6

Mengenal Riba (0)

@ahysholih January 8, 2021

Ada yang beranggapan riba ada pada bunga bank atau pinjaman baik dalam bentuk simpanan maupun kredit. Sebenarnya apa sebenarnya Riba. Yuk mengenalnya lebih dekat.

Riba & Imbalan Akhirat Betulkah Kekal di Neraka ?

ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ¤
(سورة البقرة: 275).
Terjemahnya:
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari praktik ribawi), maka baginya apa yang telah diambil (sebelum datangnya larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allâh. Orang yang kembali (mengambil riba), maka mereka adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya” (al-Baqarah: 275).
——🌾
Penjelasan:
1) Ayat tersebut berbicara tentang berita gembira bagi mantan aktivis riba yang bertaubat dan ancaman bagi para aktivis riba yang tetap bertahan setelah datangnya “mau’izah” (larangan dari YM Kuasa).
2) Mereka yang bertaubat, maka Allah putihkan semua hasil-hasil riba yang pernah mereka dapatkan sebelum datangnya informasi tentang larangan Allah kepadanya.
3) Mereka yang enggang untuk bertaubat sementara informasi tentang keharaman riba sudah datang kepadanya, maka inilah yang diancam oleh Allah kelak menjadi penghuni neraka yang bakal kekal di dalamnya, “na’uzu Billah”.
4) Interpretasi kata “khulud” diperselisihkan oleh ulama teologi (mutakallimin):
a) Ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat tersebut hanyalah gambaran waktu yang amat lama sehingga manusia pada mengira bahwa itu masa yang tidak ada akhirnya. Itulah makna kata “khulud” yang tidak sama dengan kata “baqa’ “sehingga kata “khulud” tidak pernah terkonotasi pada sifat Allah Swt. karena berbeda dengan kata “baqaa’.”
b) Ada juga yang tetap memaknai kata “khulud” sesuai dengan arti literalnya yakni kekal dalam arti berawal tapi tak berakhir sama dengan “baqaa’ “.
5) Dengan perselisihan tersebut, maka kata “kekal” di atas bermakna ganda. Keduanya berpeluang untuk menjadi kenyataan di hari kemudian.
و الله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
1) Informasi tentang larangan riba sudah sampai kepada kita semua, maka tidak ada pilihan lain bagi hamba yang beriman kepada al-Qur’an kecuali harus mengisolasi diri mereka dari segala jaringan mu’amalah yang terindikasi ada praktik ribawi.
2) Hindari melakukan sesuatu yang berupaya untuk mencari pembenaran (justifikasi) sehingga indikator ribawi dapat ditutupi sementara Allah amat mengetahui maksud culas dan pikiran licik dari hamba yang bersangkutan.
3) Kendatipun ulama teologi (mutakallimin) berselisih pendapat tentang makna “al-khulud” dalam memaknai kalimat “khaliduuna fiiha”. Namun, makna yang tak dapat dihindari adalah azab Allah di dalam neraka, pasti menanti semua aktivis ribawi yang enggan untuk bertaubat. Olehnya itu, segeralah bertaubat, tunggu apa lagi? Ajakan dan ancaman sudah amat cukup dari Yang Maha Kuasa.

Kemusnahan karena Riba

Bismillah …,

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ ﴿البقرة : ۲۷۶﴾
Terjemahnya:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa” (Q.S. al-Baqarah: 274).
——🌾
Penjelasan:
1) Ayat tersebut berbicara tentang kemusnahan yang diakibatkan oleh praktik mu’amalah ribawi.
2) Kemusnahan riba yang dipahami oleh ulama tafsir adalah keberkahan harta hasil riba dicabut oleh Allah Swt. lalu tergantikan dengan cobaan dan petaka sebagai bentuk kemurkaan Ilahi.
3) Kesuburan sedekah dipahami bahwa harta yang dikeluarkan sedekahnya, maka mudah ditambahkan oleh Allah. Ditambahkan hartanya dan dilipatgandakan pahalanya yang punya harta sebagai bentuk keredahan Allah.
4) Perbandingan antara redah Allah dengan murka Allah adalah perbedaan antara jarak Timur dengan Barat. Itulah komparasi yang ditunjukkan untuk dipikirkan.
5) Siapa yang meninggalkan riba lalu rajin bersedekah, maka dia hijrah dari murka Allah menuju redah Allah Swt.
6) Siapa yang enggang meninggalkan riba, pada hal sudah datang “mau’izah” (informasi dari Tuhannya tentang larangan riba), maka sungguh dia bertahan pada murka Allah.
7) Inilah golongan yang dijanjikan kehancuran, kemusnahan dan kebinasaan oleh Allah Swt., cepat atau lambat, di dunia atau di Akhirat, boleh jadi kedua-duanya, “na’uzu Billah.”
و الله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Tak ada manusia yang mendambakan kehancuran. Semua manusia mendambakan keselamatan dan keberkahan. Olehnya itu, tinggalkanlah riba, lancarkanlah sedekah niscaya keberkahan hidup kelak akan didapatkan dan diselamatkan oleh Allah dari petaka dunia dan Akhirat.
والله المستعان وعليه التكلان
—–🌹
Riba datangkan kehancuran,
kehancuran hingga di kuburan.
Dari kuburan berlanjut ke akhirat,
di Akhirat menjadi hamba terlaknat.

—— 💥Macam-macam Riba

  1. Riba Fadhl (Riba karena Ada Selisih)

Bismillah …,

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْناً بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْناً بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ, فَمَنْ زَادَ أَوْ اِسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا ” (رَوَاهُ مُسْلِم).
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, emas bisa ditukar dengan emas yang sama timbangannya, sama sebanding, dan perak dengan perak yang sama timbangannya, sama sebanding. Barang siapa menambah atau meminta tambahan, maka itulah riba” (H.R. Muslim).
——-🌾
Penjelasan:
1) Hadis di atas riwayatnya “shahih” menurut Imam Muslim.
2) Hadis tersebut menjelaskan tentang praktik riba Fadhl, yakni riba yang terjadi karena adanya tambahan yang dipersyaratkan dalam tukar menukar barang yang sejenis.
3) Jual-beli ini disebut juga “barter”, yakni pertukaran barang dengan barang yang menjadi kesepakatan kedua belah pihak yang bertransaksi (al-muta’aqidain). Namun, tidaklah semua praktik seperti ini terindikasi riba.
4) Hal yang patut diwaspadai dalam transaksi model ini adalah perbedaan kualitas barang yang sejenis dan tambahan kuantitas barang yang dipersyaratkan.
5) Dengan demikian, indikator riba fadhl dapat dipahami sebagai berikut:
a) pertukaran barang dengan barang, bukan dengan alat transaksi seperti uang tunai;
b) barang yang dimaksud adalah barang yang sejenis seperti emas dengan emas, perak dengan perak, garam dengan garam, beras dengan beras dan lain-lain.
c) terdapat perbedaan kualitas barang yang dipersyaratkan dari jenis barang yang sama dipertukarkan, seperti beras yang bermerek ditukar dengan beras dolog, maka terdapat selisih kualitas. Selisih itulah yang riba.
d) terdapat perbedaan kuantitas barang yang dipersyaratkan dari jenis barang yang sama dipertukarkan, seperti barang yang sama kualitasnya ditukar dengan takaran yang berbeda, 1 liter garam ditukar dengan 1,5 liter garam, berarti ada selisih volume. Selisih itulah yang riba.
و الله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Pahamilah dan waspadailah semua jenis riba! Jangan sampai terjerat dalam konstalasi mu’amalah yang terlarang ini. Bagi mereka yang sudah terjerat, maka hendaklah cepat sadar dan segerah kembali ke jalan Allah!
والله المستعان وعليه التكلان
—–🌹
Ada tambahan,
ada persyaratan.
Selisih kualitas,
selisih kuantitas.
Itulah riba yang haram,
mu’amalah yang dikecam.


——- 💥2. Riba Yad

Bismillah …,

أنَّ عبادةَ بنَ الصَّامتِ الأنصاريَّ النَّقيبَ ، صاحِبَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: غزا معَ معاويةَ أرضَ الرُّومِ ، فنظرَ إلى النَّاسِ وَهُم يَتبايعونَ كِسَرَ الذَّهبِ بالدَّنانيرِ ، وَكِسرَ الفضَّةِ بالدَّراهمِ ، فقالَ: يا أيُّها النَّاسُ ، إنَّكم تأكُلونَ الرِّبا ، سَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ: لا تَبتاعوا الذَّهبَ بالذَّهبِ ، إلَّا مِثلًا بمِثلٍ ، لا زيادةَ بينَهُما ولا نَظرةً …” (رواه ابن ماجه).
Artinya:
“Bahwasanya Ubadah ibn al-Shamit al-Ansariy al-Naqib, sahabat Rasulullah Saw. Beliau pernah bersama Mu’awiyah berperang di negeri Romawi. Beliau melihat orang-orang pada menjual pecahan emas dengan dinar, pecahan perak dengan dirham, maka beliau mengatakan, “wahai sekalian manusia, sungguh kalian memakan riba.” Aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “janganlah kalian membeli emas dengan emas kecuali sama seimbang, tidak ada tambahan di antara keduanya dan tidak ada penundaan …” (H.R. Ibnu Majah).
——-🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “shahih” menurut Imam al-Albaniy.
2) Dari hadis di atas, ulama memahami kata “nazrah” yang diartikan penundaan, kebalikan dari pembayaran atau pertukaran secara tunai. Itulah yang dimaksudkan dengan “riba yad”. Riba jenis ini dipopulerkan oleh Imam al-Syafi’iy.
3) “Riba yad” adalah riba yang terjadi karena penundaan serah terima kedua barang yang dipertukarkan atau penundaan terhadap penerimaan salah satunya.
4) “Riba yad” ini dapat dicontohkan, “seorang yang menjual Rupiah Indonesia dengan Reyal Saudi Arabiyah. Sebelum kedua jenis uang itu diserahkan ataukah salah satu dari jenis uang itu belum diserahkan saat usai disepakati lantas kedua belah pihak yang bertransaksi itu berpisah, maka praktik transaksi ini positif terinveksi virus mu’amalah.” Demikianlah “riba yad” karena adanya kemungkinan terjadi perubahan nilai inflasi pasca transaksi.
5) Di antara hikmah pelarangan model transaksi ini adalah untuk menghindari kemungkinan terjadinya perubahan harga pasaran dari barang yang sudah disepakati sebelum masing-masing atau salah satunya belum menyerahkan barangnya. Kalau itu terjadi, maka pasti salah satu dari kedua belah pihak yang bertransaksi diuntungkan lalu yang lain dirugikan.
و الله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Hukum Islam amat berhati-hati, kemungkinan kezaliman dalam bermu’amah, sesederhana bagaimanapun tetap terantisivasi. Patuhilah Hukum Islam niscaya engkau akan terjaga dari kezaliman, insya Allah.


——- 💥3. Riba Nasi’ah

Bismillah …,

عن أُسَامَةُ بنُ زَيْدٍ، أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ قالَ: الرِّبَا في النَّسِيئَةِ ” (رواه مسلم).
Artinya:
Dari Usamah bin Zaid, “bahwasanya nabi Saw. telah bersabda, “riba itu ada pada nasi’ah” (H.R. Muslim).
——-🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut riwayatnya “shahih” menurut Imam Muslim.
2) “Nasi’ah” artinya penangguhan, riba nasi’ah terjadi karena pembayaran pihak yang berutang ditangguhkan sehingga pihak yang berpiutang menetapkan syarat tambahan pembayaran dari pokok utang (jumlah yang dipinjam) sebagai denda atas keterlambatan pembayaran.
3) Pada masa Jahiliyah, praktik seperti ini marak terjadi. Seseorang meminjamkan barangnya, namun ketika pembayarannya jatuh tempo, maka pihak yang memberi pinjaman menetapkan opsi. Apakah dibayar tepat waktu ataukah ditangguhkan dengan pembayaran lebih dari yang dipinjam? Ketika opsi yang kedua itu terjadi, maka tambahan pembayaran itulah yang menjadi virus mu’amalah alias “riba nasi’ah”.
4) Itulah sebabnya sehingga “riba nasi’ah” ini kerap kali juga diistilahkan dengan “riba Jahiliah”. Kemudian di abad modern ini, kerap kali juga masih dijumpai praktik mua’amlah yang terinfeksi oleh virus Jahiliah. Besar kemungkinan karena umat ini masih kabur pemahamannya tentang larangan ini.
والله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Kalau masyarakat Jahiliah dahulu terinfeksi oleh virus mu’amalah ini, maka itu wajar karena larangan belum sampai pada mereka. Akan tetapi, kalau praktik itu terjadi pada masa kini, maka itulah wajah kejahiliaan abad modern, “na’uzu Billah.” Olehnya itu, waspadailah.
—–🌹
Riba nasi’ah,
riba Jahiliah.
Kini sudah era ilmiah,
era mu’amalah islamiyah.

——- 💥4. Contoh Lain Riba Fadhl dan Riba Yad.

Bismillah …,

َوَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ اَلصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، ” اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ, وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ, وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ, وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ, وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ, وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ, مِثْلًا بِمِثْلٍ, سَوَاءً بِسَوَاءٍ, يَدًا بِيَدٍ, فَإِذَا اِخْتَلَفَتْ هَذِهِ اَلْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ ” (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Artinya:
Dari Ubadah bin al-Samith r.a. berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda, “Emas boleh dijual dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal dengan semisal, dalam jumlah yang sama dan tunai, tangan dengan tangan. Dan jika jenis-jenis ini berbeda, maka juallah sekehendak hati kalian selagi dibayar tunai” (H.R. Muslim).
——-🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut “shahih” menurut Imam Muslim.
2) Ada 6 jenis barang yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. ketika ditukar atau diperjualbelikan dengan sejenisnya, maka mesti dibayar tunai dan takarannya mesti harus sama. Keenam barang tersebut ialah:
a) Emas dengan emas,
b) Perkak dengan perak,
c) gandum dengan gandum,
d) jelai dengan jelai,
e) kurma dengan kurma, dan
f) garam dengan garam.
3) Ketika 6 jenis barang di atas dipertukarkan dengan sejenisnya namun tidak secara tunai dan atau kualitas barang berbeda pada hal sejenis, maka di situlah terindikasi unsur ribawi.
4) Ketika kita menggunakan qiyas (analogi), maka 6 jenis barang di atas dapat dikontekstualisasikan dalam keseharian umat ini di berbagai negara, sebagai berikut:
a) emas dan perak dimaknai sebagai alat transaksi atau uang tunai;
b) gandum dan jelai dimaknai sebagai makanan pokok;
c) kurma dimaknai buah-buahan; dan
d) garam dimaknai bumbu masakan yang alami.
5) Ketika 4 jenis barang di atas terjadi pertukaran, maka secara mutlak syarat di atas mesti terpenuhi untuk terhindar dari unsur ribawi, yakni:
a) mesti diserahkan tunai, dan
b) kualitas barang mesti sama/seimbang.
6) Ketika barang itu sejenis, kualitas sama, namun dipertukarkan tidak secara tunai, maka itulah “riba yad”. Sebaliknya, barang itu sejenis dipertukarkan secara tunai, namun kualitas berbeda, maka itulah “riba fadhl”.
7) Contoh riba yad, beras putih ditukar dengan beras hitam, namun beras hitamnya diserahkan kemudian, yang diserahkan saat akad baru beras putih, maka penyerahan beras hitam yang tertunda itulah “riba yad.”
8) Contoh riba fadhl, 1 liter beras bagus ditukar dengan 2 liter beras yang kurang bagus. Selisih takaran dari perbedaan kualitas itulah yang “riba fadhl.
——-✍️
Pesan Moral:
Kontekstualisasi makna hadis terasa lebih akrab pada pemahaman umat akan substansi yang dikehendaki oleh Produser hukum (Allah & Rasul-Nya). Selain itu, kehati-hatian untuk menghindari unsur-unsur ribawi lebih dapat terjaga sekecil dan setipis apapun, insya Allah.
Olehnya itu, taatilah semua hal yang diatur oleh ulama kendati itu hanya berdasar pada makna konteks dalil. Namun, demi terhindarnya umat ini dari kemungkinan akad yang terkutuk, maka patuhilah!
والله المستعان وعليه التكلان
—–🌹
Ada akad yang benar,
ada juga akad yang salah.
Jual-beli, akad yang benar,
sedang “riba,” akad yang salah.

—— 💥6. Riba Duyun

Bismillah …,

عَنِ الثَّوْرِيِّ ، عَنْ عِيسَى بْنِ الْمُغِيرَةِ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ : قَالَ عُمَرُ ،” تَرَكْنَا تِسْعَةَ أَعْشَارِ الْحَلَالِ مَخَافَةَ الرِّبَا ” (رواه عَبْدُ الرَّزَّاقِ: 14199).
Artinya:
Dari al-Tsauri dari ‘Isa bin al-Mugirah dari al-Syu’biy telah berkata, “Umar telah berkata, “kami telah meninggalkan 9/10 (90%) yang halal lantaran takut pada perkara riba” (H.R. Abd al-Razzaq: 14199).
——-🌾
Penjelasan:
1) Atsar tersebut dijumpai dalam kitab “al-Mushannaf” karya Imam Abdu al-Razzaq dan juga terdapat beberapa riwayat pada kitab yang lain dengan redaksi yang tidak persis sama tanpa disebutkan kualitas riwayatnya.
2) Ulama membagi riba pada klasifikasi yang lain secara global, yakni riba duyun (riba pada kredit) dan riba buyu’ (riba pada jual-beli).
3) Riba duyun ini adalah nama lain dari riba nasi’ah atau riba Jahiliah yang telah diulas pada Lentera sebelumnya. Praktik riba duyun ini biasanya terjadi pada salah satu dari 3 model akad berikut:
a) Pemberi pinjaman (daa’in) menetapkan syarat pada akadnya bahwa pinjaman dikembalikan dengan tambahan pembayaran. Contoh, ditarik pinjaman Rp.1 jt., pembayaran ditetapkan pada akad: Rp.1.200.000,- dalam jangka waktu tertentu. Ketika sipenerima pinjaman (madiin) mengembalikan sesuai akad, maka tambahan pembayaran yang Rp.200 rb, itulah “riba duyun”.
b) Penjual barang tidak tunai menetapkan syarat, bila terlambat pembayarannya, maka mesti ada tambahan. Contoh, harga barang Rp.50 rb, dibayar angsur, setiap hari Rp.10 rb selama 5 hr. Bila dalam sehari terlambat disetor Rp.10 rb, maka jatuh denda Rp.1000. Denda itulah yang disebut “riba duyun”.
c) Pihak pembeli ansur minta waktu penundaan pembayaran dengan mengajukan janji tambahan pembayaran. Contoh, harga barang Rp.50 rb, dibayar dalam tempo 5 hari, tapi karena terdesak oleh waktu sementara pembayaran belum siap, maka sipembeli minta tempo pembayaran diundur beberapa hari dengan tambahan pembayaran 10 rb per hari, misalnya. Tambahan itulah yang disebut “riba duyun”.
4) Ada pertanyaan kritis sebagai berikut:
a) Apakah riba itu terjadi pada akadnya ataukah terjadi pada praktiknya?
b) Jika seseorang ikhlas sepenuh hati melebihkan pembayaran sesuai akad tanpa merasa terpaksa, maka apakah sudah terbebas dari praktik ribawi?

والله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Banyak orang yang merasa membantu tapi justru membantai. Demikianlah yang dilakukan oleh para aktivis ribawi. Sungguh tampilannya lezat menggiurkan tapi rasanya lebih pahit dari empedu. Olehnya itu, waspadalah bermu’amalah dengan para aktivis ribawi!

—–🌹
Biasakan menolong,
bukan menodong.
Membantu itu beradab,
membantai itu biadab.
Mari bermu’amalah nabawi,
hindari mu’amalah ribawi.

Riba Terjadi pada Akad atau pada Praktik?

Bismillah …,

روي عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه قال: كنا نترك سبعين بابا من الحلال مخافة باب واحد من الحرام،
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Bakr al-Shiddiq r.a., beliau pernah berkata, “kami meninggalkan 70 pintu dari perkara yang halal karena takut pada 1 pintu dari perkara yang haram.”
——-🌾
Penjelasan:
1) Atsar tersebut masyhur di kalangan ahlu al-ilmi. Ungkapan yang sama juga diriwayatkan dari beberapa sahabat termasuk Umar bin al-Khattab. Hanya saja, semua riwayat tentang atsar di atas belum ditemukan oleh penulis jalur sanad yang jelas.
2) Oleh karena singkron dengan dalil yang lebih akurat, maka atsar tersebut tetap boleh dijadikan pijakan pendukung untuk mempertegas himbauan kepada umat akan pentingnya ekstra hati-hati pada perkara riba.
3) Menjawab pertanyaan di atas, bahwasanya riba itu terkadang terjadi pada 3 hal berikut:
a) akad saja, praktik tidak,
b) praktik saja, akad tidak, dan
c) akad dan praktik.
4) Berikut contoh masing-masing:
a) Pemberi pinjaman (da’in) sepakat dengan penerima pinjaman (madiin) untuk memberi tambahan pembayaran 10% perhari dari total pinjaman bila pembayaran jatuh tempo. Dalam perjalanan mu’amalahnya, ternyata pihak “madiin” berhasil membayar tepat waktu. Inilah contoh riba pada akadnya, tidak riba pada praktiknya.
b) “Da’in dan madiin” tidak menetapkan ada tambahan pembayaran pada akadnya, hanya saja karena pihak “madiin” terdesak oleh waktu sementara pembayaran belum siap, maka pihak “madiin” berjanji untuk membayar lebih dari total pinjaman selagi diberi tempo. Inilah contoh riba pada praktiknya, tidak riba pada akadnya.
c) “Da’in dan madiin” sepakat ada tambahan bila pembayaran jatuh tempo, 10% setiap hari dari total pinjaman, misalnya. Dalam perjalanan mu’amalahnya, ternyata “madiin” tidak bisa melunasi tepat waktu, maka denda perhari terpaksa dipenuhi sesuai akad. Inilah contoh riba pada akadnya dan riba pada praktiknya.
5) Semua contoh di atas dinyatakan terinfeksi oleh virus mu’amalah, positif ribawi. Olehnya itu, ketiganya harus dihindari.
والله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Mengenal riba tidak cukup hanya pada praktiknya saja sehingga ketika tidak didenda, maka merasa tidak terjerat oleh riba, tapi lihatlah akadnya! Demikian sebaliknya, merasa tidak terjerat oleh riba karena tidak dicantumkan pada akad, tapi lihatlah praktinya.
Olehnya itu, waspadailah akad dan praktiknya dan hindarilah terjebak pada salah satunya apatah lagi keduanya.
—–🌹
Akad riba, praktik tidak,
praktik riba, akad tidak.
Keduanya amat bahaya,
umat semuanya percaya.


——- 💥(Mewaspadai Semua Jenis Riba)

Bismillah …,

قد كان عبد الله بن المبارك وغيره يقول: من اتقى من تسعة وتسعين شيئا ولم يتق من شيء واحد لم يكن من المتقين، ومن تاب من تسعة وتسعين ذنبا ولم يتب من ذنب واحد لم يكن من التوابين، ومن زهد في تسعة وتسعين شيئا ولم يزهد في شيء واحد فليس من الزاهدين …”
Artinya:
“Sungguh Abdullah bin al-Mubarak dan selainnya telah berkata, “barang siapa yang menjaga dirinya dari 99 (dosa) lalu dia tidak menjaga dirinya dari 1 (dosa), maka belumlah dia termasuk orang-orang yang bertakwa. Barang siapa yang bertaubat dari 99 dosa, lalu dia belum bertaubat dari 1 dosa, maka belumlah dia termasuk orang-orang yang bertaubat. Barang siapa yang zuhud pada 99 barang dunia lalu dia tidak zuhud pada 1 barang dunia yang lain, maka belumlah dia termasuk orang-orang zuhud.”
——-🌾
Penjelasan:
1) Ungkapan tersebut adalah atsar yang belum jelas sanadnya. Namun, bisa saja dijadikan nasihat karena singkron dengan makna substansi dari al-Qur’an, hadis dan juga pandangan pada umumnya ulama.
2) Berangkat dari ungkapan di atas, andai seorang hamba berhasil meninggalkan semua dosa lalu masih terseret pada mu’amalah ribawi, maka sungguh hamba tersebut dianggap belum bertakwa, belum bertaubat, dan belum zuhud.
3) Bertakwa, bertaubat, dan zuhud secara total, memang bukanlah pekerjaan mudah. Hampir tidak ada manusia selain Rasulullah yang mampu memenuhi kriteria di atas. Hanya saja tetap dipahami bahwa kemampuan untuk melakukan semua yang terbaik, meninggalkan semua jenis dosa, dan meninggalkan semua jenis rayuan dunia secara total bukanlah pekerjaan ringan yang mudah diupayakan.
4) Olehnya itu, penulis memaknai bahwa ungkapan tersebut hanyalah sebatas motivasi untuk maksimalisasi kemampuan memenuhi 3 predikat di atas secara total, yakni: al-muttaqin, al-tawwabin, dan al-Zahidin. Sampai di mana kemampuannya, itu terpulang pada kesungguhan setiap hamba.
5) Muatan inti dari atsar di atas adalah renungan untuk hamba-hamba Allah yang meniti jalan menuju “tazkiyatun-nafs” (pensucian diri) dengan meninggalkan semua jenis larangan Ilahi termasuk praktik-praktik ribawi dalam bermu’amalah yang amat tipis indikasinya namun amat dahsyat imbasnya.
والله تعالى أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Setelah kita mengenal jenis dan macam-macam riba, maka tidak dibenarkan untuk memilah lalu melakukan sebagian sekalipun sudah meninggalkan sebagian yang lain dengan dalih “tadrij” (bertahap). Bertahap dalam melaksanakan perintah itu boleh ketika tidak sanggup secara serentak. Namun, bertahap dalam meninggalkan larangan tidak boleh apatah lagi dengan niat “talazzuz” (menikmati sebagian larangan syar’iy).
والله المستعان وعليه التكلان
—–🌹
Raihlah predikat muttaqin,
jadilah sebagian dari tawwabin.
Hindarilah komunitas ribawiyyin,
semoga termasuk kelompok zahiddin


——- 💥
Di Antara Larangan Jual-Beli
——-🌾

Bismillah …,
عن عبدالله بن عمرو
نهى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عن سلفٍ وبيعٍ، وعن شرطين في بيعٍ واحدٍ، وعن بيعِ ما ليس عندَك، وعن ربحِ ما لم يضمنْ” ( أخرجه النسائي: 3641 وابن ماجه: 2188 وأحمد : 6918).
Artinya:
Dari Abdullah bin Amru, “Rasulullah Saw. melarang (digabungkan) kredit dengan jual beli, (menetapkan) 2 syarat dalam 1 jual beli, menjual barang yang belum dimiliki, dan keuntungan yang tidak menaggung resiko” (H.Dk al-Nasa’iy: 3641, Ibnu Majah: 2188, Ahmad: 6918).
——–🌾
Penjelasan:
1) Hadis tersebut “shahih” menurut Imam al-Nasa’iy dan “hasan-shahih” menurut Imam al-Albaniy.
2) Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ada 4 jenis transaksi yang dilarang, yakni:
a) menggabungkan 2 transaksi pada 1 akad, misalnya jual-beli paralel dengan kredit;
b) menetapkan 2 jenis syarat akad pada satu jual-beli untuk barang yang sama;
c) menjual barang yang belum ada di tangan (belum dimiliki/baru diorder); dan
d) keuntungan yang didapatkan dari kerja sama (syirkah) yang tidak menaggung resiko.
3) Ke-4 jenis transaksi tersebut untuk sementara dapat mewakili beberapa jenis yang lain yang kelak akan diulas secara bertahap.
والله أعلم بالصواب
——-✍️
Pesan Moral:
Ketahuilah, pahamilah dan hindarilah setiap larangan Allah dan rasul-Nya dalam bermu’amalah! Niscaya pintu keberkahan akan terbuka dan pintu kemurkaan akan tertutup.
—–🌹
Ada perintah Allah,
ada juga larangan-Nya.
Taatilah perintah Allah!
hindarilah larangannya.

Ditulis di Tonronge sebagai kajian online “LENTERA” oleh Ustadz Muh. Aydi Syam via WAG telah mengalami penyuntingan tanpa mengurangi maksud penerbitan tulisan.

SALAM SILATURAHIM



Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar