1

Mengenang Bu Is (0)

AfanZulkarnain March 3, 2021

Ada seorang guru yang sampai sekarang masih aku idolakan. Nama beliau adalah Bu Is. Beliau adalah guruku waktu SD. Beliau bukan hanya pintar, tapi juga bisa menyampaikan materi pelajaran dengan menyenangkan. Setiap detik di kelas adalah momen berharga yang tak pernah aku lewatkan.

Bu Is selalu menghadirkan hal-hal baru setiap harinya. Saat pelajaran geografi misalnya, kami diajak main monopoli. Permainan ini mengharuskan pesertanya untuk menggerakkan pion di kotak-kotak yang berada di sisi papan monopoli. Setiap kotak bergambar hal-hal yang khas dari suatu negara. Saat pion itu berada di kotak bergambar menara eifell, aku diberi kartu yang berisi informasi dari negara pemilik menara tersebut. Kemudian Bu Is memintaku untuk membacakan informasi itu di depan kelas. Beliau juga menambahkan informasi dengan gambar-gambar yang telah beliau persiapkan. Begitu seterusnya, sampai kami benar-benar paham mengenai negara-negara di Eropa.

Bu Is juga selalu ada saat kami membutuhkan bantuan. Kami pernah belajar bersama dan kesulitan dalam menjawab salah satu soal. Kami merasa buntu. Tak ada jawaban dari berbagai macam buku. Akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan langsung kepada Bu Is. Di rumahnya. Malam itu, kami berkunjung dan diajari secara langsung cara menyelesaikan soal tersebut. Tak hanya itu, beliau juga mengajak kami makan malam di rumahnya, bersama keluarga kecilnya.

Aku pernah mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolah. Aku kebagian di mapel bahasa Indonesia. Ketiga temanku di mapel, IPA, Matematika dan IPS berhasil melaju ke babak selanjutnya. Hanya aku yang gagal. Kegagalanku saat itu karena mood yang tidak bagus. Sebelum lomba, kami diminta memperkenalkan diri. Suaraku agak pelan dan kecil, kemudian salah satu panitia mengatakan hal yang tidak mengenakkan. Di depan banyak orang panitia tersebut mengkritikku dengan tajam. Ingin menangis rasanya. Menangis karena aku merasa dipermalukan di hadapan banyak orang. Akibatnya, semangatku anjlok. Aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang diujikan. Aku menceritakan hal itu kepada Bu Is setelah lomba selesai digelar. Beliau menyemangatiku. “Kamu mencoba berusaha keras saja, sudah membuat Bu Is senang dan bangga.”

Kalimat itu tidak akan pernah aku lupa.

Bu Is juga guru yang amat bijaksana. Saat ada diantara kami berkelahi, beliau tidak memarahi. Beliau hanya mengajak bicara dari hati ke hati. Kalimat yang beliau ucapkan sangat menyentuh perasaan, membuat kami menyesal, dan akhirnya saling memaafkan.

Aku pernah muntah di kelas. Reflek aku mengeluarkan segala yang ada di perut saat pelajaran berlangsung. Aku sampai merasa tak enak dengan teman-teman yang bangkunya terkena cipratan muntahanku. Tapi mereka sangat baik, mereka tidak marah maupun jijik. Mereka membersihkannya. Aku dibawa ke uks. Bu Is memeriksa suhu tubuhku. Panas sekali. Seketika itu juga aku diantar beliau ke puskesmas terdekat. Kami menaiki becak. Aku terkena gejala typhus. Setelah dari puskesmas, beliau mengantarku pulang. Aku diminta istirahat hingga sembuh. Itulah salah satu momen yang paling aku ingat. Momen yang membuatku sangat mengidolakan beliau. Alasannya sederhana, beliau sangat perhatian kepada siswanya.

Beberapa tahun berlalu.

Aku menjadi MC acara sarapan sehat bersama salah satu produk mie instant di sebuah sekolah dasar. Tanpa aku sadari, aku bertemu Bu Is di sana. Rupanya Bu Is sudah menjadi kepala sekolah. Beliau sangat terkejut melihatku. Demikian pula dengan aku. Setelah acara selesai aku menyempatkan waktu untuk berbeincang dengan beliau, sambil berpamitan bahwa aku akan merantau ke luar kota karena tugas mengajar. Beliau memberi pesan :

“Guru bukan hanya mengajar, tapi menjadi suri tauladan. Jadilah panutan untuk murid-muridmu.”

Pesan dari Bu Is sangat terpatri di ingatan. Aku ingin menjadi guru seperti beliau. Guru yang sangat perhatian kepada siswa-siswanya. Sehat selalu, Bu Is.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar