diri di antara rak-rak buku perpustakaan UPT proklamator Bung Karno, Kota Blitar. Saya sempat memikirkan akan menjadi seorang penulis novel saja daripada menjadi seorang guru. Oleh karena itu, saya berniat meminjam buku di rak novel.

Otak saya berpikir ke sana, namun alam bawah sadar saya menuntun langkah saya pada deretan buku pendidikan. Tatapan saya jatuh pada sebuah buku berjudul Sekolah: Mengajar atau Mendidik? Karya J.I.G.M Drost[2]. Pada salah satu halaman dalam buku tersebut, Dr.M.sastrapratedja, menulis pengantar: Kalau guru dan dosen berani menggali kekuatan-kekuatan yang ada dalam murid dan membantu untuk memperkembangkannya, akan muncul lebih banyak manusia Indonesia yang unggul.

Dari Drost ke Eric Jensen[3]. Pakar pendidikan tersebut menulis bahwa pendidik harus mewujudkan bakat anugerah dalam diri siswa yang merupakan warga masa depan. Sementara itu Profesor Sa’ad Karim[4] menambahkan Tidak ada pendidikan yang akan membuahkan hasil yang baik kecuali pendidikan yang didasari oleh keimanan. Satu hal lagi yang saya temukan dari Dr. Wendi Zarman[5]  bahwa Salah satu kekeliruan besar dunia pendidikan sekarang ini adalah menyempitkan tujuan menuntut ilmu semata-mata demi mencari uang atau kerja.

Pencarian demi pencarian saya lakukan. Dalam tiga minggu, saya membaca tak kurang dari 30 eksemplar buku. Hingga ada sebuah puisi yang menjadi cemeti membuat saya sadar[6].

Hasrat untuk Berubah

 

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal

aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku

kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah.

Maka, cita-cita itupun aku persempit.

Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun, tampaknya, hasrat itupun tiada hasil.

Ketika usiaku semakin senja,

dengan semangatku yang masih tersisa,

kuputuskan untuk mengubah keluargaku.

Orang-orang yang paling dekat denganku.

Tapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.

Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,

Tiba-tiba kusadari:

Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,

dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,

mungkin aku dapat mengubah keluargaku.

Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka,

bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku.

Kemudian, siapa tahu,

aku bahkan dapat mengubah dunia

 

Saya mencoba berdiskusi dengan sejumlah teman yang saya anggap memiliki dedikasi yang baik dalam mendidik murid. Teman saya memberikan sebuah nasihat:

“Jika kau mengundurkan diri dari sekolah ini,” kata teman saya, “Sekolah ini telah kehilangan guru terbaik. Pada akhirnya, bangsa ini kehilangan salah seorang yang akan melahirkan murid-murid berkualitas untuk membangun peradaban bangsa.”

Saya tahu, itu hanya sebuah pujian tak berdasar. Itu belum mampu menjawab rentetan pertanyaan dan kegelisahan saya.

Selanjutnya, saya menyebar angket kepada lebih dari 200 siswa di tempat saya mengajar. Salah satu pertanyaan saya adalah siapa orang yang paling kamu percaya dan akan kamu patuhi semua nasihatnya? Hasilnya adalah 48% guru, 43% orang tua, dan sisanya adalah kakak, teman, atau pacar.

Saya tersenyum karena seorang guru memiliki kepercayaan yang lebih tinggi daripada orang tua. Saya perlu memulai segalanya dari diri saya, apapun yang terjadi di luar sana. Biarkan angka statistik 301 di atas tetap menjadi 300. Saya telah memutuskan bahwa dunia ini akan berubah dari tangan murid-murid. Hal pertama yang harus saya perbaiki adalah diri saya.

 

Kembali ke Kelas

Saya memulai pembelajaran dengan semangat baru. Saya seperti menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Hal pertama yang saya yakini adalah apa yang dikatakan oleh Reza Rifanto[7] bahwa pada dasarnya tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya guru yang tidak bisa mengajar. Saya mengajar bahasa Indonesia yang mungkin sarat dengan pelajaran hafalan dan mungkin membosankan.

Foto 1Foto 2

Saya menyulapnya. Teknologi membantu saya mewujudkan pembelajaran yang “sempurna”. Saya mengubah sebuah kelas menjadi bioskop. Saya tidak perlu banyak bicara ketika di depan kelas. Ketika saya mengintegrasikan teks, video, dan audio ke dalam satu slide murid-murid telah terhipnotis. Ada yang tertawa, menangis, dan bahkan merenungi.

Foto 1untitled

Kedua, saya menemukan semangat kaizen. Sebagaimana ditulis oleh Deporter[8] bahwa guru-guru yang hebat percaya akan kekuatan ‘kaizen’, konsep yang dianut banyak orang Jepang: perbaikan kecil, tampak tak berarti, berkesinambungan, dan tanpa henti. Saya memulainya dengan cara memberikan kesempatan kepada mereka untuk berekspresi.

foto 4

Murid-murid saya mencoba mengekspresikan berbagai karya ke dalam sebuah majalah dinding. Sebagian dari mereka, tulisannya, berhasil menembus koran lokal dan regional. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menampilkan hasil wawancara tokoh-tokoh inspiratif melalui video.

foto3

Teknologi memang sangat membantu kita. Namun terdapat sejumlah hal yang perlu kita cermati saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknologi. Guru harus melakukan persiapan yang lebih matang. Artinya, guru harus melakukan pengecekan lebih awal. Lima menit sebelum pembelajaran dimulai harus sudah dipersiapkan. Guru harus selalu menyimpan file cadangan baik di gawai, flashdisc, atau di tempat penyimpanan online semacam 4shared.com atau google drive, dsb. Guru harus selalu menyiapkan rencana B yaitu ketika terjadi listrik padam mendadak, komputer atau file rusak.

foto 5

            Ketiga, saya tidak akan pelit pujian. Liberman[9] menulis bahwa ada seorang guru di New Jersey yang mampu mengubah kelompok siswa yang sulit dikendalikan, membolos, dan mengacau. Guru yang mendapatkan penghargaan tahunan tersebut berbicara kepada mereka seolah-olah cerdas. Jika ada yang bertanya, ia akan mengatakan,”Itu pertanyaan yang bagus, kamu cerdas. “

foto 6

 

Keempat, tidak perlu menjadi seorang genius untuk mengetahui bahwa salah satu cara terbaik untuk memotivasi orang-orang adalah dengan menawarkan mereka kesempatan-kesempatan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain[10]. Saya hanya perlu memberikan kesempatan itu kepada murid-murid saya.

foto 7

Kesempatan itu bisa berupa banyak hal. Biarkan mereka menemukan sendiri solusi dari permasalahan. Beri kesempatan mereka untuk mempresentasikan gagasan mereka dengan cara mereka sendiri. Intinya, izinkan mereka untuk berkreasi dan bereksplorasi.

foto 8

Pembelajaran pun tidak selalu di dalam ruangan. Salah satunya adalah pembelajaran yang saya sebut Tiga di Dalam, Tiga di Luar. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut.

  1. Guru menyiapkan pembelajaran dengan berkelompok.
  2. Kelompok bisa dibentuk dengan cara berhitung 1,2,3,4,5,6 [atau bergantung jumlah kelas] dan mengelompokkan murid bernomor 1,2,3,4,5,6. Pembentukan kelompok ini bisa dengan teknik lainnya.
  3. Kelompok 1,2,3 berada di dalam kelas sementara kelompok 4,5,6 berada di luar. Upayakan guru menentukan tempat untuk ketiga kelompok yang berada di luar.
  4. Guru mengecek tugas masing-masing kelompok dengan cara berkeliling.
  5. Persiapkan presentasi tiap kelompok pada pertemuan berikutnya atau jika memungkinkan presentasi perwakilan apabila masih cukup waktu.

foto 9foto 10

Terakhir, kelima, doa menempati urutan teratas dari semua usaha yang bisa saya lakukan. Setiap kali kita memulai pembelajaran, seyogianya mengawalinya dengan doa “Semoga apa yang kita pelajari hari ini bermanfaat”. Begitu pula pada saat mengakhirinya. Tidak hanya itu, selepas sholatpun seyogianya kita juga mendoakan mereka. Sebab, kita tidak pernah tahu satu diantara mereka barangkali akan menjadi penerus bangsa sebagaimana kita harapkan.

 

Sebuah Musibah

Sangat menyenangkan melakukan pembelajaran dengan melibatkan teknologi. Namun, siapa sangka ACER ASPIRE ONE milik saya harus jatuh dari atas lemari. Komputer jinjing (laptop) manapun akan hancur LCD-nya. Sama halnya dengan milik saya.

20150517_000344

Saya cukup shock menghadapi musibah ini. Namun, saya yakin di balik semua musibah akan tersimpan hikmah. Show must go on, begitu kira-kira yang harus saya lakukan. Tanpa teknologi saya akhirnya menemukan sejumlah cara yang tidak kalah kreatif.

Saya memulainya dengan harapan murid-murid saya banyak membaca.

Sebab, Ray Bradbury pernah menyampaikan bahwa tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, bikin saja orang-orangnya berhenti membaca. Akhirnya saya berlangganan koran dan tiap kali ada artikel yang menarik saya kliping. Pada waktu-waktu tertentu, murid-murid, saya minta untuk membaca dan mempresentasikan di depan kelas.

“Saya dapat wawasan tentang wirausaha dari pelajaran bahasa Indonesia.” Kata salah seorang murid dari jurusan Jasa Boga setelah saya minta berkomentar di akhir pembelajaran.

“Tidak membosankan, saya senang, dan menarik sekali.” Kata yang lainnya.

foto 12

Saya juga menemukan sederet pembelajaran yang menyenangkan tanpa peralatan. Selanjutnya saya menyebutnya sebagai 51 Permainan Sederhana untuk Mengontrol Murid Anda tanpa Peralatan. Beberapa diantaranya adalah Lempar Takdir, Kata Berkait, STOP!, Tagar, Class Got Talent, Tunjuk Teman, dan 45 permainan sederhana lainnya.

Selain itu, sebagai guru, saya merasa bahwa murid-murid harus mengenal lokalitas mereka. Hal ini sebagai pengejawantahan dari menciptakan murid yang berpikir global namun berbudaya lokal. Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya mengunjungi tempat peninggalan bersejarah di sekitar sekolah.

untitled2

 

Menciptakan Generasi Emas

Setiap guru mesti yakin akan keberhasilan muridnya, melakukan eksplorasi pembelajaran, terus belajar, pantang menyerah, dan jangan lupa berdoa. Itulah barangkali apa yang diharapkan oleh Dr.M.sastrapratedja bisa kita wujudkan.

Soekarno pernah mengatakan, “Beri saya sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Kalau kita cermati lagi, siapa yang dimintai oleh Soekarno? Saya rasa adalah kita, para guru. Dimanapun diri kita: di pelosok desa, di perbatasan, di pegunungan, di kota, di sekolah yang maju, di sekolah yang hampir roboh….

Murid-murid kita akan menjadi pengguncang dunia. Itu semua harus dimulai dari sekarang. Kita akan memulainya dari sebuah ruang yang biasa kita sebut dengan kelas. Sedangkan kelas adalah sebuah ruang yang tidak hanya terbatas pada tembok saja. Itu bisa bermakna di sawah, di aula, di laboratorium, di pinggir sungai, di hutan, di lapangan, dan dimanapun Anda mengajar murid-murid Anda!

 

 

Referensi:

[1] Lihat Pendidikan Manusia Indonesia. Editor Tonny d. Widiastono. Penerbit Buku Kompas:Jakarta.2004.

[2] J.I.G.M. DROST, S.J. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. [Kanisius: Yogyakarta, 2008] halaman vi.

[3] Eric Jensen. Guru Super dan Super Teaching. [Jakarta: indeks, 2010] halaman 19

[4]Prof.Sa’ad Karim. Agar Anak tidak Durhaka. [Jakarta: Pustaka Al-kautsar,2006] Halaman 5

[5] Dr.Wendi Zarman. Inilah! Wasiat Nabi Bagi Para Penuntut Ilmu. [Yogyakarta:ruang kata, 2012] halaman 16

[6] Puisi tersebut saya catat dari sebuah buku yang saya lupa mencatat judul dan pengarangnya.

[7] Reza Rifanto. 3 Menit Membuat Anak Keranjingan Belajar. [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010] halaman 55

[8] Bobbi deporter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. Quantum Teaching:Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang Kelas. [Bandung: Kaifa, 2006] halaman 128

[9] David J. Liberman. Agar Siapa Saja Mau Berubah Untuk Anda.[ Jakarta: serambil ilmu semesta, 2008] Halaman 198-199

[10] Rhymer Rigby. 28 Busines Thinkers Who Changed The World. [Jakarta: Naura Books (Mizan Publika), 2012] Halaman 129.

 

 “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

guraru-324x324

Comments (9)

  1. perjuangan itu butuh pengorbanan pak seperti di bawah ini
    =====================================
    Sangat menyenangkan melakukan pembelajaran dengan melibatkan teknologi. Namun, siapa sangka ACER ASPIRE ONE milik saya harus jatuh dari atas lemari. Komputer jinjing (laptop) manapun akan hancur LCD-nya. Sama halnya dengan milik saya.

    20150517_000344

    Saya cukup shock menghadapi musibah ini. Namun, saya yakin di balik semua musibah akan tersimpan hikmah. Show must go on, begitu kira-kira yang harus saya lakukan. Tanpa teknologi saya akhirnya menemukan sejumlah cara yang tidak kalah kreatif.
    ====================================
    semoga dapat yang baru … tambah bagus acer one 10 heeeee
    kegiatannya lengkap bange … seru … seru ….

  2. Terima kasih saudara2 yang sudah komen, semoga kita digolongkan sebagai guru yang bisa memberikan pencerahan kepada murid serta ilmu yang kita ajarkan bermanfaat dunia akhirat. saya juga sudah vote balik bagi yang mencatumkan pranala pada komen ini. salam kenal, salam buat keluarga dan teman2 terdekat.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar